15:12 - Sabtu, 25 November 7606
Rabu, 10 Februari 2016 | 09:07

Pers dan Sihir

turn back hoaxProfesi Firman memang tidak jelas hingga saat ini. Meski ia sudah belasan tahun aktif di PT. Masa Depan Suram (guru swasta), pekerjaannya itu tak bisa disebut sebuah profesi karena memang tak menjanjikan dan kerja sosial selayaknya tidak dianggap sebagai sebuah  mata pencaharian. Firman adalah manusia aneh yang hingga kini betah menjadi benalu mertua demi obsesinya untuk menjadi “manusia berguna”.  Pemahamannya tentang tasawuf mungkin masih keliru sehingga bias antara zuhud dengan malas bekerja.

Maka job apa saja ia terima demi keberlanjutan acara ngopi dan keloyongan, bukan demi mencari nafkah untuk anak, apalagi istrinya. Salah satu job itu adalah ia biasa menerima tawaran untuk ngomong dalam forum semi formal seperti renungan-renungan malam dalam sebuah outbond, mental motivation atau hanya ospek mahasiswa.

Aneh, mungkin karena setiap kali Firman memberikan sugesti sangat menghayati perannya, sangat menghayati keresahan, kebingungan serta kesumpekan yang sebenarnya keresahan, kebingungan serta kesumpekannya sendiri, selalu ada saja peserta histeris oleh prolog atau monolognya. Meski merupakan maunah  dari Allah, kejadian tersebut bukanlah sekedar fenomena yang tak bisa diurai secara ilmiah.

Kenyataan bahwa sebuah kata yang dirangkai secara tepat bisa mengubah sejarah, memang telah berkali-kali terjadi. Pada tanggal 10 Nopember  Bung Tomo dengan ”rawe-rawe rantas, malang-malang putung”nya berhasil menyulitkan tentara sekutu ketika mendarat di Surabaya untuk kembali menjajah kita. Demikian juga dengan Kiai Mario Teguh yang berhasil mencerahkan mindset ribuan orang dalam majlis taklim Golden Ways serta seruan ”jihad” Jenderal Mc. Arthur ketika memekikkan ”remember Pearl Harbour!”, adalah bukti bahwa kata-kata adalah sihir setara dengan vodoo, leak, santet atau lintrik.

Kata-kata juga merupakan sarana untuk menghalalkan barang haram, penyebab kematian serta kunci keselamatan sebagaimana ijab-kabul, makian kepada Fir’aun serta kalimat sahadat menjelang syakaratul maut. Seseorang juga ”bisa” melakukan bunuh diri hanya karena ia telah mendengar satu dua kata perenggut harga dirinya. Sebaliknya, seorang pecundang bisa menjadi pemberani ”oleh” yel-yel penyemangat.

Kata-kata, adalah hal kecil pembuat perubahan besar tanpa bisa diduga atau direncana. Maka mengendalikan  lisan agar ia memberi manfaat dan menghindarkan fitnah, adalah sebuah pekerjaan amat sulit. Secara ilmiah, inilah rahasia kenapa Kanjeng Nabi selalu berpesan bahwa menjaga lisan adalah sebuah urgensi tak bisa ditawar-tawar. Banyak hadits yang menyatakan urgensitas pengendalian lisan agar ia tidak menjadi bencana dengan tingkat pengerusakan yang sangat tak terbayangkan. Bahkan Nabi sampai sebegitu serius dengan wasiat Beliau ”berkatalah yang perlu-perlu saja, atau diamlah”.  Maka tak heran jika para sahabat Nabi sampai melakukan sebuah tindakan preventif ekstrim dengan mengunyah kerikil demi menjaga kesibukan lisan beliau-beliau agar tak tergoda untuk menjadi komentator  segala hal. Hanya bicara yang perlu-perlu saja meski tetap serawungan dan beraktivitas sosial secara wajar.

Dan lisan, dalam perkembangan selanjutnya bukan hanya berarti sebuah sobekan kecil pada bagian bawah wajah, lebih dari itu ia bisa berupa tulisan, berita, opini, cerpen, esai, skenario sinetron atau film, syair lagu, sebuah buku, sebuah stasiun televisi, sebuah situs internet atau sekedar slogan-slogan di cover TTS.

