Titik Api Baru Muncul di Penanjakan dan Dingklik, Kebakaran Bromo Belum Terkendali

8

Probolinggo (WartaBromo.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, belum sepenuhnya terkendali. Saat sebagian titik api mulai dipadamkan, kobaran baru justru terpantau di kawasan Penanjakan dan Bukit Dingklik, Kabupaten Pasuruan.

Temuan tersebut membuat petugas memperluas pemantauan dan penanganan. Pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara untuk mencegah api kembali berkembang di kawasan konservasi Gunung Bromo.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan titik api baru ditemukan di luar perimeter kebakaran sebelumnya. Selain melakukan pemadaman di Pundak Lembu dan Puncak P30, Kabupaten Probolinggo, petugas juga harus bergerak ke kawasan Pasuruan.

“Di Pundak Lembu dan Puncak P30 kami lakukan pemadaman. Ternyata di Penanjakan dan Dingklik juga ditemukan titik api di luar perimeter. Ini langsung kami tangani agar tidak menjadi kebakaran baru,” kata Emil saat meninjau kawasan TNBTS, Minggu (9/8/2026).

Menurut Emil, titik api tersebut segera ditangani menggunakan metode yang disesuaikan dengan kondisi medan. Api berukuran kecil masih memungkinkan ditangani secara manual, sementara titik yang berada di lokasi sulit dijangkau membutuhkan dukungan water bombing.

“Untuk titik kecil masih bisa ditangani dari darat. Tetapi kalau api cukup besar dan lokasinya sulit dijangkau, water bombing menjadi pilihan untuk mempercepat pemadaman,” ujarnya.

Pemadaman dari darat masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya peralatan pemukul api atau gebyok yang digunakan petugas dan relawan mulai mengalami kerusakan setelah digunakan berulang kali.

Sebagai alternatif, petugas memanfaatkan ranting dan dahan pohon di sekitar lokasi untuk melakukan pemadaman awal sekaligus pendinginan pada titik-titik api kecil.

Di sejumlah lokasi yang masih dapat dilalui kendaraan, mobil pemadam kebakaran juga dikerahkan. Namun, akses menuju titik kebakaran di kawasan Watangan masih menjadi persoalan karena medan yang terjal.

“Mobil damkar kami maksimalkan di jalur yang memungkinkan. Tetapi untuk mendekati titik api tertentu di Watangan memang tidak bisa karena kondisi medannya,” kata Emil.

Meski kobaran utama di sejumlah lokasi telah berhasil dikendalikan, pemerintah belum menganggap kondisi Bromo sepenuhnya aman.

Angin kencang masih berpotensi membawa bara atau percikan api ke kawasan lain. Risiko tersebut semakin besar karena sebagian vegetasi di kawasan savana dalam kondisi kering dan mudah terbakar.

Emil mengatakan pengawasan harus dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan bara api tidak kembali memicu kebakaran.

“Yang harus diwaspadai sekarang bukan hanya api yang terlihat besar, tetapi bara yang bisa terbawa angin. Kalau jatuh di vegetasi kering, titik api baru bisa muncul,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, petugas juga memperkuat penjagaan di sepanjang sekat bakar yang dibuat di sisi selatan Lembah Watangan.
Sekat bakar tersebut memiliki panjang sekitar enam kilometer. Jalur itu kini dijaga personel TNBTS untuk memastikan api tidak melompati batas pengamanan.

“Ada sekitar enam kilometer sekat bakar yang sekarang dijaga personel TNBTS. Awalnya ada 10 orang dan akan kami tambah 10 orang lagi untuk patroli. Jangan sampai api melompati sekat,” kata Emil.

Dengan munculnya titik api baru di Penanjakan dan Dingklik, operasi pemadaman karhutla Bromo kini tidak hanya berfokus pada lokasi kebakaran utama. Petugas juga harus mengantisipasi setiap titik panas yang berpotensi berkembang menjadi kobaran baru.

Pemerintah mengimbau masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawasan terdampak kebakaran selama proses pemadaman dan pemantauan masih berlangsung. (lai/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.