Mengapa Hanya Ada Peringatan Maulid Nabi, Tidak Pernah Ada Haul Nabi Muhammad?

14

Pasuruan (WartaBromo.com) – Setiap bulan Rabiul Awal, umat Islam di berbagai daerah menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh antusias. Beragam kegiatan digelar, mulai dari pengajian, pembacaan shalawat, hingga berbagai rangkaian acara yang diselenggarakan masyarakat, kelompok keagamaan, maupun lembaga pemerintahan.

Puncak peringatan Maulid Nabi umumnya dilaksanakan pada 12 Rabiul Awal, yang secara luas dikenal sebagai tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai kegiatan tersebut, lantunan shalawat dan syair yang mengisahkan kehidupan, perjuangan, kemuliaan, serta akhlak Rasulullah SAW terdengar di berbagai tempat.

Namun, di tengah semarak peringatan Maulid Nabi, seringkali muncul sebuah pertanyaan yang cukup menarik. Jika kelahiran Nabi Muhammad diperingati melalui Maulid, mengapa tidak pernah ada peringatan Haul Nabi Muhammad SAW sebagaimana haul para ulama atau tokoh agama yang telah wafat?.

Pertanyaan tersebut berkaitan dengan cara umat Islam memaknai kelahiran dan wafatnya Rasulullah SAW.

Salah satu penjelasan menyebutkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW dipandang sebagai nikmat yang sangat besar bagi umat Islam. Sebaliknya, wafatnya Rasulullah SAW merupakan musibah besar bagi umatnya.

Sebagaimana dikutip dari Aswaja Dewata, yang menjelaskan isi dalam salah satu kitabnya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani al-Makki yang mengutip pendapat Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Al-Hawi lil Fatawi.

“Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah paling agungnya nikmat untuk kita (umatnya), dan hari kepergiannya adalah musibah paling besar. Syariat menganjurkan untuk menampakkan syukur atas nikmat, bersabar, diam, dan menyembunyikan ketika tertimpa musibah. Syariat juga menyuruh melaksanakan akikah setelah melahirkan sebagai bentuk syukur dan ekspresi bahagia, dan syariat tidak memerintah ketika tertimpa musibah berupa kematian untuk menyembelih dan hal sejenisnya. Justru syariat melarang untuk menampakkan kesedihan. Hal itu mengindikasikan bahwa syariat Islam menganggap bagus merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad pada bulan ini (Rabiul Awal), bukan malah untuk mengenang hari wafatnya,” isi keterangan dalam Haulal-Ihtifâl bi Dzikrîl-Maulid an-Nabawi asy-Syarîf I/40.

Dalam pandangan tersebut, syariat menganjurkan umat untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat dan bersabar ketika menghadapi musibah. Kelahiran menjadi momentum untuk mengekspresikan kebahagiaan dan rasa syukur, sementara kematian lebih dekat dengan suasana duka dan kesedihan.

Atas dasar itu, sebagian ulama memandang peringatan Maulid Nabi sebagai bentuk ungkapan syukur atas kelahiran Rasulullah SAW dan hadirnya risalah Islam yang dibawa beliau.

Pandangan lain disampaikan Doktor Umar Abdullah Kamil dalam karyanya Al-Inshaf. Ia mengaitkan peringatan Maulid dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Yunus ayat 58, yang artinya;

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira,”

Ayat tersebut kemudian dikaitkan dengan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi umat manusia. Salah satu hadis yang diriwayatkan Imam ad-Darimi juga menyebutkan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat dan pembawa petunjuk.

Dari pandangan tersebut, kelahiran Nabi Muhammad SAW dipahami sebagai hadirnya rahmat bagi umat manusia. Karena itu, kelahiran beliau diperingati sebagai bentuk rasa syukur dan kegembiraan atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

Sementara itu, wafatnya Rasulullah SAW tidak diperingati dalam bentuk haul sebagaimana lazimnya peringatan terhadap ulama atau tokoh yang telah meninggal. Hal tersebut bukan berarti jasa dan perjuangan Nabi Muhammad SAW dilupakan. Justru sebaliknya, kehidupan, perjuangan, ajaran, dan akhlak beliau terus dikenang serta dipelajari umat Islam sepanjang masa.

Perbedaan tersebut juga dapat dilihat dari konteks peringatan terhadap para ulama. Haul para ulama umumnya digelar untuk mengenang jasa, perjuangan, ilmu, serta kontribusi mereka kepada umat. Peringatan itu sekaligus menjadi sarana agar keteladanan dan warisan keilmuan mereka tidak hilang ditelan zaman.

Dalam konteks Nabi Muhammad SAW, umat Islam tidak hanya mengenang beliau melalui satu hari atau satu momentum tertentu.

Kehidupan Rasulullah SAW menjadi teladan yang dipelajari dan diamalkan setiap waktu. Shalawat, hadis, serta ajaran yang beliau sampaikan terus hidup dalam kehidupan umat Islam.

Dengan demikian, tidak adanya peringatan Haul Nabi bukan berarti wafatnya Rasulullah SAW tidak penting untuk dikenang. Sebaliknya, umat Islam mengenang beliau melalui pengamalan ajaran, membaca sirah, memperbanyak shalawat, serta mengikuti akhlak dan sunnahnya.

Sedangkan Maulid Nabi menjadi salah satu momentum untuk mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran sosok yang diyakini sebagai pembawa rahmat dan petunjuk bagi umat manusia.

Pada akhirnya, perbedaan antara Maulid Nabi dan haul para ulama terletak pada konteks dan cara umat Islam memaknai keduanya. Maulid lebih ditekankan sebagai ungkapan syukur dan kegembiraan atas lahirnya Rasulullah SAW, sementara haul umumnya menjadi momentum mengenang jasa orang yang telah wafat. Wallahu a’lam. (Fir)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.