Probolinggo, Kota Mangga yang Mencari Jalan ke Pasar Dunia

11

Probolinggo (WartaBromo.com) – Mangga bukan sekadar buah musiman bagi masyarakat Kota Probolinggo. Komoditas ini telah lama melekat sebagai identitas daerah. Namun, di balik sebutan Kota Mangga, tersimpan pekerjaan besar yang belum sepenuhnya selesai: bagaimana menjaga produksi, memperbaiki rantai distribusi, meningkatkan nilai jual, dan memastikan petani memperoleh keuntungan yang layak.

Potensi itu kembali mendapat panggung melalui Mango Carnival of Indonesia 2026 yang digelar pada 29–31 Oktober di Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo. Pemerintah kota ingin membawa mangga tidak hanya sebagai ikon daerah, tetapi juga sebagai komoditas pertanian yang mampu menembus pasar nasional hingga internasional.

Ambisi tersebut bukan tanpa alasan. Mangga Probolinggo telah dikenal di berbagai daerah. Sejumlah varietas seperti arumanis, manalagi, gadung, dan mangga apel menjadi bagian dari kekayaan hortikultura yang berkembang di kawasan ini.

Namun, popularitas sebuah komoditas tidak otomatis mencerminkan kesejahteraan petaninya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo dalam publikasi Statistik Daerah Kota Probolinggo 2024 mencatat produksi mangga pada 2023 mencapai 20.377 ton. Angka tersebut meningkat dibandingkan produksi 2022 yang tercatat 6.956 ton.

Kenaikan itu menunjukkan besarnya potensi mangga sebagai salah satu komoditas buah unggulan daerah. Data tersebut bersumber dari Dinas Pertanian Kota Probolinggo.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Provinsi Jawa Timur, produksi mangga Jawa Timur mencapai sekitar 1,3 juta ton. Produksi mangga di Kota Probolinggo menjadikannya salah satu sentra produksi mangga penting di Jawa Timur.

Meski demikian, angka produksi perlu dibaca bersama kondisi geografis dan pola musim. Kota Probolinggo memiliki karakter iklim yang cenderung kering. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pola budidaya pertanian masyarakat.

Persoalan lainnya adalah ketergantungan pada musim panen. Pemerintah Kota Probolinggo menyebut puncak panen mangga umumnya berlangsung pada Oktober hingga November. Di luar periode tersebut, ketersediaan buah relatif lebih terbatas.

Kondisi musiman ini menjadi tantangan ketika pasar membutuhkan pasokan dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Artinya, peningkatan produksi saja belum cukup. Petani juga membutuhkan teknik budidaya yang lebih baik, pengelolaan waktu panen, pemilihan varietas unggulan, serta teknologi yang memungkinkan ketersediaan buah lebih merata.

Perjalanan mangga dari kebun hingga sampai ke tangan konsumen melibatkan sejumlah mata rantai. Petani menjadi produsen pertama, kemudian hasil panen masuk ke jaringan pengumpul, pedagang, distributor, hingga pasar tujuan.

Dalam jalur perdagangan tersebut, kualitas dan kecepatan penanganan buah menjadi faktor penting. Mangga merupakan komoditas yang memiliki masa simpan terbatas. Penanganan yang kurang tepat dapat menurunkan mutu dan harga jual.

Peluang pasar sebenarnya terbuka. Dalam National Mango Forum yang menjadi bagian Mango Carnival of Indonesia 2026, petani dari Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Probolinggo, menyampaikan kesiapan memasok ratusan kuintal mangga berkualitas ke Surabaya maupun pasar ekspor.

Sebagian produk yang ditawarkan telah memiliki sertifikasi Prima dan AP.

Namun, kesiapan produksi harus ditopang infrastruktur pascapanen. Dalam forum tersebut, petani juga mengungkapkan persoalan fasilitas ruang pendingin yang disebut sudah tidak beroperasi sejak 2002.

Keberadaan fasilitas penyimpanan berpendingin penting untuk mempertahankan kesegaran buah, terutama ketika distribusi dilakukan ke luar daerah atau membutuhkan waktu pengiriman lebih panjang.

Tanpa dukungan penyimpanan, sortasi, pengemasan, dan transportasi yang memadai, peluang memperluas pasar berisiko tidak memberikan hasil optimal.

Di sisi lain, persoalan harga juga menjadi perhatian. Petani menginginkan skema perdagangan yang memberikan keuntungan wajar bagi produsen. Sebab, perluasan pasar tidak boleh hanya menguntungkan pedagang dan pelaku usaha di hilir.

Kepastian harga, kualitas, volume pasokan, serta pembagian keuntungan menjadi bagian penting dalam membangun rantai perdagangan mangga yang sehat.

Pemerintah Kota Probolinggo berupaya mengangkat kembali identitas Kota Mangga melalui penyelenggaraan festival.

