Misteri Asal-Usul Untung Suropati: Jejak Bali, Darah Mataram, dan Pasuruan

25
Lukisan Karya Jacob Coeman, Keluarga Pieter Cnoll dan budaknya ( Untung )

Untung Suropati dikenal sebagai pejuang yang menghabiskan sebagian besar perjuangannya melawan VOC. Namun, asal-usulnya masih menyimpan sejumlah versi. Sebuah babad bahkan mengaitkannya dengan keluarga Amangkurat I dari Mataram. Lantas, di mana posisi Pasuruan dalam silsilah dan perjalanan hidup sang pahlawan?

Oleh : Raga Rahmat

Pasuruan memiliki tempat penting dalam sejarah perjuangan Untung Suropati. Nama tokoh yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975 itu tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah daerah ini.

Namun, ada satu hal yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh: apakah hubungan Untung Suropati dengan Pasuruan hanya sebatas perjuangan dan kekuasaan, atau justru memiliki kaitan dengan asal-usul keluarganya?

Pertanyaan tersebut menarik karena kisah kehidupan Untung Suropati ternyata tidak sepenuhnya tunggal. Sejumlah sumber sejarah dan naskah tradisional menyajikan cerita berbeda mengenai kelahiran, keluarga, hingga perjalanan masa kecilnya.

Salah satu versi menyebutnya sebagai anak yang berasal dari Bali. Sementara itu, versi lain dalam tradisi babad mengaitkannya dengan lingkungan keluarga Kerajaan Mataram.

Perbedaan cerita tersebut membuka ruang penelusuran sejarah yang lebih luas, termasuk kemungkinan hubungan Untung Suropati dengan Pasuruan.

Asal-Usul yang Masih Menyimpan Misteri

Nama asli dan tanggal lahir Untung Suropati tidak diketahui secara pasti. Hal tersebut juga dicatat dalam biografi yang diterbitkan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI).

Salah satu sumber yang banyak digunakan untuk menelusuri perjalanan hidupnya adalah buku Untung Surapati karya Ratnawati Anhar yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1984.

Dalam buku tersebut, asal-usul Untung Suropati dibahas melalui sejumlah versi cerita sejarah, termasuk kisah yang bersumber dari Babad Mantawis.

Sementara itu, kajian Guntur S. Wijaya dan sejumlah penulis lainnya dalam Suluk: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya berjudul Peranan Untung Surapati di Wilayah Mataram dalam Babad Trunajaya-Surapati juga menguraikan versi asal-usul yang menghubungkannya dengan Bali.

Dalam kajian tersebut, sejarah Buleleng menyebut Untung Suropati lahir di Puri Jelantik Gelgel, Bali, sekitar 1660. Ayahnya dikisahkan sebagai panglima perang Kerajaan Swecalinggarsapura Gelgel.

Karena fitnah dan konflik yang berkembang, ayahnya bersama rakyat yang masih setia disebut mengungsi menuju Desa Marga, Tabanan. Dalam perjalanan tersebut, Untung yang saat itu berusia sekitar empat tahun terpisah dari rombongan ketika menyeberangi Sungai Ayung.

Kisah tersebut merupakan salah satu versi tradisi sejarah Bali yang menjelaskan latar belakang masa kecil Untung Suropati.

Dalam Babad Trunajaya-Surapati, ia juga dikisahkan kemudian dipungut Kapten Van Beber, seorang perwira VOC yang bertugas di Makassar. Anak tersebut selanjutnya dijual kepada Kapten Moor di Batavia ketika berusia sekitar tujuh tahun.

Sejak memiliki budak tersebut, kehidupan Kapten Moor dikisahkan semakin dipenuhi keberuntungan. Perdagangan dan kekayaannya berkembang sehingga anak itu kemudian diberi nama Untung.

Nama tersebut bukan nama lahir yang dapat dipastikan, melainkan nama yang dalam cerita babad diberikan oleh majikannya karena dianggap membawa keberuntungan.

Menariknya, kisah asal-usul Untung Suropati tidak berhenti pada versi Bali. Ada pula cerita dalam tradisi naskah Jawa yang menghubungkannya dengan garis keturunan keluarga Mataram.

Babad Mantawis dan Jejak Keluarga Mataram

Salah satu bagian yang menarik dalam penelusuran asal-usul Untung Suropati terdapat dalam Babad Mantawis.

Ratnawati Anhar dalam bukunya mengutip keterangan dari naskah tersebut yang menyebut Untung Suropati sebagai keturunan Amangkurat I dari seorang putri yang berasal dari Bali.

Dalam versi cerita tersebut, putri Bali itu disebut sebagai keturunan atau anak dari Rangga Setata.

Keterangan ini menghadirkan perspektif berbeda mengenai latar belakang keluarga Untung Suropati. Jika versi tersebut diikuti, ia bukan hanya dikisahkan sebagai anak yang berasal dari Bali, tetapi juga memiliki hubungan keturunan dengan keluarga Amangkurat I.

Namun, penting untuk memahami posisi cerita tersebut. Keterangan dalam Babad Mantawis merupakan salah satu versi tradisi historiografi Jawa, bukan bukti silsilah yang telah dikonfirmasi melalui dokumen genealogis sezaman.

Karena itu, hubungan darah Untung Suropati dengan Amangkurat I masih harus ditempatkan sebagai dugaan berdasarkan cerita babad.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah penyebutan nama Rangga Setata. Nama tersebut tidak bisa begitu saja disamakan dengan Ronggo Setoto sebagaimana muncul dalam sejumlah penuturan lain tanpa pembuktian dari naskah aslinya.

