Peneliti Ungkap 19 Macan Tutul Jawa di Bromo, Warga Diajak Jaga Habitat

12

Probolinggo (WartaBromo.com) – Ratusan kamera pengintai menjadi mata bagi para peneliti untuk mengungkap kehidupan macan tutul jawa (Panthera pardus melas) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Dari rekaman yang dikumpulkan selama lebih dari dua tahun, tim berhasil mengidentifikasi 19 individu satwa endemik Pulau Jawa tersebut.

Temuan itu diperoleh melalui pemasangan 160 kamera pengintai dalam program Java-Wide Leopard Survey (JWLS). Hasil pemantauan sejak Januari 2024 hingga Agustus 2026 mengidentifikasi tujuh macan tutul jantan, sepuluh betina, dan dua anakan.

Kehadiran satwa tersebut terdeteksi di 46 stasiun kamera atau sekitar 58 persen dari seluruh titik pemantauan. Sebagian besar rekaman berasal dari kawasan hutan yang relatif masih terjaga.

Bagi peneliti, setiap gambar yang terekam bukan sekadar bukti kemunculan satwa. Data tersebut menjadi bahan untuk mengenali individu, memetakan persebaran, sekaligus membaca kondisi habitat yang mendukung kehidupan predator puncak itu.

Tim juga mengumpulkan 44 sampel kotoran atau scat untuk pemeriksaan DNA. Pengujian tersebut diharapkan melengkapi informasi mengenai populasi dan keragaman genetik macan tutul jawa di kawasan TNBTS.

Field Coordinator Java-Wide Leopard Survey Region Timur, Ummi Farikhah, mengatakan temuan tersebut perlu diikuti upaya perlindungan habitat secara berkelanjutan. Sebab, keberadaan macan tutul tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan mangsa, tetapi juga kondisi hutan dan keterhubungan antarkawasan.

Survei mencatat 46 jenis satwa di kawasan TNBTS. Sebanyak 26 jenis di antaranya berpotensi menjadi mangsa alami macan tutul jawa.

Menurutnya, fragmentasi hutan dapat membatasi pergerakan satwa dan menghambat hubungan antarpopulasi. Karena itu, perlindungan habitat, pemantauan berkala, serta pemeliharaan koridor ekologis perlu menjadi perhatian.

“Keberadaan mangsa alami memberikan harapan. Namun, habitat dan jalur jelajah macan tutul juga harus tetap terhubung,” kata Ika, begitu ia disapa.

Ancaman terhadap keberlangsungan populasi turut terlihat dalam hasil awal Population Viability Analysis (PVA), yakni analisis untuk memperkirakan peluang suatu populasi bertahan dalam jangka panjang. Dengan proyeksi hingga 100 tahun, populasi macan tutul jawa di TNBTS masuk kategori risiko sedang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa populasi masih memiliki peluang untuk bertahan. Namun, peluang itu sangat bergantung pada keberhasilan menjaga habitat, mencegah fragmentasi hutan, serta mengantisipasi konflik antara manusia dan satwa liar.

Upaya konservasi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Mereka menjadi pihak yang berinteraksi langsung dengan lingkungan tempat macan tutul jawa hidup.

Handrawilie Romneya Liefdie, warga Desa Penanggal, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, menyebut keberadaan macan tutul menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat sekitar. Namun, kebanggaan itu perlu dibarengi pemahaman mengenai perilaku satwa liar.

Menurut dia, sosialisasi secara berkala penting dilakukan agar warga mengetahui cara menyikapi perjumpaan dengan satwa serta memahami pentingnya mencegah perburuan.

“Perlindungan macan tutul perlu menjadi kesadaran bersama. Warga juga harus dilibatkan, bukan hanya mengandalkan pengelola kawasan,” ujarnya.

Sejak 2024, program JWLS turut memberikan pelatihan kepada para pihak yang terlibat dalam kegiatan konservasi. Materinya meliputi teknik survei, pengelolaan kamera pengintai, hingga analisis data.

Pelatihan tersebut menyasar peneliti, petugas kawasan, dan komunitas lokal. Penguatan kapasitas ini diharapkan membuat kegiatan pemantauan dan perlindungan satwa dapat berjalan lebih efektif.

Program pemantauan macan tutul jawa di TNBTS melibatkan Kementerian Kehutanan, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), Bakti BCA, dan Yayasan SINTAS Indonesia.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan perlindungan macan tutul perlu didasarkan pada kajian ilmiah dan kondisi nyata di lapangan. Sebagai predator puncak, keberadaan satwa tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan.

“Menjaga macan tutul berarti turut melindungi habitat dan ekosistem tempat satwa itu hidup,” kata Hera dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).

Dukungan berbagai pihak, menurut dia, menjadi bagian penting untuk memastikan upaya konservasi tidak berhenti pada pendataan populasi. Hasil pemantauan juga perlu diterjemahkan menjadi langkah perlindungan yang tepat.

Temuan 19 individu macan tutul jawa di TNBTS menjadi gambaran bahwa kawasan tersebut masih menyediakan ruang hidup bagi satwa langka. Namun, keberadaan mereka sekaligus mengingatkan bahwa kelestarian populasi bergantung pada kemampuan semua pihak menjaga hutan sebagai habitat alaminya.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.