Kanjeng Nabi hadir, langgar riuh berdebam oleh para umat Kanjeng Nabi yang berlompatan merebut gantungan di plavon langgar. Hanya sandal, ciki-cikian, kaos sponsor, timba, sandal, plembungan, uang lima ribuan, tapi membuat orang kalap saling berebut.
Oleh: AbdurRozaq
Kalau kepingin tahu orang sempel, ya Mahmud Wicaksono salah satu contohnya. Kalau ngomong suka ngawur, tapi kalau diteliti ada benarnya. Sama penguasa tak ada takutnya. Pendidikan lumayan, tapi tak mau daftar jadi ASN atau nyaleg. Sarjana, tapi memilih jadi tukang cukur daripada jadi anggota LSM atau jadi anggota partai. Padahal, orang partai itu gampang diterima kalau daftar jadi apa-apa. Ada program pemerintah apapun, bisa dipakai meski non-skill.
Kali ini, Mahmud Wicaksono kembali kumat sempelnya. Tukang cukur itu tiba-tiba mengecat rumahnya, padahal lebaran masih jauh. Pekarangan juga dibersihkan, lampu-lampu diganti yang lebih terang. Beberapa hari lalu, ia bahkan ambil kreditan sarung dan baju koko. Ditanya Cak Manap, katanya untuk menyambut tamu penting.
“Halah, gayamu, mas. Kayak pejabat saja. Memangnya tamu penting siapa yang mau datang ke rumah sampeyan. Sampeyan lho, bukan pengurus partai, bukan pejabat, tamu penting siapa yang mau ke rumah sampeyan. Kita para jelata ini, hanya dikenal para pejabat menjelang pemilu saja. Lha ini pemilu masih jauh,” ejek Cak Manap.
“Kalau cuma pejabat yang bertamu, saya cukup pakai kaos partai atau kaos sponsor, cak. Lha wong kita jeragannya. Buat apa CEO menemui bawahan harus mengecat rumah dan kredit sarung segala,” ujar Mahmud Wicaksono cengengesan.
“Sik talah, tamu siapa yang sampeyan maksud,” selidik Wak Takrip.
“Kanjeng Nabi, wak. Malam dua belas besok kan, Ing Ngarso Dalem, Penjenenganipun Sayyidul Anbiya wal Mursalin, akan rawuh? Saat serakalan di langgar atau masjid, Ingkang Sinuwun kan rawuh? Lha rencananya, selepas kenduren di langgar, saya akan serakalan sendiri di rumah, biar Ingkang Sinuwun sudi mampir di gubuk saya.” Wak Takrip tercekat mendengar jawaban Mahmud Wicaksono.
“Sampeyan kata siapa kalau Kanjeng Nabi akan rawuh kalau kita serakalan?” Selidik Cak Manap.
“Kata Gus Karimun,”
“Kapan?”
“Dulu, pas di warung Cak Sueb.”
****
Malam itu, langgar riuh oleh umat Kanjeng Nabi. Mereka yang jarang ke langgar, khusus malam ini ikut datang. Ibu-ibu dan remaja putri riuh bikin video atau selfie. Para pemuda masih ngudut dan scroll-scroll HP. Kaum tua ngobrol ngalur-ngidul, anak-anak siap melompat rebutan gantungan mauludan. Itu semua, terjadi saat Gus Karimun dan para santri membaca maulid Nabi. Anehnya, Mahmud Wicaksono hanya diam. Matanya sembab, ingusnya meleleh dan berkali-kali diusap dengan sarung kreditannya yang masih baru. Tukang cukur sempel itu sudah berlinangan air mata sejak Gus Karimun perama kali membaca Ya Rabbi Sholly ala Muhammad. Tentu saja, Cak Sueb, Cak Manap dan Cak Soleh Las cekikan menertawakan ulah Mahmud Wicaksono. Mereka menduga, mungkin Mahmud Wicaksono sedang merenungkan utang-utangnya.
Saat Mahallul Qiyam, saat dimana –kata Mahmud Wicaksono—Kanjeng Nabi hadir, langgar riuh berdebam oleh para umat Kanjeng Nabi yang berlompatan merebut gantungan di plavon langgar. Hanya sandal, ciki-cikian, kaos sponsor, timba, sandal, plembungan, uang lima ribuan, tapi membuat orang kalap saling berebut. Cocogan alias buah pisang dan buah-buahan yang disusun ala gunungan, banyak yang hancur terinjak-injak. Begitu juga dengan nasi, kobokan dan cobek. Langgar benar-benar seperti kapal pecah, dan serakalan sama sekali tak ada yang peduli.
Gus Karimun ewuh pekewuh. Mau menghentikan serakalan, sungkan sama Kanjeng Nabi yang sudah rawuh. Akhirnya memilih tetap dilanjutkan meski seisi langgar tak peduli dengan Kanjeng Nabi. Anehnya, meski semua orang berdiri, Mahmud Wicaksono tetap duduk dan menangis sejadi-jadinya. Menangisi Kanjeng Nabi yang tidak dipedulikan, menangisi orang-orang yang kalap memilih rebutan plembungan daripada menyambut Ingkang Sinuwun Rasulullah. Dan, tentu saja menangisi dirinya yang tak pantas sowan Kanjeng Nabi.
****
Di warung seusai serakalan, Gus Karimun menginterogasi Mahmud Wicaksono.
“Mas, tadi saat serakalan kok tidak ikut berdiri?”
“Kaki saya seakan lumpuh, Gus. Inginnya berdiri seperti umumnya kita Mahallul Qiyam, tapi saya gemetaran. Bukan takut, tapi shock. Saya tak percaya karena—–“
“Sampeyan juga melihat Kanjeng Nabi, ya?” Mahmud Wicaksono diam, segan menjawab.
“Sampeyan juga melihat Kanjeng Nabi, kan?” Ulang Gus Karimun. Mahmud Wicaksono tolah-toleh sebentar, lalu mengangguk pelan.
“Sampeyan ini sebenarnya siapa, sih mas?” Selidik Gus Karimun.
“Saya ya tukang cukur, gus. Sampeyan kan tahu sendiri saya lahir di sini dan kita sudah lama kenal.”
“Jangan menyamar lagi, saya tahu kok sampeyan siapa?” Ujar Gus Karimun penuh arti.
“Lha sampeyan juga menyamar, gus. Tidak usah ditutup-tutupi kalau sampeyan wali mastur.
“Ya sampeyan yang wali mastur. Tidak usah menyamar jadi tukang cukur segala.”
Tak ada yang mendengar percakapan keduanya. Bahkan Cak Sueb pun, mendengkur di lincak warung karena kekenyangan makanan dari kenduren mauludan.
Obrolan terhenti. Keduanya menerawang, kemudian sesenggukan masing-masing. Alangkah singkatnya pertemuan dengan Kanjeng Nabi di langgar tadi. Yang menjadi ganjalan Mahmud Wicaksono, mengapa orang-orang tak peduli dengan kehadiran Kanjeng Nabi. Andai tadi mampu matur, akan ia sampaikan kepada Rasulullah, kiranya memaklumi orang-orang yang berlompatan saat serakalan. Namun, Mahmud Wicaksono akhirnya memaklumi, mungkin sebatas itulah ekspresi cinta mereka kepada Kanjeng Nabi. Masih lumayan daripada yang mengharamkan perayaan maulid.





















