Tumpengan Roy Suryo

8

“Siapa yang membela, wong saya cuma mensyukuri berakhirnya kegaduhan, biar kita semua lebih fokus pada kegaduhan demo mahasewa, eh mahasiswa,”

Oleh: Abdurrozaq

Malam Minggu, jamiyyah ngopi di warung Cak Sueb mengadakan tumpengan. Tiga helai daun pisang digelar di atas amben bambu. Di atasnya mengepul nasi putih dan nasi jagung. Lauknya tak main-main, ada lele, bandeng, lauk impor dari Amerika (tempe-tahu), ikan asin, udang, bahkan cumi-cumi. Yang bikin semua orang agak ragu ikut makan, su’udhan uang haram, donaturnya Mahmud Wicaksono. Ya bukannya meremehkan, bukan menganggap sepele. Mahmud Wicaksono kan seringnya ditraktir, ini kok malah mentraktir. Makan besar lagi. Jangan-jangan honor buzzer dari pemerintah, jangan-jangan uang dari George Soros, jangan-jangan uang dari oligarki atau menang togel, terka Cak Anwar yang belakangan mulai sering serawungan ikut ngopi. “Tenang, uang halal sembilan puluh sembilan persen. Ini uang nyelengi hasil nyukur rambut, hasil terapi refleksi dan honor tulisan di koran,” jelas Mahmud Wicaksono cengengesan.

“Dalam rangka apa, mas?” telusur Cak Anwar Ojol seraya bersiap makan.

“Tumpengan atas dijemputnya Penjenenganipun Raden Roy Suryo dan Dr. Tifa, cak,” ujar Mahmud Wicaksono seraya tersenyum simpul.

“Jamput! Termul sampeyan! Buzzer pemerintah, sampeyan!” ujar Cak Anwar Ojol batal ngemplok.

Wak Takrip, Cak Manap, Cak Paijo LSM, Cak Sueb serta Gus Karimun, tetap lahap menyantap tumpeng ala kadarnya yang sangat nikmat itu.

“Wes talah, cak. Ayo makan dulu, diskusinya nanti saja sambil ngopi dan ngudut. Ayo, barokah ini. Sekaligus royalan meski belum tanggal 10 Suro,” ujar Mahmud Wicaksono penuh harap. Perutnya sudah keroncongan dan sambal terasi sangat menggoda, ia malah harus presentasi kepada Cak Anwar Ojol.

“Gak sudi aku cak. Ini namanya mensyukuri kedhaliman. Ini namanya mendukung kebohongan ijazah palsu. Dibayar berapa, sampeyan?” Cak Anwar Ojol tak jadi makan, meski tangannya masih berada di atas nasi dan pecel terong. Anehnya, yang lain malah lahap seakan tak terjadi apa-apa. Seakan semua orang gak ngurus ijazah palsu, gak ngurus Roy Suryo, sing penting wareg. Bukannya tak peduli, tapi sudah jenuh, sudah letih dan muak. Alhamdulillah Mahmud Wicaksono cari gara-gara, bikin tasyakkuran penjemputan Raden Roy Suryo dan Dr. Tifa segala. Jarno kono, sing penting tumpengan.

“Panjenenganipun Raden Roy Suryo itu pejuang kebenaran, mas. Dr. Tifa itu penjaga kebenaran, lapo sampeyan surak i ketika dijemput polisi?,” buru Cak Anwar Ojol.

“Sik talah, maksud saya itu mensyukuri berakhirnya polimik ijazah palsu, bukan menyoraki dijemputnya Raden Roy Suryo dan Dr. Tifa. Selama ini kan, negara Cak Manap ini selalu gaduh. Di televisi maupun di Youtube, seringkali ada tayangan debat kusir saling hujat antara kubu Radenmas Roy Suryo dan kubu Pak Mulyono. Sampeyan kan tahu, bagaimana kata-kata kasar, hujatan, cacian, hinaan, saling fitnah, saling tuduh, dipertontonkan tanpa sensor di televisi dan Youtube? Nah karena hal itu segera berakhir diganti dengan sidang, makanya saya, bisa juga banyak orang, patut bersyukur negara Cak Manap ini kembali adem ayem,” jelas Mahmud Wicaksono.

“Ya ndak gitu, mas,” ujar Cak Anwar Ojol.

“Ayo makan dulu, Cak Anwar,” usul Gus Karimun. Mungkin karena sungkan atau karena tergoda aroma sambel terasi asli Lekok, Cak Anwar Ojol akhirnya makan juga meski ragu-ragu. Mahmud Wicaksono yang sudah kaliren, akhirnya juga ikut makan.

“Ijazah palsu itu melanggar hukum, mas,” ujar Cak Anwar Ojol sampai beberapa butir nasi keluar dari mulutnya.

“Iyo-iyo. Nanti biar hakim di pengadilan yang memutuskan,” sergah Mahmud Wicaksono.

“Pak Mulyono sudah menipu rakyat, mengubah undang-undang persyaratan cawapres, masa sempeyan bela?”

“Siapa yang membela, wong saya cuma mensyukuri berakhirnya kegaduhan, biar kita semua lebih fokus pada kegaduhan demo mahasewa, eh mahasiswa,” jawab Mahmud Wicaksono.

“Ini namanya menyoraki pejuang kebenaran yang didhalimi oleh hukum, karena penegak hukumnya anak buah pak Mul,” Cak Anwar Ojol terus bicara seraya melahap lele goreng sambal terasi Lekok.

“Yo gak lah, cak. Saya hanya mensyukuri berakhirnya kegaduhan yang sudah bertahun-tahun dimanfaatkan stasiun televisi dan para konten kreator, kok. Masa sampeyan tidak suka negara Cak Manap ini adem ayem?”

“Ya lebih baik revolusi kalau penguasaya dhalim.”

“Terus mau seperti Nepal, Suriah dan Irak? Gak bisa ngopi sampeyan. Penak begini bisa ngopi sambil live Tiktok karaokean sama janda kampung sebelah,” ujar Mahmud Wicaksono.

“Alhamdulillah,” seloroh Gus Karimun seraya wijik di kobokan. Mahmud Wicaksono kecewa karena belum juga sampai lima pulukan, nasi sudah habis, tandas oleh ajian gulu kali weteng segoro Cak Paijo LSM.

Seraya memunguti sisa-sisa nasi di atas daun pisang, Cak Anwar Ojol masih saja memberondong Mahmud Wicaksono dengan berbagai pertanyaan.

“Menurut sampeyan, lebih buruk mana rezim saat ini dengan rezim Pak Mul?”

“Setiap rezim itu pasti ada baik dan buruknya. Namanya juga manusia. Tapi bagi yang memelihara kebencian, partainya kalah, atau capresnya tidak terpilih, pasti selalu buruk. Lha masa setiap kali kalah pemilu akan melakukan kudeta, kapan mau maju negara Cak Manap ini? Tidak cocok atau tidak suka pada penguasa itu wajar, tapi kalau ontran-ontra, mengajak orang lain untuk membenci demi dendam politik dan ideologi, ya gak sehat bagi negara.”

Semua orang duduk kekenyangan di atas lincak warung seraya menyeruput kopi dan udut traktiran Mahmud Wicaksono. Cak Anwar Ojol sepertinya juga mulai letih bicara karena perutnya kekenyangan. Entah legowo entah bagaimana, driver ojol itu akhirnya ikut menyeruput kopi dan menyalakan sebatang rokok Surya 12 yang disediakan Mahmud Wicaksono.

*Hanya fiksi semata, kesamaan peristiwa dan nama hanya kebetulan semata

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.