He Usuk Seng

514

Firman Murtado memang bukan siapa-siapa. Jangankan anggota dewan, anggota LSM pun bukan. Bahkan ia tak punya partai. Ia diberi tahu Mbah Gugel jika partai, pada dasarnya hampir mirip sama jamiyyah semacam yakuza, triad atau mafioso. Makanya ndak pateken kalau ia tak bergabung dengan gerombolan, eh partai mana pun. Firman Murtado hanyalah seorang rakyat Indonesia yang terlalu nyinyir dan ndak punya keahlian selain maiduh.

Tiba di warung Cak Manap, ia sudah mencureng seperti Wak Takrip tombok togel meleset. Setelah memesan kopi, ia langsung hallo-hallo sama seseorang.

“Nok endi, cak? tak tunggu di warung Cak Manap. Cepetan, cak,” katanya dengan HP anderoit kreditannya.

Kopi datang bersama tiga batang rokok eceran di mejanya, tapi Firman Murtado masih terlihat budrek. Biasanya, kalau sesajen kesukaannya itu sudah tersedia ia akan sumringah seperti wajah panjeneganipun koruptor di depan kamera. Tapi kali ini rupanya Firman Murtado benar-benar ingin melakukan semacam kudeta entah karena apa.

Untungya, tak lama kemudian Mas Slamet datang dengan mobilnya. Pakai kacamata hitam dan sepertinya membawa ransel berisi laptop, berbagai berkas serta entah apa lagi.

“Mau minum apa, cak?” ujar Firman Murtado, padahal nanti yang bayar kopi, rokok eceran dan rondo royal pasti Mas Slamet.

“Soda gembira saja” jawab Mas Slamet disimak juga sama Cak Manap.

Belum genah Mas Slamet duduk, Firman Murtado langsung memberondong Mas Slamet.

“Sak durunge saya njaluk sepuro, cak. Saya mau ngomong sama sampeyan. Saya bukan siapa-siapa, tapi karena kita sudah lama mangan-turu bareng, ngalor-ngidul goncengan, saya kepingin tahu kenapa kok sekolah yang sampeyan borong sudah ambruk? Padahal masih kemarin dipasang?”

Mas Slamet mbrabak abang mendengar pertanyaan Firman Murtado.

“Sampeyan ini, ngomong liane, lah. Wong endas mau pecah begini, sampeyan malah tanya soal itu,” jawab Mas Slamet.

“Ngomong liane nanti saja setelah sampeyan cerita soal usuk seng ambruk itu. Sampai subuh maghrib monggo.” Rupanya Firman Murtado benar-benar budrek.

“Ya jangan nyalahno saya tok, cak. Saya ini hanya pemborong. Dan di dunia proyek ndak sesederhana yang sampeyan kira.”

“Cak, sepurane ya. Tolong lah cak, jangan sembrono sama uang negara. Bukan sok lancip ndak mau dapat bati, tapi mbok yo makelarannya jangan nemen-nemen. Cuman golek sego sak piring, masa kalau ngerjakan proyek dengan benar ndak cukup? Itu uang utangan IMF atau bank dunia lho, cak. Dan utang kita sudah mencapai 3000 triliun lebih. Kalau negara ini disita, anak cucu kita mau kemana, cak?”

“Lha saya nggarap apa mau soyo alias kerja bakti tok? Saya harus kulak materialan, mbayar tukang, dan saya kerja kan ya kepingin bati?” jelas Mas Slamet mulai ngelendek.

“Ya, saya paham. Tapi ya tolong jangan kenemenen. Kalau sampeyan dapat anggaran yang jumlahnya ndak karuan banyaknya itu, tolong jangan 95 persen buat sampeyan, dan yang hanya 5 persen buat modal garap proyek.”

Mas Slamet tolah-toleh melihat sekeliling. Setelah yakin semua pengunjung warung sibuk dengan urusan masing-masing, Mas Slamet berbisik sama Firman Mutado.

“Cak, berapa pun anggaran proyeknya, yang sampai di tangan saya tinggal beberapa peser saja. Coba bayangkan, untuk memenangkan tender saja saya harus menyiapkan sajen. Ketika cair diminta sajen sama mbahu rekso di kantor-kantor yang werit itu. Sampai di tangan saya tinggal ampasnya saja, tapi di laporan harus genap. Kalau ada data laporan yang janggal, saya yang ngombong. Dan saya punya anak istri, cak. Anak buah saya juga punya anak istri bahkan kreditan segala. Makanya, dengan modal yang hanya tinggal ampas itu, saya kerjakan proyek dengan seadanya. Sebisa-bisanya,” jelas Mas Slamet, pilu.

“Hmmm, begitu ya?” gumam Firman Murtado. Ia sruput kopinya, masih panas. Firman Murtado misuh-misuh tak karuan. Seseorang memukul kepalanya dengan benda lunak dan empuk. Ia tidak bisa menangkis karena pukulan itu bertubi-tubi.

“Turu gak moco bismillah. Ngelindur misuh-misuh. Bangun, mas! Malam kelayapan terus, subuh selalu kerinan,” di hadapannya sudah terpampang wajah istrinya yang metutut.

“Raup, wes awan!” kata istrinya.
“Mimpi apa sampai misuh-misuh begitu?”

________
Penulis : Abdur Rozaq (WartaBromo)

Catatan : Tulisan ini hanya fiksi semata,
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.