Tujuh Pahlawan Revolusi yang Gugur dalam Peristiwa G30SPKI

150

Pasuruan (WartaBromo.com) – Peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30SPKI) adalah bagian sejarah yang kelam. Ada tujuh pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa tersebut.

Ketujuh pahlwan tersebut dibunuh dengan cara memilukan oleh anggota PKI. Penculikannya pun dilakukan secara paksa dan tidak manusiawi.

Dilansir dari detik.com, inilah nama-nama ketujuh pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa G30SPKI:

1. Jenderal Ahmad Yani

Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada 19 Juni 1922. Karir militernya begitu bagus, hingga ia diangkat menjadi komandan Tentara Keamanan Rakyat.

Perannya sebagai komandan tentu melibatkannya dalam operasi penting pasca-Indonesia merdeka. Seperti, pemberontakan PKI di Madiun 1948, penumpasan DI/TII di Jawa Tengah dan juga pemberontakan PRRI.

Baca Juga :   Museum Rasulullah di Probolinggo ke Mana?

2. Letjen Raden Suprapto

Pahlawan ini disebut sebagai salah satu penentang rencana PKI dalam membentuk angkatan kelima. Pertentangan tersebut akhirnya memicu amarah bagi anggota PKI.

Suprapto diculik pada 1 Oktober 1945 dini hari dan dibunuh. Jenazah R. Suprapto ditemukan di daerah Lubang Buaya dan dimakamkan beberapa hari kemudian.

3. Letjen S. Parman

Pahlawan bernama lengkap Siswondo Parman ini lahir di Wonosobo, Jawa Tengah. Setelah Indonesia merdeka, ia turut bergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Semasa pendidikan militernya, S. Parman pernah dikirim untuk mengikuti Sekolah Militer di Amerika Serikat pada 1951. Ia juga pernah dikirim ke Inggris sebagai perwakilan Kedutaan Indonesia.

4. Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono (M.T. Haryono)

Penculikan M.T. Haryono sangat dirancang ketat. Bahkan, anggota PKI membentuk 18 anggota resimen. Pada sekitar pukul 03.30, pasukan tersebut telah berada di kediaman Mayjen M.T. Haryono di Jalan Prambanan.

Baca Juga :   Ini Fakta PBB yang Perlu Kalian Tahu

Penculikannya dilakukan paksa dan M.T. Haryono sempat ditembak. Setelah itu ditusuk dengan senjata tajam dan dibawa untuk dimasukkan ke dalam lubang buaya.

5. Mayjen Donald Isaac Pandjaitan

Mayjen Donald Isaac Pandjaitan atau D.I Pandjaitan lahir pada 9 Juni 1925 di Balige, Tapanuli, Sumatra Utara. D.I Pandjaitan juga menjadi salah satu sosok yang membentuk TKR.

Sederet posisi penting pernah diembannya. Sebut saja Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi hingga ditugaskan sebagai atasan Militer RI di Bonn, Jerman.

6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo

Proses penculikan Mayjen Sutoyo dilakukan pada dini hari. Tim culik dari PKI masuk ke rumah Mayjen Sutoyo melalui garasi samping rumah.

Baca Juga :   Mengenal RAA. Soejono, Bupati Pasuruan, Satu-satunya Pribumi yang Jadi Menteri Belanda (1)

Setelah berhasil diculik, Mayjen Sutoyo tak langsung dimasukkan ke lubang buaya. Melainkan dihunani peluru dan disayat-sayat dengan benda tajam lebih dulu.

7. Kapten Pierre Tendean

Pahlawan revolusi yang terakhir adalah Kapten Pierre Tendean. Pierre Tendean lahir di Jakarta, 21 Februari 1939.

Setelah lulus dari Akademi Militer pada 1962, ia lantas mendapatkan mandat untuk menjabat Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Komando Daerah Militer II/Bukit Barisan di Medan.

Peristiwa kelam G30S PKI yang turut menyeretnya terjadi pada saat ia menjadi ajudan Jenderal Nasution. (trj)