Penculikan Sukarela

0
60

“Isu penculikan itu bukan hoax, Mas Firman.” Bisik Gus Hafidz di warung Cak Manap.

“Benar-benar terjadi, tapi entah bagaimana masyarakat kok tenang-tenang saja.”

Karena yang bilang Gus Hafidz, Firman Murtado langsung percaya. Gus Hafidz tak pernah berkecimpung di dunia politik, tak pernah menjajakan proposal buat mbangun musholla atau pesantren. Tak pernah bersedia menjadi tim sukses saat pemilu apapun. Tak pernah sekalipun mendirikan atau menjadi anggota LSM, mendaftar jadi pekerja musiman program pemerintah tak jelas juntrungnya apalagi mendaftar jadi pegawai negara.

Gus Hafidz juga tak pernah main-main hukum fikih dan beliau sudah cukup makmur dengan berbagai macam bisnis halalnya. Jika diundang pengajian pun, Gus Hafidz seringkali mensedekahkan lagi amplop pemberian panitia. Maka syarat untuk mempercayai ucapan Gus Hafidz sudah mendekati lengkap. Tak ada indikasi nggedabrus sama sekali dalam diri Gus Hafidz.
Maka Firman Murtado koar-koar ke seantero kampung, kecamatan, kabupaten, propinsi bahkan ke berbagai benua melalui akun sosial medianya yang selalu gonta-ganti nama dan foto profil itu.

“Jangan teledor meski pihak terkait bilang hoax. Penculikan itu benar-benar terjadi. Hati-hati menjaga anak. Jangan hanya sibuk mencari beras. Jangan hanya ayam yang dimasukkan kandang, anak-anak awasi lebih ketat.” Celotehnya di salah satu akun media sosialnya.

penculikan

Ternyata pernyataan Firman Murtado itu bikin resah masyarakat. Orang marah karena pihak terkait sudah berkali-kali bilang hoax, Firman Murtado malah ngotot kalau isu penculikan itu benar. Para worchaholic atau manusia yang terlahir untuk bekerja, resah. Hobi mereka kerja tak kenal waktu, bisa terganggu karena harus menjaga anak-anak di rumah. Selama ini sudah bisa tenang karena anak-anak dititipkan sama pembantu, game online atau dipasrahkan sama gadget. Lha sekarang mereka waswas. Kalau benar-benar diculik, dapat dari mana membayar uang tebusan?

Sebelumnya masyarakat sudah gembira karena isu penculikan itu tidak benar. Suami-istri bisa kerja siang malam untuk biaya belanja online, membeli apa saja yang ditawarkan iklan, memuaskan hobi wisata kuliner, mengkredit motor tiap kali di-launching bahkan membeli apa saja yang biasanya langsung tak terpakai. Orang merasa dirugikan karena harus membayar gaji tambahan pembantu untuk mengasuh anak-anak. Atau paling tidak, harus pasang CCTV atau melengkapi segenap permintaan anak agar tak main jauh-jauh.

Pada ahirnya, masyarakat ramai-ramai mendatangi rumah Pak RT untuk mengadukan tindakan Firman yang membikin resah warga. Ketika Firman Murtado diklarifikasi oleh warga di rumah Pak RT, ia hanya menjawab “kata Gus Hafidz bukan isu.”

“Kenapa kita harus percaya Gus Hafidz, wong pihak terkait bilang ini hanya isu, kok?” semprot seorang warga.

“Karena Gus Hafidz jarang berbohong. Pihak yang mengatakan kalau penculikan hanya isu kan, sudah sering kurang jujur? Dulu bilang begal sudah diamankan, nyatanya tipa hari masih tetap terjadi?” para warga diam-diam membenarkan juga ucapan Firman Murtado. Untungnya Pak RT punya inisiatif untuk melakukan teleconference dengan Gus Hafidz yang sedang mengajar ngaji di surau. Pak RT langsung melakukan panggilan video dengan Gus Hafidz, HPnya ditaruh di atas meja, di hadapan para warga.

“Gus, apa benar isu penculikan itu bukan hoax?” tanya Mas Bambang tanpa basa-basi.

“Benar, Mas Bambang.” Jawab Gus Hafidz di layar HP Pak RT.

“Lho, pihak terkait sudah konferensi pers, katanya cuma hoax, gus?” sambung Mas Fendi bank titil.

“Wong masih marak, kok?” kilah Gus Hafidz.

“Kapan gus, dimana?”

“Ya hampir tiap hari, di kampung kita ini.” Para warga tolah-toleh mendengar jawaban Gus Hafidz di layar HP.

“Ah, Cak Manap yang tiap hari stand by di warung tak pernah dengar ada penculikan, kok?” kilah Mas Fendi bank riba.

“Yang memang, wong penculikannya suka rela. Bahkan kadang penculiknya pamit, bawa bakso, pangsit, mie ayam atau duren.”

“Maksudnya?” Mas Bambang geram.

“Itu, anak-anak gadis kita dibawa kapan saja, tak siang tak malam sama pacarnya, apa bukan penculikan? Pulang larut malam ya kita ndak ribut. Tak pernah memeriksa ada berapa sidik jari di pakaian dalamnya.”

“Itu sih…..sudah biasa, gus. Sudah zamannya.” Sahut Mas Fendi.

“Tapi kalau ayam atau kambing kita jam lima sore tak pulang, kita kok ribut, ya?” para warga mbrabak abang mendengar jawaban Gus Hafidz.

“Jiwa anak-anak kita diculik pengedar narkoba, dibius gadget, digendam televisi, dibawa lari dunia maya bahkan dibantai balap liar kita kok diam, ya?” ujar Gus Hafidz memberondong.

“Watak manusia anak-anak kita diculik zaman, kesantunan anak-anak dicuri budaya egoisme, ahlak anak-anak disandera modernisasi yang naudzu billah salah kaprah, apa bukan penculikan namanya?”

“Kadang kita bangga lho kalau anak gadis –ingusan—kita gonta-ganti yang mengencaninya. Tiap minggu ganti yang membawanya entah kemana, pulang malam, tapi tak pernah ada yang ribut untuk visum. Tak ada yang lapor polisi, bahkan bisa menjadi prestise tersendiri kalau mereka laris. Tiap malam Minggu teman laki-lakinya datang, pamit, lalu membawa anak gadis kita entah kemana. Apa itu bukan penculikan? Anak-anak kita, sejak di kandungan sudah kita eman-eman. Istri ngidam dituruti, lahir kita rawat, kita masukkan Play Group, TK, SD, TPQ. Saat SMP malah kita perbolehkan para penjahat kelamin menggondolnya siang-malam, hanya karena kita disogok sebungkus bakso. Mau berangkat pakai cium tangan, ber-assalamu alaikum ria, minta didoakan selamat padahal hendak berangkat ke…..entah kemana dan mau apa.” Para warga cep! Lalu dengan muka tertunduk, satu persatu mereka bubar dari rumah Pak RT.

“Maafkan kami, ya Mas Firman?” bisik Pak RT, ketika para warga sudah benar-benar bubar. Ternyata perlu juga ada orang kurang waras seperti Firman Murtado.

Penulis : Abdur Rozaq