Yuk, Simak Keteladan dan Fakta-fakta Kiai Hamid Kota Pasuruan!

285

Pasuruan (WartaBromo.com) – Haul ke-42 KH Abdul Hamid bin Abdullah Umar (Mbah Hamid) Pasuruan digelar hari ini, Senin (25/11/2023). Ada beberapa suri tauladan dan fakta-fakta Kiai Hamid yang menarik untuk disimak.

Sosok kharismatik yang akrab disapa “Mbah Hamid” atau “Kiai Hamid” tersebut memang menjadi panutan bagi banyak umat muslim, utamanya yang berada di Pasuruan. Sebab, ia memiliki peran penting dalam menyebarkan Islam di daerah tersebut.

Nah, dilansir dari jatim.nu.or.id dan beberapa sumber, ternyata ada sejumlah fakta-fakta Kiai Hamid yang menarik:

1. Merupakan Anak Ketiga dari 17 Bersaudara

Kiai Hamid adalah anak ketiga dari 17  bersaudara dan lima di antaranya saudara seibu. Sedari kecil, kiai Hamid dibesarkan dalam naungan keluarga santri.

2. Mulai Belajar Baca Al-Qur’an dari Ayahnya

Hamid kecil mulanya belajar membaca Al-Qur’an dari sang ayah, Kiai Umar yang berperan sebagai tokoh ulama di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Kemudian pada umur sembilan tahun sudah mendapat ilmu dasar fiqh.

Baca Juga :   Maling Motor di Purwosari Diringkus, Pernah Beraksi di Lima TKP

3. Tanda-Tanda Bakal Jadi Ulama Besar Sudah Terlihat Sejak Kecil

Menurut cerita, Hamid muda sangat disayang baik oleh ayah maupun kakeknya. Bahkan, sedari kecil sudah tampak tanda-tanda bahwa ia akan jadi wali dan ulama besar.

4. Dikisahkan Sudah Bertemu Rasulullah pada Usia 6 Tahun

Menurut beberapa kepercayaan yang ada, di usia enam tahun, Hamid kecil sudah bertemu dengan Rasulullah. Kalangan warga NU juga mempercayai hal ini, khususnya sufi.

5. Berkelana Mencari Ilmu Mulai Umur 12 Tahun

Pada usia 12 tahun, akhirnya Kiai Hamid berkelana. Mula-mula belajar di pesantren kakeknya, KH Shiddiq, di Talangsari, Jember. Tiga tahun kemudian diajak sang kakek untuk pergi haji yang pertama kali bersama keluarga, paman serta bibinya.

Baca Juga :   17 PDP Masih Jalani Isolasi di RSUD Bangil

Tak lama kemudian pindah ke pesantren di Kasingan, Rembang. Di desa itu dan desa sekitarnya, Hamid belajar fiqh, hadits, tafsir dan lainnya.

Pada usia 18 tahun, pindah lagi ke Pesantren Tremas, Pacitan. Konon, seperti dituturkan anak bungsunya yang kini menggantikannya sebagai pengasuh Pesantren Salafiyah, KH Idris bahwa pesantren itu sudah cukup maju untuk ukuran zamannya, dengan administrasi yang cukup rapi.

6. Pernah Menjadi Blantik

Kiai Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah.

Maka, untuk menghidupi keluarganya, setiap hari ia harus mengayuh sepeda sejauh 30 kilo meter pulang pergi, sebagai blantik sepeda.

7. Punya Tingkat Kesabaran yang Luas

Kesabaran Kiai Hamid mulai diuji pasca menikah. Saat itu, ia dinikahkan dengan sepupunya sendiri, Nyai H Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Sayangnya, dalam pernikahan tersebut Nyai Nafisah terpaksa karena dijodohkan, sehingga selama 2 tahun tak mau akur dengan Kiai Hamid.

Baca Juga :   Bocah Purwosari Diketahui Hanyut di Sungai Setelah 3 Jam

Namun, Kiai Hamid menghadapinya dengan sabar. Sampai pernikahan mereka dikarunia anak pertama, Anas. Anak pertama mereka ternyata diambil oleh sang pencipta. Duka pun menyelimuti keluarga muda Kiai Hamid.

Tak cukup sampai di situ, ternyata anak kedua mereka pun meninggal dan meninggalkan kesediahan yang amat mendalam, terutama pada Nyai Nafisah.

Kesabaran Kiai Hamid tak hanya terlihat dari sikapnya dalam menghadapi permasalahan keluarga. Tetapi juga dalam menyampaikan syiar-syiar agama, baik kepada keluarganya sendiri maupun orang lain.

Selain ketujuh fakta di atas, sebenarnya masih banyak fakta lain yang terdapat pada sosok almaghfurlah Kiai Hamid. (jun)