Pakuniran (WartaBromo.com) – Video yang memperlihatkan sejumlah waria berjoget sambil menerima saweran di lingkungan SDN Pakuniran 1, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, memicu polemik di media sosial.
Rekaman yang viral itu menuai kritik dari masyarakat dan mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo melakukan klarifikasi langsung kepada pihak sekolah.
Video yang beredar luas melalui berbagai platform media sosial memperlihatkan suasana hiburan rakyat dengan iringan musik dangdut. Dalam rekaman tersebut tampak sejumlah pengisi acara berjoget di tengah kerumunan warga, disertai aksi saweran dari penonton.
Konten itu diunggah oleh akun @new.yunita dan kemudian ramai dibagikan ulang dengan narasi bahwa kegiatan berlangsung di lingkungan SDN Pakuniran 1. Sejumlah warganet mempertanyakan kelayakan kegiatan tersebut digelar di area sekolah dasar yang digelar pada Minggu (21/6/2026).
Ahmad, salah satu warga yang ikut menyoroti video tersebut, mengaku prihatin jika kegiatan yang menampilkan hiburan semacam itu benar berlangsung di lingkungan pendidikan.
“Kalau memang benar berlangsung di sekolah, tentu sangat disayangkan. Lingkungan sekolah seharusnya menjadi ruang pendidikan yang memberikan contoh baik bagi anak-anak,” ujarnya.
Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Hary Tjahjono, mengatakan pihaknya segera melakukan penelusuran setelah video tersebut ramai diperbincangkan.
Menurut Hary, hasil klarifikasi awal menunjukkan kegiatan itu bukan agenda resmi sekolah, melainkan bagian dari kegiatan masyarakat yang sebelumnya mengikuti pawai di sekitar desa.
“Kami langsung meminta penjelasan kepada pihak sekolah setelah mengetahui video tersebut. Berdasarkan keterangan awal, kegiatan itu bukan program sekolah, melainkan kegiatan warga yang singgah di area sekolah setelah mengikuti pawai,” kata Hary.
Ia menjelaskan, rombongan peserta pawai yang terdiri dari warga sekitar memasuki area sekolah usai kegiatan berlangsung di luar lingkungan pendidikan tersebut. Sebagian besar peserta yang tampil dalam hiburan tersebut disebut merupakan warga setempat.
Meski demikian, Disdikdaya tetap meminta pihak sekolah menyusun laporan tertulis yang menjelaskan kronologi lengkap kegiatan hingga video tersebut beredar dan menimbulkan kontroversi.
“Pihak sekolah telah menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang muncul. Kami juga meminta laporan tertulis sebagai bahan evaluasi dan pendalaman lebih lanjut,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan yang diterima Disdikdaya, kegiatan yang terekam dalam video berlangsung setelah rangkaian pawai warga selesai. Dalam laporan awal tersebut, pihak sekolah menegaskan bahwa kegiatan tidak diselenggarakan oleh sekolah dan bukan bagian dari agenda pendidikan.
Polemik yang berkembang juga mendapat perhatian dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo. Hary mengungkapkan bahwa pihak MUI telah melakukan komunikasi dengan Disdikdaya untuk meminta penjelasan terkait kejadian tersebut.
“Sekretaris MUI sudah menghubungi kami untuk meminta klarifikasi. Penjelasan yang kami sampaikan sama dengan hasil konfirmasi yang kami terima dari pihak sekolah,” katanya.
Hingga kini, MUI Kabupaten Probolinggo belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait peristiwa tersebut. Sementara Disdikdaya masih menunggu laporan lengkap dari sekolah untuk memastikan seluruh rangkaian kejadian dan menentukan langkah evaluasi selanjutnya. (saw)





















