BMKG: Suhu Bromo Turun hingga 5,1 Derajat Celsius, Fenomena Bediding Diperkirakan Berlangsung hingga September

18

Probolinggo (WartaBromo.com) – Fenomena bediding, yaitu kondisi udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau, kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Jawa Timur.

Berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kawasan Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo menjadi wilayah dengan suhu terendah, yakni mencapai 5,1 derajat Celsius.

Catatan tersebut merupakan hasil pengamatan suhu minimum pada periode 1 Juli 2026 pukul 07.01 WIB hingga 2 Juli 2026 pukul 07.00 WIB. BMKG memperkirakan fenomena udara dingin ini masih akan berlangsung hingga September 2026, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus.

Selain Bromo, sejumlah wilayah lain juga mengalami penurunan suhu. Stasiun Geofisika Tretes, Pasuruan mencatat suhu minimum 14 derajat Celsius, disusul Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang sebesar 14,6 derajat Celsius, Bondowoso 15,9 derajat Celsius, serta Karangan, Trenggalek 16 derajat Celsius.

Meski demikian, suhu 5,1 derajat Celsius di Bromo belum menjadi yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. BMKG mencatat rekor suhu minimum di kawasan tersebut pernah mencapai 2,5 derajat Celsius pada 28 Agustus 2023.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Linda Fitrotul, menjelaskan bahwa fenomena bediding merupakan bagian dari karakteristik musim kemarau di Indonesia, khususnya di wilayah selatan yang dipengaruhi angin monsun Australia.

“Fenomena suhu dingin pada Juli hingga September merupakan kondisi yang normal. Saat musim kemarau, angin monsun Australia membawa massa udara yang lebih dingin dan kering sehingga suhu udara, terutama pada malam hingga pagi hari, menjadi lebih rendah,” ujar Linda, Kamis (2/7/2026).

Ia menambahkan, minimnya tutupan awan selama musim kemarau turut mempercepat pelepasan panas yang tersimpan di permukaan bumi pada malam hari. Kondisi ini membuat suhu udara turun lebih signifikan dibandingkan musim hujan.

Menurut Linda, penurunan suhu paling terasa di kawasan dataran tinggi seperti Bromo, Batu, dan Malang. Namun, fenomena bediding juga dapat dirasakan di hampir seluruh wilayah Jawa Timur dengan intensitas yang berbeda-beda.

Istilah bediding berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan udara dingin yang terasa menusuk. Fenomena ini lazim terjadi setiap musim kemarau dan bukan termasuk kategori cuaca ekstrem.

BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah pegunungan, untuk menjaga kondisi kesehatan selama periode bediding. Penggunaan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam dan pagi hari dianjurkan, khususnya bagi balita, lanjut usia, serta penderita gangguan saluran pernapasan.

Selain itu, petani dan peternak diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya embun es (frost) di sejumlah kawasan dataran tinggi. Fenomena tersebut berpotensi memengaruhi tanaman pertanian maupun kondisi ternak apabila suhu udara turun lebih rendah.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca resmi selama musim kemarau agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer yang terjadi dari waktu ke waktu. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.