Sukapura (WartaBromo.com) – Kebakaran kembali melanda kawasan wisata Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Tak hanya petugas yang bergerak menangani kobaran api, pelaku usaha pariwisata di sekitar kawasan juga ikut membantu dengan mengirimkan pasokan air dan makanan.
Api mulai terlihat pada Rabu (26/8/2026) malam di tebing Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura. Kobaran kemudian menjalar di kawasan lereng dan mengarah ke sekitar Tebing Seruni Point.
Situasi tersebut membuat penanganan harus dilakukan dengan cepat. Terlebih, titik api berada di medan berbukit dengan akses yang tidak mudah dijangkau.
Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan dikerahkan untuk mengendalikan kebakaran.
Di saat bersamaan, sejumlah pengusaha restoran dan hotel di kawasan Bromo memilih ikut mengambil bagian dalam penanganan.
Mereka memasok air yang dibutuhkan untuk operasi pemadaman sekaligus menyediakan makanan bagi personel di lapangan.
Anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Hariwahjudi, mengatakan pasokan air dikumpulkan dari sejumlah pelaku usaha yang berada di sekitar kawasan terdampak.
“Total air yang kami suplai hampir 25 ribu liter. Ini berasal dari beberapa pelaku usaha yang ikut membantu penanganan kebakaran,” katanya, Kamis (27/8/2026).
Sejumlah usaha yang turut menyumbangkan air antara lain Resto Manis Ae, Nadia, Artotel, Jiwa Jawa, Lava View, dan Kopi Dewa di kawasan Seruni Point.
Bantuan tidak berhenti pada kebutuhan air. Para pelaku usaha juga menyiapkan makanan untuk petugas dan relawan yang harus bekerja di lokasi kebakaran.
“Kami juga sumbangkan 60 bungkus nasi untuk petugas gabungan,” ujar pria yang juga Manager Jembatan Kaca Seruni Point.
Kondisi geografis menjadi salah satu persoalan dalam proses pemadaman. Lereng Cemoro Lawang memiliki kontur curam sehingga tidak semua titik dapat dijangkau kendaraan pemadam.
Kondisi vegetasi yang kering turut memperbesar potensi penjalaran api. Pergerakan angin membuat arah kobaran juga perlu terus dipantau.
Petugas pun melakukan pemadaman sekaligus penyisiran di sekitar lokasi untuk memastikan kobaran tidak bergerak menuju fasilitas wisata maupun kawasan permukiman.
Bagi pelaku usaha wisata, kondisi tersebut menjadi perhatian serius. Sebab, keberlangsungan usaha mereka sangat berkaitan dengan keamanan dan aktivitas pariwisata di kawasan Bromo.
Kebakaran yang kembali muncul juga terjadi setelah kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebelumnya sempat dilanda karhutla dalam skala besar.
Karena itu, keterlibatan pelaku usaha dalam penanganan kebakaran menjadi salah satu bentuk dukungan untuk menjaga kawasan sekaligus membantu petugas yang berada di lapangan.
“Kami berharap dukungan ini bisa meringankan kebutuhan petugas selama proses pemadaman dan kebakaran segera bisa dikendalikan,” tandas mantan ASN Pemkab Probolinggo itu.
Dukungan pelaku wisata terhadap penanganan kebakaran Bromo bukan kali pertama dilakukan. Henry Kurniawan, anggota PHRI sekaligus penggerak Forum Sahabat Gunung (FSG) mengatakan keterlibatan pelaku usaha sudah dilakukan sejak kebakaran sebelumnya.
Menurut Henry, kepedulian terhadap kawasan Bromo tidak hanya muncul ketika api berkobar. Pelaku usaha wisata juga beberapa kali terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan di kawasan tersebut.
“Ini bukan pertama kali kami turun membantu. Saat terjadi kebakaran sebelumnya, teman-teman pelaku wisata juga ikut bergerak. Jadi ketika ada persoalan di Bromo, kami berusaha hadir sesuai kemampuan masing-masing,” kata Henry.
Keterlibatan itu, lanjut dia, juga terlihat dalam kegiatan menjaga kebersihan kawasan. Pelaku wisata bersama komunitas pernah melakukan kegiatan sosial, termasuk aksi membersihkan sampah di kawasan Bromo.
“Kami tidak ingin hubungan dengan Bromo hanya soal bisnis dan kunjungan wisatawan. Ada tanggung jawab bersama untuk menjaga kawasan ini. Kegiatan bersih-bersih sampah juga sudah beberapa kali kami lakukan,” ujarnya.
Petinggi Lava Corp ini, menilai kawasan Bromo merupakan ruang hidup bersama. Keberlangsungan pariwisata, menurut dia, tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan yang terjaga.
Karena itu, ketika kebakaran kembali muncul, pelaku usaha memilih ikut mengambil bagian. Bentuknya tidak harus selalu berada di garis depan pemadaman, tetapi bisa melalui penyediaan air, makanan, maupun kebutuhan lain bagi petugas.
“Kami tentu berharap api segera bisa dikendalikan. Yang bisa kami lakukan adalah membantu kebutuhan di lapangan agar teman-teman yang bertugas bisa lebih terbantu,” kata Henry. (lai/saw)





















