15:03 - Monday, 23 August 1030
Wednesday, 31 May 2017 | 08:46

Puasa Suwiwi Laler


Di antara para penenggak kopi di warung Cak Manap, yang paling jarang nampak tarawih adalah Mas Bambang. Dasar orang kampung, masalah begituan sudah menjadi viral di warung. Dibahas, diisukan macam-macam. Untungnya Mas Bambang ngaku sendiri kepada Ustadz Karimun di warung.

“Bagaimana ya, kok saya selalu ndak bisa ikut tarawih?” curhatnya.

“Kenapa, karena cuma hanya sunnah ta?” terka Ustadz Karimun.

“Ndak, ustadz?”

“Takut dicap bid’ah?”

“Halah, ndak.”

“Lha terus kenapa?”

“Saya ndak sanggup dengan  gaya tarawih yang umumnya 70 Km perjam di kampung kita. Dari pojok ke pojok kampung, semua musholla dan masjid imamnya seperti sopir bis.”

“Itu biar kita punya banyak waktu untuk jandoman di warung, Mas Bambang. Kalau tarawihnya lekas selesai kan, kita punya banyak waktu buat nonton balbalan, karambol atau main sekak” sergah Firman Murtado.

images (84)-650x500

“Setahun sekali, saya juga pingin tarawih. Saya kan kadang rindu sama suasana masa kecil saat kita suka tidur di langgar kalau Ramadhan begini?”

“He he, jadi tarawihnya hanya dalam rangka nostalgia rupanya?” sindir Firman Murtado.

“Ya ndak gitu lah, mas. Orang kan ya kadang rindu sama yang namanya spiritualitas? Masa setahun, siang malam kerja hanya cari makan? Mumpung Ramadhan, aku juga pingin tarawih.”

“Lha sudah bagus gitu niatnya?” timpal Ustadz Karimun.

“Tapi kenapa ya, saya kok belum bisa rutin ikut tarawih, ustadz?”

“Mungkin ada yang konslet. Entah puasanya, sahur atau bukanya?”

“Saya niat puasa lillahi ta’ala. Sahur juga begitu.”

“Lha kalau berbuka?” tanya Ustadz Karimun.

“Lha, itu. Saya suka balas dendam kalau buka puasa. Maghrib dur langsung sikat kolek atau es campur. Habis sholat makan bahkan imbuh segala. setelah makan, nyemil sambil minum wedang kopi dan ngudut. Mulai lepas maghrib sampai isya’, saya bisa menghabiskan separuh pak rokok, segelah besar kopi kental dan cemilan apa saja.”

“Lha itu, sudah ketemu penyakitnya.” Timpal Ustadz Karimun.

“Lho, masa dosa nyemil malam hari?”

“Ya ndak. Tapi bisa menyebabkan puasa kita ndak ada poitnya.”

“Kok bisa?”

“Itu kan hanya memindah jadwal makan? Lha latihan mengekang nafsu, mempelajari rasa empati dan menghayati kejernihan rasa laparnya kapan?”

“Saya ngaji di langgar dulu, ndak ada begituan, ustadz. Syarat syah puasa itu ya seperti pada umumnya itu.”

“Yang sedang kita omong ini sudah dalam ranah tasawuf, mas. Inti dari ibadah formal itu. Makanya Kanjeng Nabi sudah me-warning jika banyak orang puasa yang sia-sia. Salah satunya adalah, kita balas dendam saat berbuka puasa itu. Kata beliau, tidak ada wadah yang lebih dibenci Gusti Allah selain perut yang selalu penuh dengan makanan.”

“Puasa itu kan, ibadah rahasia yang sulit dilihat indikasinya namun begitu kompleks cakupan pembelajarannya? Ada ikhlas, sabar, kasih sayang, empati, pengendalian nafsu hingga install ulang humanisme kita yang kian tumpul di ahir zaman ini. Kita kadang husnudhon kalau peminta-minta di prapatan itu hanya para aktor yang malas nyambut gawe lalu mengemis dan menyewa balita buat memeras simpati? Padahal banyak yang asli para dhu’afa alias orang yang lemah atau dilemahkan oleh sistem.”

“Lha terus puasa saya ini bagaimana?”

“Wallahu a’lam. Allah yang punya hak prerogatif tentang kualitasnya. Tapi kalau menurut legal formalnya tasawwuf, nilainya lebih ringan dari pada sayap lalat.”

Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo)

Komentar Anda

Komentar

Ramadhan, Jam Kerja Pegawai Pemkab Probolinggo Dikurangi

Gus Irsyad Prihatin Jiwa Gotong Royong di Masyarakat Kian Pudar