Demikian pula, belum cukup dasar untuk menyimpulkan bahwa Ronggo Setoto merupakan ayah langsung Untung Suropati.

Dengan demikian, ada dua hal yang perlu dibedakan: cerita mengenai asal-usul Untung Suropati dari Bali dan cerita mengenai kemungkinan hubungan keturunannya dengan keluarga Mataram.

Keduanya memang menarik untuk diperbandingkan, tetapi belum dapat dipastikan sebagai satu silsilah yang utuh.

Dari Kartasura Menuju Pasuruan

Perang di Kartasura, Untung Suropati melawan Kapten Francois Tack

Terlepas dari perdebatan mengenai asal-usulnya, perjalanan Untung Suropati menuju Pasuruan memiliki jejak yang lebih jelas dalam berbagai sumber sejarah.

Setelah melakukan perlawanan terhadap VOC di Batavia, Untung Suropati dan pengikutnya kemudian bergerak menuju Cirebon sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah Mataram.

Dalam Babad Trunajaya-Surapati, kedatangannya di Mataram dikisahkan mendapat sambutan dari lingkungan kerajaan. Ia kemudian memperoleh tempat untuk tinggal dan kesempatan mengabdi kepada Amangkurat II.

Pada masa itu, hubungan Mataram dengan VOC berada dalam situasi politik yang rumit. Amangkurat II menghadapi tekanan dan kepentingan politik yang saling berhadapan.

Untung Suropati kemudian terlibat dalam konflik besar dengan VOC, terutama ketika pasukan yang dipimpin Kapten Francois Tack datang untuk menangkapnya.

Pertempuran tersebut berlangsung di Kartasura. Untung Suropati bersama para pengikutnya melakukan perlawanan hingga Kapten Tack tewas bersama sejumlah serdadu VOC.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan perjuangannya melawan kekuasaan kolonial.

Kajian Guntur S. Wijaya dan kawan-kawan dalam Suluk menjelaskan bahwa setelah peristiwa tersebut, Untung Suropati bergerak menuju Jawa Timur. Dalam sumber yang sama, ia dikisahkan memperoleh wilayah Pasuruan dari Amangkurat II dan menjadi adipati dengan gelar Tumenggung Wiranegara.

Dengan demikian, Pasuruan bukan sekadar tempat persinggahan dalam perjalanan hidup Untung Suropati. Wilayah ini menjadi pusat kekuasaan yang kemudian berkaitan erat dengan perjuangannya menghadapi VOC.

Pasuruan, Tanah Kekuasaan atau Tanah Leluhur?

Pertanyaan mengenai hubungan Untung Suropati dengan Pasuruan menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan cerita silsilah dalam Babad Mantawis.

Jika benar terdapat hubungan keturunan antara Untung Suropati dan keluarga Amangkurat I, sementara dalam penelusuran silsilah keluarga kerajaan terdapat nama-nama yang dikaitkan dengan Pasuruan, maka terbuka kemungkinan adanya hubungan genealogis yang lebih jauh.

Namun, sampai saat ini belum ditemukan bukti yang cukup untuk memastikan bahwa Pasuruan merupakan tanah leluhur Untung Suropati.

Begitu pula belum ada dasar yang kuat untuk menyimpulkan bahwa penunjukan dirinya sebagai penguasa Pasuruan berkaitan langsung dengan asal-usul keluarganya.

Sumber-sumber yang tersedia lebih kuat menunjukkan bahwa Pasuruan merupakan wilayah yang diberikan kepadanya dalam konteks kekuasaan politik Mataram dan perjuangan melawan VOC.

Dalam perspektif sejarah, hal tersebut sudah menjadi bagian penting yang patut diketahui masyarakat Pasuruan.

Untung Suropati kemudian membangun kekuatannya di wilayah Pasuruan dan menjadikannya basis perlawanan terhadap VOC. Perjuangannya berlanjut hingga serangan Belanda ke wilayah Bangil pada 1704. Ia mengalami luka parah dalam pertempuran dan akhirnya wafat pada 1706.

Jejak perjuangan tersebut membuat Pasuruan memiliki hubungan historis yang sangat kuat dengan sosok Untung Suropati.

Adapun pertanyaan apakah Pasuruan juga merupakan tanah leluhurnya masih menjadi ruang penelitian yang terbuka.

Bisa jadi, di balik kisah seorang pejuang yang dikenal berasal dari Bali dan kemudian menjadi penguasa Pasuruan, terdapat cerita keluarga yang lebih panjang. Namun, untuk mengungkapnya diperlukan penelusuran naskah-naskah lama, terutama yang berkaitan dengan silsilah keluarga Mataram dan tokoh-tokoh yang memiliki hubungan dengan Pasuruan.

Sebab, sejarah tidak cukup dibangun dari dugaan yang menarik. Ia membutuhkan sumber, perbandingan, dan pembuktian agar kisah masa lalu tidak berubah menjadi mitos yang dianggap sebagai fakta. (red)

Sumber:

Ratnawati Anhar, Untung Surapati, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984.
Guntur S. Wijaya dkk., Peranan Untung Surapati di Wilayah Mataram dalam Babad Trunajaya-Surapati, Suluk: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, Vol. 1 No. 1. Baca kajian akademik⁠.
Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia, profil Untung Suropati. Baca profil IKPNI⁠
Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.