“Mereka itu anak-anak kuat. Baru lahir saja sudah disuguhi dentuman sound horeg, diajari tembak-tembakan saat main game. Andai mati pun, mereka syahid karena membela negara.”
Oleh: Abdur Rozaq
Angin malam membawa hawa gerah ke warung Cak Sueb. Kemarau pada puncaknya, resah di hati para peminum kopi itu juga di ambang batasnya. Paling tidak, tawa renyah cekakaan tak terdengar sama sekali. Mahmud Wicaksono terus sibuk dengan HP-nya. Mumpung tersambung dengan wifi colongan. Cak Paijo LSM lebih banyak diam, Wak Takrip menatap kosong ke arah sawah yang kini diurug hendak dijadikan bangunan. Bahkan, Gus Karimun sepertinya sedang khusyu dzikir qolby. Dzikir diam-diam dalam hati. Kiai muda itu hanya diam, hanya jarinya yang mengetuk-ngetuk meja dengan halus. Menjadi panduan agar ritme dzikir “Allah Allah” dalam hatinya tidak terputus.
“Gus, apa benar perang dunia sebentar lagi terjadi?” Tanya Cak Paijo LSM akhirnya tak betah.
“Lho, kok tanya saya? Saya bukan pengamat geopolitik, kok,” jawab Gus Karimun.
“Ndak, barangkali ada ilham, atau hasil istikharah ta apa.” Kejar Cak Paijo LSM. Gus Karimun terdiam lama. Tapi akhirnya menjawab juga.
“Saya tak mendapat ilham apa-apa, cak.”
“Serius, gus?”
“Iya, cuma beberapa bulan terakhir ini, saya merasa bingung tanpa sebab,” jelas Gus Karimun.
“Lha itu maksud saya,” ujar Cak Paijo LSM.
“Ada rasa takut tanpa sebab apapun, ya gus?” Timpal Mahmud Wicaksono ikut nimbrung.
“Iya, sedikit. Tapi saya lawan dengan dzikir. Jadinya sedikit tenang,” kata Gus Karimun.
“Negara-negara Eropa mengeluarkan panduan darurat buat rakyatnya, gus. Menurut firasat sampeyan, apa segera perang nuklir?” Cecar Mahmud Wicaksono. Gus Karimun malah kembali terdiam.
“Gus, apa sampeyan mendapat firasat perang dunia ketiga, bencana massal atau pandemi buatan?” Cecar Cak Paijo LSM. Gus Karimun malah mengeluarkan sebatang rokok Dji Sam Soe refill dan menyulutnya. Kedua kawannya itu juga disodorinya.
“Saya memang mendapat firasat. Tapi insya Allah malah kabar baik. Insya Allah, negara Cak Manap ini akan selamat. Ya, meskipun sedikit banyak juga terdampak pada awalnya.”
“Tiga puluh negara Eropa mempersiapkan rakyatnya bertahan hidup, gus. Jepang juga. Malah sekarang, Thailand juga ikut-ikutan. Sebenarnya mau ada apa sih, gus?” Kata Cak Soleh Las ikut nimbrung. Gus Karimun malah kembali diam.
“Sementara penguasa kita di sini, malah tenang-tenang saja.” Timpal Cak Paijo LSM “Tak ada anjuran bertahan hidup, tak ada instruksi keadaan darurat. Nanti kalau ada perang sungguhan, baru mendiskusikan cara mengantisipasi,” cerocos Cak Paijo LSM lagi.
Saat semua orang serius begitu, Gus karimun Malah tertawa, hampir ngakak. “Mungkin penguasa kita sudah tahu, selama ini kan kita sudah hidup dengan mode darurat?”
“Maksudnya?” Mahmud Wicaksono bertanya penasaran.
“Kalau soal kehabisan beras, kehabisan LPG, kehabisan token listrik, kita kan sudah biasa? Orang Eropa perlu diingatkan pemerintahnya, karena tak biasa hidup seperti itu. Kalau kita kan sudah terbiasa hidup dalam keadaan darurat? Berarti pemerintah kita sudah bijak. Tidak menambah kepanikan, karena mode bertahan hidup sudah kita lakukan sejak kita lahir?” semua orang saling tatap, lalu ngakak hampir bersamaan.
“Andai nanti perang dunia sungguhan, kita takkan seberapa kaget. Sudah terbiasa.”
“Tapi ini soal nyawa, lho gus. Kalau sampai perang nuklir, kita akan ikut inna lillahi juga,” sergah Cak Soleh Las.
“Ya malah enak. Bisa istirahat sejenak di alam barzakh. Daripada hidup di dunia, penuh sandiwara begini. Yang sandiwara ijazah, lah. Sandiwara sadap-sadapan lah. Saling hujat di media sosial, lah. Masa sampeyan semua belum muak juga melihat para elit main sirkus? Masa belum kapok juga mendengar dan membaca berita yang selalu buruk?”
“Lha anak-anak kita bagaimana gus? Bagaimana kalau diinvasi negara lain, dibantai, mati kelaparan?” buru Cak Paijo LSM.
“Mereka itu anak-anak kuat. Baru lahir saja sudah disuguhi dentuman sound horeg, diajari tembak-tembakan saat main game. Andai mati pun, mereka syahid karena membela negara.”
“Kok kesannya seperti putus asa, sih gus?”
“Lho, ini malah pikiran optimis, kok. Daripada kita ikut-ikutan paranoid seperti orang-orang Eropa itu, kan lebih baik nekad sekalian. Andai saat ini Singapura dan aliansinya menyerang negara Cak Manap ini, ya kita ikut perang. Daripada mati dalam ppelarian kan lebih keren mati dalam perang?”
“Halah, moh. Wong negara Cak Manap ini hanya milik para elit. Ada perang pasti mereka kabur dengan membawa uang colongannya.”
“Mau lari kemana, wong semua negara pada chaos?” Sanggah Gus Karimun.
“Kalau ada perang, sekalian kita hukum mereka. Kita jadikan sasaran latihan menembak,” Gus Karimun ngakak tanpa terasa.
“Wis talah. Insya Allah, insya Allah negara Cak Manap ini menjadi bagian bumi teraman saat itu,” ujar Gus Karimun menerawang jauh.
“Selama ini kita sudah puasa pati geni hampir sepanjang hidup. Kita dipaksa hidup serba kekurangan, demi para maling mbeldos perutnya, demi bangsa asing merampok kekayaan kita, demi antek asing nyolong sampai temboloknya pecah. Insya Allah sudah waktunya, kita berlebaran dari tirakat panjang, dari bertahan hidup darurat selama ini.”
“Jadi benar perang nuklir akan segera terjadi?”
“Ya nggak tahu, kok tanya saya.”
“Ya barangkali, sampeyan dapat ilham dari Gusti Allah.” Gus Karimun memang diberi tahu, tapi tak ingin membuat para sahabatnya itu panik, stroke, lalu meninggal sebelum terjadi apa-apa sama sekali.





