Bukti lain bahwa kata-kata merupakan sihir, adalah bagaimana kilatnya proses cuci otak masyarakat bisa terjadi. Dulu, ketika stasiun televisi hanya TVRI dengan siaran andalan Kelompen Capir, Dunia dalam Berita, Ria Jenaka serta Si Unyil, kita adalah sebuah bangsa berbudi luhur dan selalu mengamalkan Pancasila. Ketika stasiun televisi menjamur –apalagi orang lantas menyiarkan apa saja demi mencarinafkah— kesurupan massal terjadi serentak di negeri ini. Kita bisa membeli apa saja yang disarankan iklan tanpa mempertimbangkan besar-kecilnya manfaat. Hingga sebuah bangsa di ”dunia ketiga” bernama Indonesia, menjadi konsumen terbesar kendaraan bermotor, pasar loak raksasa barang-barang cuci gudang di negara-negara maju serta negeri seribu sophaholic.

Lisan bernama mass media, terutama televisi juga sukses meng-gendam kita dengan faham-faham setanis hingga terjadi degradasi makro sebegitu kilat. Mari kita lihat dan bandingkan manusia Indonesia yang lahir setelah dan sebelum kebebasan pers tercetus. Jauh berbeda tingkat kesantunan, kearifan serta kaulitas humanisme kita. Bagaimana tidak demikian jika mulut-mulut manis bernama televisi, buku, koran, tabloid, majalah serta situs internet selalu membisikkan sugesti hipnotis. Seminggu sekali anak sekolah mendapat nasehat guru Pancasila dan guru agama, tetapi sehari semalam mereka mendengar nasehat Si Ifrit untuk membeli anu, memakai tren mode terbaru, ikut hamil di luar nikah, serta segala macam kekurangsantunan dari televisi.

Sihir kata-kata bernama isu global juga telah sukses memutar balik fitnah. Lihatlah bagaimana Paman Sam –yang seorang maling— meneriaki kita maling. Seluruh dunia muttafaqun alaih jika Islam adalah agen penebar teror, padahal kita hanya bermaksud membela diri. Yahudi menjadikan kita sasaran saat latihan menembak, dunia malah menuduh kita sebagai ekstrimis. Seminggu sekali India dan Korut pamer misil nuklir dunia adem ayem, tapi Irak diberangus meski isu senjata pemusnah massal tak pernah terbukti. Hollywood juga selalu memberi nama islami kepada para teroris dalam film-film mereka.

Lebih jauh, orang lantas memfitnah Al Qur’an merugikan kemanusiaan karena ayat-ayat tentangqishas, poligami, pembagian harta waris dianggap tidak adil. poligami dituduh melecehkan perempuan tapi kumpul kebo direstui. Mahasiswa dikompor-kompori untuk memperdebatkan kesahihan ribuan hadits, profesor digelitik untuk meragukan kebenaran Qur’an. Orang yang teguh memegang ajaran agama dituduh sok suci, kearifan lokal dianggap kuno sementara yang dari barat, meski ugal-ugalan dianggap lebih beradab. Para pemuda dibius dengan berhala dari dunia hiburan, mode, lifestyle, kuliner serta entertainmentyang disiarkan seakan lebih penting dari pada resep penyembuh AIDS. Lagu-lagu cinta serta ikon-ikon romantisme bahkan pornografi disponsori habis-habisan. Para guru dan orang tua disiplin dituding melanggar hak anak bahkan HAM, beragam mainan mereka jual agar anak-anak kita sibuk. Bahkan susu formula penuh racun berbahaya dibilang bergizi oleh iklan. Eropa yang merontokkan ozon kita yang disuruh menanam pohon. Hmmm, bahaya benar sihir kata-kata. Bahaya benar isu dan wacana!

Selamat Hari Pers.

(Abdur Rozaq)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Konsleting ‘Jeruk Makan Jeruk’

Namanya Jack Vodcha Danils