
Probolinggo (wartabromo.com) – Ada banyak cara dilakukan oleh personel kepolisian untuk menjaga Kamtibmas di wilayah hukumnya. Seperti yang dilakukan Brigpol Mujiono, anggota Polsek Kraksaan, yang menggunakan sarana pijat untuk pendekatan terhadap masyarakat.
Mempunyai keahlian bisa memijat sejak kecil, dimanfaatkan oleh Mujiono untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Maklum Babinkamtibmas Desa Rondokuning, Kecamatan Kraksaan ini, baru sekitar 4 bulan berdinas di wilayah hukum Polres Probolinggo. Sebelumnya ia berdinas di Polsek Gabungan, Polrestabes Surabaya. Dalam mempraktekkan pijatnya pun, ia tetap memakai seragam dinasnya.
“Alhamdulillah, saya diberikan amanah menjadi Babinkamtibmas. Sehingga saya kembali membagikan keahlian pada masyarakat. Sebelumnya, keahlian memijat saya sempat tidak dipraktekkan karena kesibukan dinas di Surabaya. Disini sambil memijat, saya menyampaikan pesan-pesan kamtibmas,” tuturnya kepada wartabromo.com, Sabtu (7/7/2018).

Pria kelahiran 27 Mei 1978 itu menceritakan, dirinya awal praktekkan pijat itu di Masjid Ar-Raudhah Kota Kraksaan. Saat itu, selepas sholat Subuh, ada jamaah di masjid yang sholatnya terpaksa duduk di kursi.
“Kemudian, saya coba pijat urat-urat di bagian kaki, punggung dan tubuhnya. Alhamdulillah, kaki jamaah itu bisa lurus dan ditekuk, ungkapnya.
Setelah itu, Mujiono kemudian sering memijat orang saat berpatroli dan sambang warga. Saat memijat warga, ia lebih suka berada di tengah banyak orang. Selain menyampaikan pesan kamtibmas, cara memijatnya itu bisa dipelajari orang banyak dan langsung dipraktekkan. Karena, dirinya ingin keahlian yang dimiliki bisa dibagikan pada orang lain.
“Belajarnya otodidak, saat dipijat oleh mbah dan ibu diingat-ingat. Kebetulan beliau berdua merupakan tukang pijat. Akhirnya waktu SMP saya bisa pijat dan saya praktekkan ke teman-teman di mushola. Kebetulan, dulu masih kecil, biasa tidur di mushola,” terang pria asal Madiun ini.
Mujiono sendiri menjadi anggota Polri pada tahun 1998 silam. Saat itu, dirinya daftar di bintara, tapi tidak lolos saat pantukir pusat. Kemudian, dirinya langsung diterima sebagai anggota Polri satu tingkat di bawahnya, yaitu tamtama.
“Awal saya dinas langsung di Polda Jatim,” ujar penyuka renang ini.
Saat ini, beberapa kiai dan tokoh masyarakat menikmatinya pijatnya. Seperti KH. Hafid Aminuddin, pengasuk Pondok Pesantren Saqo Rangkang. Bahkan sejumlah perwira di jajaran Polres pun biasa minta dipijatkan pada dirinya.
“Keahlian saya memijat, saya gunakan untuk pendekatan dan mengenal di tengah masyarakat. Karena, tugas saya menjadi anggota Polri, harus bisa hadir dan diterima di tengah-tengah masyarakat,” tandas ayah dua anak ini.
Kapolres Probolinggo AKBP. Fadly Samad mengaku tidak melarang anggotanya mempraktekkan keahliannya. Apalagi keahlian itu digunakan untuk menunjang kinerja saat berdinas. Sehingga program kegiatan yang ditargetkan, yakni Kamtibmas yang kondusif di wilayahnya tercapai.
“Bagus, karena menjadi polisi itu harus bisa mengayomi dan melayani masyarakat dengan segala bentuknya. Tidak boleh kaku hanya pada ilmu kedinasan saja, harus fleksibel. Keahlian yang dimiliki juga bisa dimanfaatkan,” kata Kapolres. (saw/saw)




















