Gapembi Masuk, Dapur MBG Tak Lagi Cuma Soal Memasak

83

Probolinggo (WartaBromo.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru di Kabupaten Probolinggo. Setelah lebih dari sepekan kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung, ratusan dapur MBG kembali mengepul. Namun, tantangan yang dihadapi kini tak lagi sekadar menyajikan makanan tepat waktu.

Pengelolaan limbah hingga stabilitas pasokan bahan pangan menjadi pekerjaan rumah yang ikut dipikul Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (Gapembi), organisasi yang baru saja membentuk kepengurusan di Kabupaten Probolinggo.

Ketua DPC Gapembi Kabupaten Probolinggo, Wahid Nurahman, mengatakan organisasinya tidak hanya menjadi tempat berhimpun pemilik dapur MBG. Gapembi juga didorong menjadi ruang pembinaan agar seluruh dapur memenuhi standar operasional yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).

“Kurang lebih 80 persen dapur yang ada sudah memenuhi standar pengolahan limbah. Sisanya masih kami dampingi agar segera melakukan perbaikan,” kata Wahid usai pelantikan pengurus DPC Gapembi Kabupaten Probolinggo, Senin (20/7/2026).

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan limbah belum sepenuhnya selesai. Di tengah ekspansi Program MBG yang kini telah memiliki lebih dari 100 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Probolinggo, standar lingkungan menjadi syarat yang tak bisa lagi diabaikan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto, memastikan pemerintah daerah tidak hanya bertindak sebagai pengawas. Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pendampingan terus dilakukan terhadap dapur yang belum memenuhi ketentuan.

“Kami memberikan pendampingan dan masukan terhadap dapur-dapur yang pengelolaan limbahnya masih belum sesuai standar. Setelah evaluasi dari pusat, persyaratan operasional memang jauh lebih ketat,” ujarnya.

Di sisi lain, Gapembi juga dihadapkan pada tantangan lain yang tak kalah rumit: menjaga agar kebutuhan bahan baku ratusan dapur tidak memicu gejolak harga pangan.

Wakil Sekretaris I DPW Gapembi Jawa Timur, Nafizah, mengatakan organisasinya telah membuka komunikasi dengan petani, peternak, nelayan, pembudidaya sayuran, hingga pemerintah daerah. Tujuannya sederhana, memastikan rantai pasok tetap berjalan tanpa mengganggu keseimbangan pasar.

“Kami tidak bisa bergerak sendiri. Semua pihak harus terlibat agar persoalan pasokan maupun potensi inflasi bisa diantisipasi bersama,” katanya.

Berbeda dengan asosiasi usaha pada umumnya, Gapembi mencoba mengambil posisi sebagai simpul yang menghubungkan dapur MBG dengan para pemasok. Di dalam organisasi itu, bukan hanya pengelola dapur yang berhimpun, tetapi juga mitra penyedia bahan pangan.

Peran tersebut akan diuji seiring semakin luasnya cakupan Program MBG. Sebab, keberhasilan program ini tak hanya ditentukan oleh menu yang tersaji di atas piring, tetapi juga oleh tata kelola dapur, keberlanjutan lingkungan, dan kemampuan menjaga pasokan pangan tetap stabil. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.