Probolinggo (WartaBromo.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, akhirnya berhasil dipadamkan setelah membakar area seluas sekitar 1.120,3 hektare.
Meski kobaran api sudah tidak lagi terpantau, Satgas Karhutla TNBTS belum menghentikan penanganan. Petugas masih melakukan pendinginan serta patroli darat dan udara untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Humas Satgas Karhutla TNBTS Mayor Aan Jauhari mengatakan, hasil pemantauan udara menggunakan drone menunjukkan tidak ditemukan lagi titik api di kawasan yang sebelumnya terbakar.
“Alhamdulillah, hasil pemantauan drone udara nihil titik api,” kata Aan.
Namun, kondisi tersebut belum membuat petugas langsung menghentikan operasi. Pendinginan tetap dilakukan untuk mengantisipasi bara yang masih tersimpan di dalam vegetasi atau tanah.
Patroli juga terus dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya titik api baru. Petugas akan menyisir kawasan yang sebelumnya terbakar sekaligus melakukan pembasahan pada sejumlah lokasi.
“Betul, operasi darat dan udara tetap dilakukan untuk pembasahan,” ujar perwira yang juga menjabat sebagai Penrem 083/Baladhika Jaya itu.
Kondisi serupa terpantau di sejumlah wilayah TNBTS yang berada di Kabupaten Probolinggo.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, R Oemar Sjarif mengatakan, tidak lagi ditemukan titik api di kawasan Blok Seruni, Bukit Cinta, Bukit Kingkong hingga Pakis Bincil.
Meski demikian, asap tipis masih terlihat di lokasi yang sebelumnya menjadi titik kebakaran terakhir. “Alhamdulillah, berdasarkan perkembangan terkini, titik api sudah berhasil dipadamkan,” kata Oemar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian petugas karena vegetasi yang terbakar masih berpotensi menyimpan bara. Pemantauan dan pembasahan dilakukan untuk mencegah api kembali muncul.
Berdasarkan asesmen sementara, total kawasan TNBTS yang terdampak karhutla mencapai 1.120,3 hektare.
Kebakaran yang berlangsung sejak awal Agustus itu menyebar ke sejumlah kawasan TNBTS yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.
Penanganan dilakukan secara gabungan melalui operasi darat dan udara. Helikopter water bombing digunakan untuk menjangkau kawasan dengan medan terjal yang sulit diakses pasukan darat.
Setelah api dinyatakan padam, fokus penanganan kini bergeser pada memastikan seluruh kawasan benar-benar aman.
Satgas Karhutla TNBTS masih mempertahankan patroli untuk mengantisipasi perubahan kondisi di lapangan. Pemantauan udara menggunakan drone juga dilakukan sebagai upaya mendeteksi titik panas yang mungkin tidak terlihat dari permukaan.
Sementara itu, dua helikopter water bombing milik BNPB yang masih berada di kawasan Bromo belum dipastikan akan tetap disiagakan atau digeser ke daerah lain yang membutuhkan penanganan karhutla.
“Belum ada informasi (helikopter digeser),” kata Aan. (lai/saw)





















