Menemukan Jalan Hidup di Kebun Hidroponik, Pandu Panen 600 Kg Selada dan Tinggalkan Pabrik

11

Laporan: Akhmad Romadoni

Keputusan meninggalkan pekerjaan tetap setelah hampir 10 tahun bukan perkara mudah. Terlebih, pekerjaan itu berada di perusahaan yang cukup mapan dengan penghasilan yang relatif stabil. Namun, Pandu Putra Efendi memilih mengambil risiko. Pria asal Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan itu memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai operator forklift demi serius mengembangkan bisnis sayur hidroponik.

Keputusan tersebut bukan datang secara tiba-tiba. Pandu sudah merintis usaha hidroponik sejak 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, kebijakan pembatasan aktivitas membuatnya memiliki lebih banyak waktu luang untuk mempelajari cara menanam sayuran tanpa menggunakan media tanah.

Awalnya, ide itu muncul dari keluhan sejumlah saudaranya yang berjualan gado-gado. Mereka kesulitan mendapatkan selada dengan harga terjangkau. Bahkan, harga selada saat itu bisa mencapai Rp35 ribu per kilogram dan terkadang sulit ditemukan di pasaran.

Dari persoalan sederhana tersebut, Pandu justru melihat peluang usaha.

“Saya melihat peluang. Saudara saya yang jualan gado-gado mengeluhkan harga selada yang mahal dan barangnya juga tidak ada. Saya hitung ada sekitar 10 orang yang berjualan gado-gado di Pasuruan. Kalau kebutuhan selada mereka bisa saya penuhi, sepertinya lumayan,” ceritanya.

Berbekal rasa penasaran, Pandu mulai belajar hidroponik secara otodidak. Sedikit demi sedikit, ia mencoba menanam selada hingga akhirnya mampu menghasilkan sayuran yang bisa dipasarkan.

Perjalanan itu tidak langsung membuatnya meninggalkan pekerjaan utama. Selama beberapa tahun, Pandu menjalankan dua aktivitas sekaligus. Pagi hingga sore mengurus kebun, sementara waktu lainnya menyesuaikan jadwal kerja pabrik yang menggunakan sistem tiga shift.

Ketika masuk pagi, ia mengurus kebun sepulang kerja. Saat mendapat jadwal masuk siang, ia memanfaatkan pagi hari untuk memeriksa tanaman. Bahkan, ketika mendapat shift malam, waktunya untuk berkebun bisa lebih leluasa.

Namun, menjalankan dua pekerjaan sekaligus bukan tanpa konsekuensi. Kebun terkadang terbengkalai ketika pekerjaan di pabrik sedang padat, terutama saat lembur.

Padahal, potensi produksi kebunnya jauh lebih besar dibandingkan hasil yang mampu ia capai saat itu.

“Menurut hitung-hitungan saya, seharusnya satu bulan bisa menghasilkan 200 kilogram. Tapi karena kesibukan di pabrik dan keterbatasan tenaga, akhirnya hanya 50 sampai 100 kilogram. Sayang, hampir separuh potensinya hilang,” ungkapnya.

Memilih Resign Setelah Menghitung Risiko

Keinginan untuk fokus mengembangkan usaha sebenarnya sudah muncul sejak dua hingga tiga tahun sebelumnya. Namun, Pandu tidak ingin mengambil keputusan hanya bermodal keinginan.

Ia lebih dulu menghitung kebutuhan hidup dan kemampuan kebunnya menghasilkan uang. Hasil dari usaha hidroponik terus diputar untuk memperluas lahan dan meningkatkan kapasitas produksi.

Hingga akhirnya, pada April 2026, ia merasa sudah cukup siap meninggalkan pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilan tetap.

“Setelah saya hitung-hitung, hasil dari kebun sudah mencukupi untuk biaya hidup sehari-hari bersama anak dan istri. Akhirnya saya putuskan April 2026 sudah waktunya resign,” katanya.

Keputusan itu sempat mengundang keraguan keluarga besarnya. Banyak yang menyayangkan karena ia meninggalkan pekerjaan di perusahaan yang dinilai cukup bagus dan menjanjikan.

Namun, Pandu sudah memiliki perhitungan sendiri. Ia juga menjelaskan rencana tersebut kepada istrinya, termasuk potensi penghasilan dan peluang pengembangan usaha.

Bagi Pandu, ada hal lain yang tak kalah penting dibandingkan urusan penghasilan. Yakni, waktu bersama keluarga.

Selama bekerja di pabrik sekaligus mengurus kebun, waktunya nyaris habis untuk pekerjaan. Sementara itu, istrinya harus mengurus tiga anak mereka yang masih kecil seorang diri.

“Saya melihat istri kasihan. Anak masih kecil-kecil, dia merawat sendiri sampai pontang-panting. Saya juga sudah tidak bisa banyak membantu karena sibuk di pabrik dan mengurus kebun,” tuturnya.

Kini, setelah fokus mengelola kebun, ia merasa memiliki keleluasaan lebih besar. Ia bisa mendampingi anak-anak, membantu istri, hingga sewaktu-waktu menemani orang tuanya yang sudah lanjut usia ketika membutuhkan bantuan.

