All In Tejowangi: Warga Rela Macet Tembus Sawah dan Jurang Demi Sampai Lokasi TEC 2026

11

Purwosari (WartaBromo.com) – Kalau biasanya keramaian sound horeg melahirkan konten tentang penampilan dancer di depan sound, ada fenomena berbeda yang muncul dalam gelaran Tejowangi Ethnic Carnival (TEC) 2026.

Bukan lagi soal siapa yang paling ramai menampilkan dancer, penonton justru ramai-ramai membagikan konten perjalanan menuju lokasi.

Video-video perjalanan menuju Desa Tejowangi, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, beredar di media sosial. Isinya beragam, mulai dari perjalanan melewati jalur sempit, jembatan di sekitar lintasan rel kereta api, areal persawahan, hingga antrean kendaraan yang mengular menuju lokasi parkir.

Bagi sebagian penonton, perjalanan menuju lokasi menjadi bagian tersendiri dari pengalaman mengikuti TEC 2026.

Desa Tejowangi memang berada di kawasan yang dikelilingi sejumlah desa. Dari beberapa arah, akses menuju lokasi harus melewati wilayah Desa Sekarmojo, Pucangsari, Cabang dan Martopuro.

Pantuan wartabromo.com di lokasi, kondisi tersebut membuat sebagian penonton memilih berjalan kaki setelah kendaraan mereka harus berhenti di tengah kepadatan. Bahkan ada yang menempuh perjalanan hingga beberapa kilometer untuk bisa mencapai titik utama kegiatan.

“Adu Konten” Perjalanan

Keramaian TEC 2026 akhirnya tidak hanya terjadi di lokasi karnaval.

Di media sosial, sejumlah penonton justru menunjukkan bagaimana mereka mencapai Tejowangi. Ada yang merekam perjalanan dari titik parkir, menyusuri jalan di antara persawahan, hingga berjalan kaki karena kendaraan tidak lagi bisa mendekati lokasi.

Jalur rel kereta api yang melintas di kawasan tersebut juga menjadi salah satu bagian yang muncul dalam konten perjalanan penonton.

Bagi mereka, video tersebut menjadi semacam dokumentasi bahwa untuk menyaksikan sound yang ditunggu, perjalanan menuju lokasi juga menjadi cerita tersendiri.

Terlebih, antusiasme terhadap TEC 2026 memang cukup besar.

Seperti diberitakan sebelumnya, ribuan pecinta sound horeg datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, mulai Pasuruan, Malang, Mojokerto, Sidoarjo, Jombang dan sekitarnya. Bahkan ada pula penonton yang datang dari Pati dan Semarang, Jawa Tengah.

Ada HTM untuk Masuk Lokasi

Besarnya jumlah massa membuat panitia menerapkan HTM atau tiket masuk menuju lokasi kegiatan.

Ketua Panitia TEC 2026, Kusnadi, sebelumnya menyebut tiket tersebut diberlakukan sebagai salah satu upaya mengendalikan jumlah massa yang datang.

Pasalnya, sejak malam cek sound pada Jumat (2/10/2026), jumlah pengunjung sudah di luar perkiraan panitia.

“Tidak diprediksi sebanyak ini. Pada Jumat malam saja ribuan orang datang. Akhirnya kita juga harus batasi,” kata Kusnadi.

Dengan kondisi tersebut, perjalanan menuju lokasi pun menjadi bagian dari pengalaman tersendiri bagi para pengunjung.

Sound yang Ditunggu, Bukan Sekadar Karnaval

TEC 2026 diikuti 25 peserta sound yang berasal dari sejumlah RT di lima dusun di Desa Tejowangi, yakni Kemirahan, Sumberrejo, Juri, Kebonduren dan Kebonwangen.

Sejumlah nama yang tampil antara lain Noval Arjuna Audio, JM Putra Audio, STL Audio, Jazila Audio, JMP Audio, Sonic Musik, Kuda Perkasa Audio, Desmo, BRT Audio, Laba Laba Audio, Bagoes Family Audio, Shae Audio, NJM Audio, Riswanda One, RDA Audio, Rizky Jaya Reborn, Hasil Bumi Audio, New ABD, Singamas Audio, RJ Junior, Tian Pro Audio, Brewog Audio, H Pro, Xablenk Audio dan Linggar Jati.

Karena sebagian besar penonton memang datang untuk menyaksikan sound tertentu, panitia tidak membiarkan seluruh kendaraan harus menempuh jalur hingga garis akhir untuk bisa tampil.

Panggung utama atau panggung kehormatan ditempatkan di tengah jalur karnaval. Jika seluruh jalur di dalam desa ditempuh, jaraknya bisa mencapai sekitar tiga kilometer.

Peserta diwajibkan melakukan penampilan di titik start dan panggung kehormatan yang telah disiapkan panitia.

Strategi tersebut juga menjadi solusi karena kendaraan sound berukuran besar bergerak cukup lambat di jalur yang sebagian menurun dan dipadati penonton.

Sebagian penonton pun memilih berkonsentrasi di sekitar titik penampilan. Mereka rela menunggu cukup lama demi menyaksikan sound yang menjadi favoritnya melintas.

Linggar Jati dan Kereta yang Melintas

Salah satu momen menarik terjadi ketika peserta terakhir, Linggar Jati, yang merupakan peserta terakhir melintas.

Rombongan tersebut sempat terhenti karena harus menunggu kereta api melintas di jalur rel yang berada di kawasan Desa Tejowangi.

Momen itu bahkan menjadi tontonan tersendiri. Setelah kereta melintas, rombongan sound kembali melanjutkan perjalanan di tengah kepadatan penonton.

Sementara itu, ribuan warga dan penonton tetap bertahan hingga malam bahkan dini hari.

Rumah dan halaman warga ikut menjadi bagian dari kegiatan. Ada yang digunakan untuk berdagang, tempat menonton, bahkan tempat menginap. Pedagang juga disebut menyewa lahan warga dengan kisaran Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.

Bagi warga Tejowangi, kegiatan ini juga menjadi momentum yang dipersiapkan secara swadaya. Sejumlah pemuda bahkan patungan untuk menghadirkan sound yang mereka inginkan.

“Ya dadakan, tapi ini sangat luar biasa antusiasme warganya. Para pemuda yang mampu urunan. Semoga ini membuat semuanya lancar dan sukses,” kata Arifin, salah satu panitia TEC 2026.

Pada akhirnya, TEC 2026 tidak hanya menyisakan konten tentang suara besar dan penampilan di atas panggung.

Bagi sebagian penonton, rupanya perjalanan menuju sound yang ditunggu pun sudah menjadi bagian dari keseruan TEC 2026. (red)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.