14:30 - Sabtu, 25 November 2017
Selasa, 4 April 2017 | 19:54

Jelang Hari Raya Galungan, Umat Hindu Tengger Hias Pura

Sukapura (wartabromo.com –  Ribuan umat Hindu Suku Tengger di Kabupaten Probolinggo, akan melaksanakan perayaan Hari Suci Galungan, Rabu (5/4/2017) esok hari.

Menjelang perayaan itu, sejumlah persiapan dilakukan oleh warga, baik di rumah maupun pura desa.

Persiapan itu antara lain dengan membersihkan areal pura desa dan menghiasnya dengan penjor. Tak hanya di pura, disetiap rumah umat Hindu di dua kecamatan, yakni Sukapura dan Sumber, dipasangi penjor.

“Sehari sebelum hari Galungan, warga memasang penjor. Biasanya penjor ini dibuat sendiri oleh warga bersama-sama dengan yang lain,” ujar Cuwik Sunarip, warga Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Selasa (4/4/2017).

IMG-20170404-WA0101

Penjor adalah simbol dari naga basukih, dimana Basukih berarti kesejahteraan dan kemakmuran. Selain itu penjor juga merupakan simbul Gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan.

Biasanya Penjor banyak dapat ditemui ketika hari raya Galungan dan Kuningan serta ritual keagamaan lainnya. Umat Hindu ketika menyambut Hari Raya Galungan akan memasang penjor pada Hari Selasa Anggara warawuku Dungulan (Penampahan Galungan).

Bahan dari penjor sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa).

Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit.

“Memasang Penjor bertujuan untuk mewujudkan rasa bakti dan sebagai ungkapan terima kasih kita atas kemakmuran yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan),” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto.

Untuk diketahui, Hari Raya Galungan di Kawasan Tengger sebagai hari Kemenangan antara Dharma melawan keangkaramurkaan yang disebut Adharma. Puncak kemenangan ini nantinya diakhir sebagai wujud sukur yaitu di Hari Kuningan atau 10 hari setelah Hari Galungan.

“Kami berharap, toleransi keberagamaan tetap terpelihara di wilayah kami. Warga muslim, kristiani dan hindu tetap dapat hidup berdampingan, untuk membangun Kabupaten Probolinggo yang beradab dan bermartabat,” ungkap Camat Sukapura, Yulius Christian. (saw/saw)

Komentar Anda

Komentar

Jalan Tiris Kembali Normal Pasca Longsor

Cuaca Buruk, Proses Pencarian Korban Hanyut Tiris Dihentikan