Makam Bupati Pasuruan Abad ke-17 di Porodeso, Jejak Sejarah yang Mulai Hilang

6

Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar makam dan nisan kuno itu telah hilang. Kini, hanya sebagian kecil yang masih dapat dijumpai.

Laporan: Raga Rahmat

Di tepian Sungai Gembong, Kota Pasuruan, terdapat sebuah kompleks pemakaman kuno yang menyimpan jejak panjang sejarah pemerintahan Pasuruan. Lokasinya berada di Kelurahan Purworejo, Kecamatan Purworejo. Masyarakat setempat, terutama warga asli Pasuruan, lebih mengenalnya dengan sebutan Porodeso.

Di balik kesederhanaan kawasan pemakaman tersebut, tersimpan kisah seorang penguasa Pasuruan pada abad ke-17. Dialah Kiai Tumenggung Darmoyudo II, sosok yang pernah memimpin Pasuruan.

Tak hanya makam sang adipati, kompleks ini juga menyimpan sejumlah nisan kuno dengan bentuk dan langgam yang beragam. Bahkan, salah satunya diperkirakan berasal dari abad ke-16, lebih tua daripada masa pemerintahan Darmoyudo II. Lantas, seperti apa jejak sejarah yang masih tersisa di Porodeso?

Jejak Sang Adipati di Kompleks Pemakaman Porodeso

Kompleks pemakaman Porodeso berada di Kelurahan Purworejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Letaknya tidak jauh dari aliran Sungai Gembong, salah satu sungai utama yang membelah kawasan perkotaan Pasuruan.

Di dalam kompleks tersebut terdapat sejumlah makam kuno yang memiliki ciri bentuk dan langgam nisan dari masa lampau. Beberapa di antaranya diperkirakan berasal dari abad ke-17. Sementara satu nisan lainnya menunjukkan karakter seni yang telah berkembang sejak abad ke-16.

Namun, daya tarik utama kompleks pemakaman ini bukan semata usia nisannya. Di tempat inilah Kiai Tumenggung Darmoyudo II, salah seorang penguasa Pasuruan pada abad ke-17, dimakamkan.

Darmoyudo II memimpin Pasuruan pada masa peralihan kekuasaan setelah Sultan Agung Hanyokrokusumo mengakhiri pemerintahannya di Mataram Islam. Ia merupakan penerus takhta ayahnya, Darmoyudo I, yang lebih dahulu memerintah wilayah Pasuruan.

Menurut buku Sedjarah Familie & Leloehoer Pati & Joewono (1932/1934), penguasa Pasuruan yang dikenal dengan nama Darmoyudo memiliki gelar lengkap Kiai Tumenggung Darmoyudo. Menariknya, terdapat dua penguasa Pasuruan yang menggunakan gelar tersebut dan memiliki hubungan sebagai ayah dan anak.

Hal ini menunjukkan bahwa Darmoyudo bukanlah nama asli seorang bupati, melainkan gelar yang digunakan secara turun-temurun oleh penguasa Pasuruan pada awal hingga pertengahan abad ke-17.

Keterangan tersebut diperkuat oleh buku Silsilah Pangeran Lanang Dangiran (1983), yang menyebut Kiai Darmoyudo II menjabat sebagai Bupati Pasuruan pada 1626–1646. Ia merupakan putra Kiai Darmoyudo I, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu panglima perang Sultan Agung Hanyokrokusumo di Kasultanan Mataram sebelum kemudian memimpin Pasuruan.

Dengan demikian, keberadaan makam Darmoyudo II di Porodeso menjadi salah satu petunjuk penting untuk menelusuri sejarah pemerintahan Pasuruan pada masa Mataram Islam.

Makam Darmoyudo II dan Nisan Kuno yang Masih Bertahan

Kompleks pemakaman Porodeso yang dapat dijumpai saat ini ternyata tidak seluas kawasan pemakaman pada masa lalu.

Menurut penuturan warga setempat, dahulu area pemakaman membentang hingga ke arah selatan, tepatnya di sekitar kawasan Lapangan Darmoyudo. Kawasan tersebut juga dipenuhi makam dan nisan kuno yang menjadi penanda kehidupan masyarakat Pasuruan pada masa lampau.

Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar makam dan nisan kuno itu telah hilang. Kini, hanya sebagian kecil yang masih dapat dijumpai.

Jika berkunjung ke kompleks pemakaman tersebut, setidaknya terdapat sekitar 15 makam yang masih tersisa. Dari jumlah itu, hanya beberapa makam yang masih memiliki nisan kuno.

