Demo Mahasiswa Palsu, Negeri Cak Manap Makin Gaduh

16

“Ya boleh. Tapi harus tepat sasaran dan bukan atas nama dendam politis. Demo yang tepat itu misalnya COD molotov ke rumah-rumah koruptor. Open house se open-opennya seperti di rumah mantan menkeu dulu. Buat list dulu rumah siapa saja yang layak di assalamu alaikumi. Kalau perlu pakai hukum rimba ala copet. Kasih salam olah raga sampai namanya diumunkan di masjid. Kalau memang demonya seperti itu, saya siap bikin air suwuk massal untuk para pendemo,”

Oleh : Abdur rozaq

Mahmud Wicaksono geleng-geleng kepala melihat video viral di Tiktok. Ada demo lagi di bundaran. Mahmud Wicaksono lalu searching internet lebih jauh. Ternyata ibukota negara Cak Manap diguncang demonstrasi lagi. Temanya Indonesia Sadar. Lalu besoknya, aparat mengadakan acara deklarasi Sumpah Pemuda, yang akhirnya videonya viral kalau sejumlah peserta deklarasi Sumpah Pemuda itu bukan mahasiwa tapi ada yang katanya dibayar.

“Anak-anak itu kok tak ada lelahnya ya, dema-demo? Apa mau meniru di Prancis? Negara Cak Manap genting begini, kok ya dema-demo terus? Apa investor tidak semakin lari? Apa MSCI tidak semakin punya alasan untuk menjelek-jelekkan rangking ekonomi negara Cak Manap? Nanti kalo kepalanya benjol kena lempar batu temannya sendiri, teriak-teriak ke PBB. Pelanggaran HAM katanya,” gumam Mahmud Wicaksono.

“Berita apa lagi, mas?” Tanya Cak Paijo LSM.

“Berita mahasiswa deklarasi, eh demo Sumpah Pemuda,” jawab Mahmud Wicaksono.

“Lha ya cak, Sumpah Pemuda kok diperingati dengan demonstrasi. Sejarahnya kan penyatuan visi untuk bersatu, lha ini kok bertentangan, malah ngajak gelut,” sambung Mahmud Wicaksono.

“Lha penguasa sekarang kan ndelurung, mas? Programnya politis semua. Bagi-bagi makanan gratis, anggarannya ugal-ugalan, malah isinya racun. Bikin koperasi ya gitu, setiap desa dibangun koperasi, dibelikan mobil, motor, apa tidak mangkrak seperti Hambalang? Nanti ganti raja ganti lagi programnya. Sedangkan pendidikan yang sangat urgent, tetap tidak diurus.” Cak Paijo LSM ngecepret tak bisa dilerai.

“Jadi penguasa itu memang tidak mudah,” lerai Gus Karimun.

“Ibarat pemain bola, para penguasa kita sudah mati-matian berjuang, kita sebagai penonton masih juga maiduh. Sekarang ini kita kan sedang siap-siap jotosan sama Dwarawati? Saya salut lho, baru kali ini ada raja dan para punggawa kita yang berani menggertak kecamatan Dwarawati. Ya memang negara itu hanya seukuran kecamatan atau kabupaten, tapi isengnya sama kita kelewatan. Mentang-mentang menang bolo. Punya teman preman dunia, kita diece-ece. Kebakaran hutan itu kan perusahaan mereka yang membakar, saat ada asap kita yang disalahkan. Bahkan koar-koar ke seluruh dunia.”

“Gak salah ta gus? Apa bukan oligarki lokal penyumbang dana pemilu pelakunya?” Protes Cak Manap.

“Kalau benar pelakunya oligarki pendana pemilu, tak mungkin raja kita koar-koar memusuhi mereka. Yang dibongkar skandalnya kan banyak? Lagian, kenapa raja kita terus dipaksa lengser, itu bukti nyata kalau oligarki diumek-umek lapaknya.”

“Makanya, demo itu harus,” timpal Cak Paijo LSM.

“Ya boleh. Tapi harus tepat sasaran dan bukan atas nama dendam politis. Demo yang tepat itu misalnya COD molotov ke rumah-rumah koruptor. Open house se open-opennya seperti di rumah mantan menkeu dulu. Buat list dulu rumah siapa saja yang layak di assalamu alaikumi. Kalau perlu pakai hukum rimba ala copet. Kasih salam olah raga sampai namanya diumunkan di masjid. Kalau memang demonya seperti itu, saya siap bikin air suwuk massal untuk para pendemo,” ujar Gus Karimun.

“Negara Cak Manap ini sudah akut, gus. Sulit mau memperbaiki dari mana. Dari raja sampai RT-RW, mental korup semua,” ujar Cak Paijo LSM.

“Artinya kita juga kan begitu? Wong caleg dan capres tukang sogok kita dukung, kok. Kalau kita waras, serangan fajar itu kita ambil semua, tapi saat mencoblos pilih yang agak baik. Lha kita kan serius mencoblos meski yang memberi sogokan mantan koruptor?” Cak Paijo LSM terdiam mendengar ucapan Gus Karimun.

“Saat ini, seharusnya kita menahan diri. Semua negara di dunia sedang krisis. Prancis, Inggris, Italia, Jepang sama-sama menerapkan mode darurat dan bertahan hidup. Kita malah merecoki penguasa yang gemetar menghadapi krisis. Para penguasa itu sebenarnya stess lho. Amerika dan Eropa terus merecoki ekonomi kita, kecamatan Singapura dan kabupaten Malaysia terus membully kita, lha para aktivis yang katanya suka baca, malah bikin gaduh. Kita ini, kalau kalah pemilu suka dendam. Harusnya kan, kita legowo dengan mereka yang menang, lalu bersama-sama membangun negara. Toh kalah negara ini maju, nak ji nak be. Enak siji enak kabeh. Lha kalau negara ini krisis, para pion pembuat gaduh itu mau lari ke mana? Iya para oligarki pendana demo sudah kaya dari hasil nyolong. Kalau negara ini kacau, mereka tinggal minggat ke Thailand. Nyewa cewek hambur-hambur uang colongan di sana.”

“Benar kata Gus Karimun…” timpal Mahmud Wicaksono. “Demo itu tak perlu untuk saat ini. Kalau mau demo ya langsung ke rumah maling-maling uang rakyat. Geruduk, kasih molotov, kasih salam olahraga sampai inna lillahi. Saat ini kita seharusnya bersatu untuk bertahan hidup. Semua negara sudag membunyikan alarm darurat, kita yang adem ayem mau membakar negara ini. Jangan-jangan para pembikin gaduh itu juga agen asing yang rela membayar murah, agar negara ini porak poranda lalu mereka kuasai.”

“Halah, sampeyan itu buzzer penguasa, mas,” tuduh Cak Paijo LSM.

“Lha daripada jadi buzzer oligarki dan penjajah asing? Sejahat-jahatnya penguasa, tego larane gak tego patine. Lha kalau penjajah asing, sampai sumsum kita akan mereka hisap,” balas Mahmud Wicaksono dengan muka merah padam.

*Cerita dan obrolan ini fiksi belaka

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.