Probolinggo (WartaBromo.com) – Rata-rata lama menginap tamu hotel di Kabupaten Probolinggo masih berkisar satu hari.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, rata-rata lama menginap pada 2024 mencapai 1,01 hari, lebih rendah dibandingkan 1,03 hari pada 2023. Sementara itu, pada Agustus 2026, durasi menginap tercatat 1,00 hari.
Data tersebut menjadi catatan bagi pengembangan pariwisata Kabupaten Probolinggo yang memiliki kawasan wisata unggulan, termasuk Gunung Bromo.
Tantangannya bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga mendorong mereka tinggal lebih lama agar manfaat ekonomi pariwisata bisa dirasakan lebih luas.
Dalam Buklet Statistik Pariwisata Kabupaten Probolinggo 2024, BPS mencatat rata-rata lama menginap tamu nusantara dan asing pada 2023 sebesar 1,03 hari. Angka itu turun menjadi 1,01 hari pada 2024. Pada 2024, rata-rata lama menginap tamu nusantara tercatat 1,01 hari, sedangkan tamu asing satu hari.
Data bulanan pada 2026 juga menunjukkan durasi menginap yang relatif singkat. BPS mencatat rata-rata lama menginap 1,00 hari pada Januari dan Februari. Angka itu naik menjadi 1,09 hari pada Juni, kemudian turun menjadi 1,02 hari pada Juli dan kembali menjadi 1,00 hari pada Agustus.
Meski demikian, data tahunan dan bulanan tersebut perlu dibedakan. Angka Agustus 2026 belum bisa digunakan untuk menyimpulkan rata-rata lama menginap sepanjang tahun akan lebih rendah daripada 2024.
Selain lama menginap, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel juga menjadi indikator untuk melihat perkembangan usaha akomodasi. Pada Agustus 2026, TPK Kabupaten Probolinggo tercatat 18,63 persen, turun 2,48 poin dibandingkan Juli yang mencapai 21,11 persen.
Namun, secara tahunan TPK Agustus 2026 masih lebih tinggi dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 16,11 persen. Kenaikannya mencapai 2,52 poin.
Sementara itu, rata-rata TPK hotel di Jawa Timur pada Agustus 2026 mencapai 48,4 persen. Angka tersebut menunjukkan tingkat keterisian kamar di Kabupaten Probolinggo masih berada jauh di bawah rata-rata provinsi.
Pada Agustus 2026, komposisi tamu hotel di Kabupaten Probolinggo terdiri atas 51,30 persen tamu asing dan 48,70 persen tamu nusantara. Jumlah manfaat kamar terjual tercatat sebanyak 13.116 kamar.
Angka-angka tersebut menggambarkan bahwa peningkatan hunian kamar dan perpanjangan masa tinggal merupakan dua persoalan berbeda. Tingkat hunian bisa meningkat tanpa diikuti kenaikan durasi menginap setiap tamu.
Rata-rata menginap sekitar satu hari belum cukup untuk menyimpulkan wisatawan hanya singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Untuk memastikan pola tersebut, diperlukan data tambahan mengenai tujuan perjalanan, lokasi menginap, serta destinasi yang dikunjungi wisatawan.
Meski begitu, pengembangan paket wisata yang menghubungkan Bromo dengan kuliner lokal, wisata alam lain, dan pengalaman budaya dapat menjadi salah satu upaya memperpanjang kunjungan.
Pemerintah daerah dan pelaku usaha juga perlu memperhatikan akses transportasi, promosi, serta ketersediaan aktivitas wisata yang dapat dinikmati lebih dari satu hari.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan pariwisata tidak cukup hanya dilihat dari jumlah kunjungan. Lama tinggal, tingkat hunian akomodasi, dan belanja wisatawan juga penting diperhatikan agar aktivitas pariwisata memberi dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Kabupaten Probolinggo. (fat/saw)




