Salah satu hal menarik adalah kesamaan bahan pembuatannya. Nisan-nisan kuno yang masih bertahan umumnya menggunakan batu kapur. Material ini menjadi salah satu ciri yang cukup mudah dijumpai pada sejumlah makam kuno di kawasan pesisir Pasuruan.

Selain materialnya, nisan-nisan tersebut juga memperlihatkan keragaman bentuk dan langgam seni.

Nisan makam Kiai Tumenggung Darmoyudo II, misalnya, memiliki langgam Mataram Hanyakrakusuman, yakni gaya seni nisan yang berkembang pada era 1600-an. Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan motif tumpal yang menjadi unsur penting dalam berbagai langgam nisan pada masa Mataram Islam.

Sayangnya, kondisi makam Darmoyudo II saat ini tidak lagi sepenuhnya mempertahankan bentuk aslinya. Bagian jirat atau kijing telah mengalami perubahan sehingga keaslian tampilan makam tersebut tidak lagi utuh.

Perubahan ini sedikit banyak mengurangi nilai keaslian salah satu peninggalan sejarah penting di Kota Pasuruan. Padahal, bentuk asli makam dan nisannya dapat menjadi sumber informasi berharga untuk memahami perkembangan seni pemakaman sekaligus sejarah pemerintahan Pasuruan pada masa lampau.

Tidak jauh dari cungkup makam Darmoyudo II, terdapat tiga makam lain yang juga menarik untuk diperhatikan. Ketiganya memiliki langgam nisan serupa, yakni Mataram Hanyakrakusuman.

Meski memiliki kesamaan gaya, bentuk ketiga nisan tersebut terlihat lebih sederhana. Ornamen yang digunakan juga tidak sebanyak yang terdapat pada nisan makam Darmoyudo II.

Keberadaan makam-makam ini memperlihatkan bahwa kompleks Porodeso tidak hanya menyimpan satu peninggalan dari masa pemerintahan sang adipati, tetapi juga sejumlah makam lain yang memiliki keterkaitan dengan periode sejarah yang sama.

Nisan Abad ke-16, Petunjuk Sejarah yang Lebih Tua

Di antara berbagai peninggalan yang masih tersisa, terdapat satu nisan yang justru diperkirakan lebih tua daripada makam Kiai Tumenggung Darmoyudo II.

Nisan tersebut diidentifikasi oleh tim pegiat sejarah Pasuruan, Sesuluh, sebagai peninggalan dari sekitar abad ke-16. Perkiraan itu didasarkan pada karakter langgamnya yang memiliki kemiripan dengan langgam Troloyo.

Hal lain yang membuat nisan ini menarik adalah keberadaan bekas susunan aksara Arab pada permukaannya. Tulisan tersebut diperkirakan terdiri atas tiga baris. Sayangnya, kondisi nisan yang telah aus membuat sebagian besar aksaranya sulit dikenali.

Hingga kini, satu-satunya lafaz yang masih dapat dibaca adalah lafaz Allah yang berada di bagian paling bawah susunan tulisan tersebut.

Kondisi fisik nisan itu juga sudah tidak utuh. Saat ini, hanya satu bagian yang tersisa sehingga bentuk keseluruhannya tidak lagi dapat diketahui secara pasti.

Meski demikian, keberadaan nisan tersebut menyimpan petunjuk sejarah yang tidak kalah penting. Jika perkiraan usia dan identifikasi langgamnya tepat, kompleks pemakaman Porodeso kemungkinan telah digunakan jauh sebelum masa pemerintahan Kiai Tumenggung Darmoyudo II.

Artinya, jejak sejarah di Porodeso mungkin jauh lebih tua daripada sosok adipati yang selama ini dikenal melalui makamnya.

Kompleks pemakaman Porodeso pada akhirnya bukan sekadar tempat peristirahatan tokoh-tokoh masa lalu. Sisa-sisa nisan yang masih bertahan menjadi saksi perjalanan panjang Pasuruan, mulai dari perkembangan seni pemakaman Islam hingga pergantian penguasa pada masa Mataram Islam.

Sayangnya, sebagian besar peninggalan tersebut telah hilang ditelan waktu. Apa yang tersisa hari ini justru menjadi pengingat bahwa sejarah lokal tidak hanya tersimpan dalam buku dan catatan pemerintahan, tetapi juga pada batu-batu nisan yang mungkin selama ini luput dari perhatian.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.