Pasuruan (WartaBromo.com) – Di balik sosok KH Abdul Hamid atau Mbah Hamid yang dikenal sebagai ulama kharismatik di Pasuruan, tersimpan kisah perjuangan hidup yang tidak banyak diketahui. Setelah menikah, Mbah Hamid pernah mengayuh sepeda sejauh 30 kilometer pulang-pergi untuk menghidupi keluarganya.
Kisah tersebut terjadi pada masa-masa awal kehidupan rumah tangganya bersama Nyai H Nafisah bin KH Ahmad Qusyairi bin KH Muhammad Shiddiq. Keduanya menikah pada Kamis, 12 September 1940.
Mengayuh Sepeda 30 Kilometer Setiap Hari
Dilansir dari nu.or.id, setelah menikah, Kiai Hamid menjalani kehidupan sederhana bersama mertuanya. Rumah yang ditempati jauh dari kemewahan, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.
Untuk menghidupi keluarganya, Kiai Hamid bekerja sebagai blantik sepeda. Setiap hari ia mengayuh sepeda sejauh 30 kilometer pulang-pergi menuju pasar sepeda yang saat itu berada di Desa Porong, Pasuruan.
Jarak tersebut ditempuh Kiai Hamid setiap hari untuk menjalankan pekerjaannya. Meski harus menjalani kehidupan yang tidak mudah, tidak pernah terdengar keluhan darinya.
Kesederhanaan dan kesabarannya juga tercermin dalam cara Kiai Hamid menghadapi persoalan keluarga. Ia pernah menyampaikan bahwa orang tua yang tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga tidak akan lekas naik derajatnya.
Mendidik Anak dengan Keteladanan
Sikap sabar Kiai Hamid juga diterapkan ketika mendidik anak-anaknya. Menurut Kiai Idris, putra Kiai Hamid, mereka tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya.
Kiai Hamid lebih banyak memberikan pendidikan melalui keteladanan. Nasihat pun disebut sangat jarang diberikan. Namun, untuk perkara yang dianggap prinsip, seperti shalat, Kiai Hamid bersikap tegas.
Dari pernikahannya dengan Nyai H Nafisah, Kiai Hamid dikaruniai lima orang anak, yakni Muhammad Nu’man, Muhammad Nasih, Muhammad Idris, Anas dan Zainab. Dua anak yang disebut terakhir meninggal ketika masih kecil.
Tetap Rajin Menuntut Ilmu
Kesibukan menghidupi keluarga tidak membuat Kiai Hamid berhenti belajar. Setelah berkeluarga di Pasuruan, ia tetap tekun mendalami ilmu agama.
Kiai Hamid masih mengikuti pengajian yang diselenggarakan Habib Ja’far bin Syichan Asegaf setiap sore. Pengajian dengan metode mudzakarah tersebut berlangsung pukul 16.30-19.30 WIB dan membahas ilmu diniyah dengan menggunakan kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali.
Dalam pengajian itu, Kiai Hamid kerap ditunjuk Habib Ja’far sebagai juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan aplikasi masalah dari beberapa poin kalimat.
Beberapa bulan setelah menikah, Kiai Hamid juga diperintah KH Ahmad Qusyairi untuk menggantikan kedudukannya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah. Sementara KH Ahmad Qusyairi pindah ke Glenmore, Banyuwangi, untuk mengajar dan mendirikan pesantren sendiri.
Perjalanan hidup tersebut menjadi bagian dari kisah Mbah Hamid sebelum dikenal luas sebagai ulama kharismatik Pasuruan. Dari kehidupan sederhana dan perjuangan menghidupi keluarga, ia tetap menjaga ketekunan dalam menuntut ilmu hingga kemudian dipercaya mengasuh pesantren. (Jun)





