Sebelum Mango Carnival of Indonesia 2026, pemerintah daerah telah menggelar Pesta Mangga 2024. Dalam kegiatan tersebut, sekitar 3,7 ton mangga dari 10 varietas dibagikan kepada masyarakat melalui kirab gunungan mangga.

Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali identitas Kota Bayuangga sekaligus memperkenalkan potensi buah lokal.

Pada 2026, skala kegiatan diperluas melalui Mango Carnival of Indonesia. Festival berlangsung selama tiga hari dengan melibatkan daerah penghasil mangga dari berbagai wilayah Indonesia.

Sejumlah agenda disiapkan, mulai dari National Mango Expo, National Mango Forum, kontes varietas mangga, pelatihan pascapanen, festival kuliner, pameran UMKM, hingga kirab budaya dan gunungan mangga.

Sekitar 50 gunungan mangga turut diarak dalam kirab yang dimulai dari depan Kantor Wali Kota Probolinggo menuju Stadion Bayuangga.

Wali Kota Probolinggo Aminuddin berharap kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan petani, pembeli, eksportir, pemerintah, akademisi, dan pelaku industri.

Pemerintah juga menyiapkan rencana pengembangan pasar agro untuk memperkuat pemasaran produk pertanian. Kolaborasi dengan perbankan dan pihak lain diharapkan membuka akses usaha sekaligus memperluas jaringan perdagangan.

Melalui kegiatan ini, mangga tidak hanya diperkenalkan sebagai buah konsumsi, tetapi juga sebagai bahan baku produk olahan dan penggerak ekonomi kreatif.

Peluang pasar internasional menjadi salah satu agenda yang dibicarakan dalam festival tersebut.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Taufiq Ratule, menilai pengembangan mangga nasional perlu diarahkan pada peningkatan ekspor dan hilirisasi.

Pasar luar negeri memiliki preferensi berbeda terhadap varietas mangga. Arumanis, misalnya, memiliki peluang di kawasan ASEAN. Sementara varietas berwarna merah seperti Garifta dinilai berpotensi dikembangkan untuk pasar Timur Tengah dan Eropa.

Namun, peluang tersebut tidak cukup hanya mengandalkan nama besar suatu daerah.

Pasar ekspor mensyaratkan kualitas buah, keamanan produk, konsistensi volume, serta kepastian pengiriman. Ketika pembeli membutuhkan pasokan secara rutin, daerah produsen harus mampu memenuhi permintaan tersebut.

Kementerian Perdagangan juga mendorong penguatan jaringan bisnis dan penetrasi pasar ekspor mangga ke Timur Tengah dan Eropa melalui rangkaian Mango Carnival.

Perwakilan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Novi Hutami, menekankan pentingnya konsistensi kualitas dan ketersediaan pasokan.

Sementara itu, petani berharap perluasan pasar disertai mekanisme harga yang rasional dan menguntungkan produsen.

Dengan demikian, ekspor bukan sekadar target prestise daerah. Keberhasilannya harus diukur dari kemampuan menciptakan pasar yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Mango Carnival of Indonesia menjadi upaya pemerintah kota membangun kembali citra Probolinggo sebagai daerah penghasil mangga. Namun, keberhasilan sebuah festival tidak semestinya berhenti pada jumlah pengunjung, kemeriahan kirab, atau banyaknya buah yang dibagikan.

Ukuran yang lebih penting adalah dampak setelah acara selesai.

Apakah petani mendapatkan pembeli baru? Apakah ada kontrak perdagangan yang berlanjut? Apakah fasilitas pascapanen kembali berfungsi? Apakah produk olahan mangga semakin berkembang? Dan apakah harga di tingkat petani menjadi lebih menguntungkan?

Pertanyaan tersebut penting karena persoalan utama komoditas pertanian bukan hanya bagaimana menghasilkan buah, tetapi bagaimana menjaga nilai ekonominya sepanjang rantai perdagangan.

Pemerintah juga perlu memastikan adanya basis data produksi yang diperbarui secara berkala, pemetaan sentra tanaman, pendampingan kelompok tani, serta informasi pasar yang dapat diakses produsen.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset dapat diarahkan pada pengembangan teknologi budidaya, pengaturan musim panen, pengendalian hama, dan pengolahan pascapanen.

Mango Carnival seharusnya menjadi pintu masuk bagi kerja sama tersebut, bukan sekadar agenda seremonial tahunan.

Probolinggo memiliki modal berupa nama besar, varietas mangga, pengalaman petani, dan posisi sebagai salah satu daerah yang dikenal dengan komoditas buah tersebut.

Tantangannya adalah mengubah modal itu menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.

Sebab, predikat Kota Mangga tidak cukup dibangun dari banyaknya pohon atau meriahnya festival. Identitas itu akan semakin bermakna apabila petaninya memperoleh penghasilan yang layak, produknya memiliki pasar yang pasti, dan mangga lokal mampu bersaing tanpa kehilangan akar daerahnya. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.