Selada Jadi Andalan, Produksi Tembus 600 Kilogram

Di kebun yang sekarang dikelolanya, Pandu lebih banyak membudidayakan selada. Selain itu, ia juga menanam pakcoy, kangkung, selada romaine, dan kale di kebun lainnya.

Dengan harga jual Rp25 ribu per kilogram, produksi kebunnya kini rata-rata mencapai 15 hingga 20 kilogram setiap hari.

“Jika kondisi tanaman bagus, kapasitas produksi bisa menembus 500 hingga 600 kilogram dalam sebulan,” kata pria yang sudah memiliki tiga anak itu.

Dari jumlah tersebut, omzet penjualan berpotensi mencapai Rp12 juta hingga Rp13 juta per bulan.

Pasarnya pun tidak hanya berasal dari pedagang sayur. Sebagian besar pelanggannya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar Pasuruan.

Mulai dari usaha katering, tahu campur, burger, hingga pedagang gado-gado menjadi pelanggan tetap yang membutuhkan pasokan selada secara rutin.

Menariknya, Pandu memilih mempertahankan harga jual Rp25 ribu per kilogram meskipun harga di pasaran mengalami perubahan.

Saat harga selada di pasar naik hingga Rp60 ribu bahkan Rp70 ribu per kilogram akibat kelangkaan pada musim hujan, ia tidak ikut menaikkan harga.

Sebaliknya, ketika harga pasar turun menjadi Rp5 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram, ia juga tidak ikut menurunkan harga.

“Kami punya standar sendiri, tetap stabil di Rp25 ribu. Tidak terpengaruh harga pasar,” jelasnya.

Strategi tersebut membuat pelanggan memiliki alternatif pasokan dengan harga yang relatif konsisten. Bahkan, ketika harga selada di pasaran melonjak, permintaan ke kebunnya justru meningkat.

Pernah Gagal Panen, Kehilangan Potensi 500 Kilogram

Meski terlihat menjanjikan, bisnis hidroponik juga memiliki tantangan tersendiri. Cuaca ekstrem menjadi salah satu kendala yang cukup sering dihadapi.

Panas berlebihan dapat membuat akar tanaman tidak kuat, membusuk, hingga menyebabkan selada layu. Dalam kondisi cuaca seperti sekarang, ia mengaku bisa membuang sekitar lima hingga 10 tanaman rusak setiap hari.

Namun, tantangan terberat bukan sekadar tanaman yang rusak. Pandu pernah mengalami gagal panen akibat serangan penyakit busuk akar dan busuk batang yang disebabkan jamur maupun bakteri.

Akibatnya, potensi panen sekitar 500 kilogram dalam satu siklus produksi hilang. Selama satu setengah bulan, ia bahkan tidak mendapatkan penghasilan dari kebun tersebut.

“Saya pernah 500 kilogram hilang, gagal panen semuanya,” pungkasnya.

Kerugian itu bukan hanya soal uang, tenaga, dan waktu. Ada tanggung jawab kepada pelanggan yang juga harus dipikirkan.

Sebagian besar pelanggan Pandu merupakan pelaku UMKM yang membutuhkan selada setiap hari untuk menjalankan usaha mereka. Karena terbiasa mendapatkan pasokan secara rutin, mereka mengandalkan kebun Pandu sebagai salah satu sumber bahan baku.

“Ketika gagal panen, semuanya habis. Kalau mulai dari nol lagi, butuh sekitar dua bulan sampai panen. Itu yang menjadi beban pikiran saya karena tidak bisa menyuplai pelanggan seperti biasanya,” ungkapnya.

Dari pengalaman tersebut, Pandu menyadari bahwa usaha hidroponik tidak bisa hanya mengandalkan kebun sendiri.

Ia mulai membangun kolaborasi dengan sesama petani hidroponik. Jika suatu saat kebunnya mengalami masalah atau gagal panen, kebutuhan pelanggan bisa dipenuhi melalui hasil panen petani lain.

Dengan begitu, hubungan dengan pelanggan tetap terjaga meskipun produksi kebunnya sedang terganggu.

Bukan Sekadar Mengejar Penghasilan

Bagi Pandu, keputusan meninggalkan pekerjaan pabrik bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan lebih besar. Ia ingin membangun usaha yang bisa memberikan penghasilan sekaligus ruang lebih luas untuk menjalani kehidupan bersama keluarga.

Penghasilan dari kebun saat ini memang belum jauh berbeda dengan penghasilan ketika masih bekerja di pabrik sambil menjalankan usaha hidroponik. Namun, ada sesuatu yang kini lebih ia nikmati: kebebasan mengatur waktu.

“Kalau uangnya relatif. Cukup ya dibuat cukup. Yang paling saya syukuri sekarang lebih banyak waktu untuk keluarga, anak, dan orang tua. Kalau orang tua kenapa-kenapa, saya bisa langsung berangkat,” pungkasnya.

Dari keluhan sederhana pedagang gado-gado tentang mahalnya harga selada, Pandu menemukan jalan untuk membangun usaha sendiri. Lima tahun lebih belajar dan melewati berbagai kegagalan akhirnya mengantarkannya pada keputusan besar: meninggalkan pekerjaan tetap demi merawat kebun yang dahulu hanya menjadi kegiatan pengisi waktu luang. (don)

 

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.