Pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia hanya akan melahirkan paradoks baru: pabrik bertambah banyak, tetapi pengangguran kaum muda tetap tinggi. Yang juga perlu diingat oleh pemerintah, banyaknya tindak keriminal pencurian, begal, itu seringkali bukan karena para pelaku jahat, tetapi mereka didorong oleh rasa lapar akibat terlalu menjadi pengangguran.
Karena itu, masalah pengangguran tidak bisa dianggap biasa sebagai nasib masyarakat yang belum beruntung. Selain itu revitalisasi pendidikan menengah juga harus menjadi prioritas.
Kurikulum SMK dan SMA perlu lebih adaptif. Balai latihan kerja tidak boleh dibiarkan menjadi gedung kosong semata, Bangunan itu harus sering diisi dan harus diperkuat dengan pelatihan berbasis kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi.
Setelah para generasi muda diberi pelatihan sesuai kompetensi kebutuhan industri, kebijakan pemerintah juga perlu hadir untuk menyesuaikan syarat administrasi pendidikan didunia industri dengan prinsip prioritas warga lokal yang harus diuatamakan.
Tentu hal yang tidak kalah penting adalah, generasi muda juga perlu didorong untuk membangun usaha mandiri melalui sektor UMKM agar tidak semata-mata bergantung pada lowongan kerja pabrik.
Pasuruan membutuhkan lebih dari sekadar investasi. Daerah ini membutuhkan investasi pada manusia. Sebab, pada akhirnya ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya banyaknya pabrik yang berdiri, melainkan seberapa besar kesempatan yang dapat diberikan kepada generasi mudanya untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.
Jika persoalan ketidaksesuaian antara pendidikan dan dunia kerja ini terus dibiarkan, maka kita akan menyaksikan ironi yang semakin nyata: semakin banyak anak muda yang menggenggam ijazah, tetapi semakin sedikit yang mampu menggenggam harapan. (asd)



















