15:54 - Wednesday, 26 July 2017
Wednesday, 12 July 2017 | 15:30

Umbulan dan Ajian Mati Raga


Sedang asyik mengamati ikan wader yang rebutan wedokan di antara bebatuan, Ustdaz Nur Buwat memanggil Firman Murtado.

“Mas, mari kesini,” kata lelaki tua yang sudah puluhan tahun membuka warung bagi pengunjung Umbulan itu. Kalah sungkan, Firman Murtado memilih menunda kesenangannya menikmati hamparan kolam kaca, kericik air dan pesona batu-batu hitam yang mulus seperti punggung melarat Wak Takrip di sungai pembuangan air sebelah barat sumber Umbulan.

“Mari jalan-jalan ke atas sana, melihat-lihat pemandangan sebelum semuanya musnah. Ini mungkin yang terahir, mas,” jelas lelaki tua itu.

Firman Murtado berjuang keras untuk tidak misuh, meski dalam hati. Lelaki tua yang sudah seperti ayahnya sendiri karena saking seringnya ia titip sepeda, celana, dompet bahkan ngampung sembahyang setiap kali ia dolan ke Umbulan itu, ia curigai memiliki ajian weruh sak durunge winarah. Tahu sebelum yang lain tahu.

debit umbulan

Maka Firman Murtado menurut saja ketika ia diajak keliling ke atas gumuk di sekitar danau.“Lihat, pohon-pohon itu pun sepertinya protes. Eh, bukan. Sepertinya mereka tahu kalau umur mereka sudah tak lama lagi. Maka sebelum chain shaw menghabisi nyawanya, mereka satu persatu moksa, bunuh diri secara alamiah seperti yang dilakukan Syekh Siti Jenar ketika diminta demikian oleh Dewan Sunan,” Ustadz Nur Buwat berhenti sejenak. Menyalakan rokok Gudang Garam Hijau dengan tangan gemetar.

“Semua ini, sebentar lagi akan dimusnahkan, mas. Eh, akan dirubah segala tata kosmosnya. Barisan daun lompong yang sampeyan sukai di pinggir sungai sana, batu-batu hitam yang mirip akik, hamparan sawah, semuanya, mungkin sebentar lagi sudah hilang untuk selamanya.

“Firman Murtado terdiam mendengar ucapan-ucapan Ustadz Nur Buwat. Bahkan ia mulai gemetar karena apa yang diucapkan oleh orang tua itu akan menghilangkan salah satu kesenangannya selama ini. Hampir tiap minggu ia mandi di Umbulan. Bukan mandi itu tujuan utamanya jauh-jauh datang ke tempat ini.

Tapi kericik air nan sejuk dan bening tak ada duanya di dunia. Mata air Umbulan, hanya bisa dikalahkan oleh sebuah mata air entah apa di Prancis sana kata Mbah Gugel. Firman Murtado rutin datang ke sini dalam rangka kungkum, melepas energi negatif yang tak pernah luntur dari dirinya. Berendam, ngopi, menikmati pemandangan, menghirup udara segar di Umbulan membuatnya bisa istirahat sejenak dari pikiran ruwet hendak kemana lagi ia mencari utangan, memikirkan remuk redam dirinya oleh peras keringat di PT. Masa Depan Suram tempat ia menumbalkan diri.

Sejak remaja, meski tak pernah sukses meyakinkan seorang perawan pun untuk menjadi pacar dan membawanya bertamasya ke Umbulan, Firman Murtado tak pernah bosans dengan mata air ini. Karena Umbulan, adalah kawah Candradimuka untuk ia melepas lelah lahir batin sejak ia remaja dulu.

“Tapi yang membuat kami makin miris mas, bukan masalah proyek pembangunan Umbulan itu sendiri. Sebagai rakyat kami manut sama pemerintah. Menutup mata rapat-rapat meski warung-warung kami harus tutup, irigasi mungkin akan kekurangan air, air bersih sudah bukan milik kami dan segenap kenangan manis tentang Umbulan akan musnah, selamanya. Yang kami tangisi adalah, bagaimana jika mata air yang kian menyusut itu akan benar-benar mengering,” ujar Ustadz Nur Buwat dengan mata berkaca-kaca.

“Ah, mana bisa asat, ustadz? Umbulan akan asat kalau kiamat kurang sehari kelak,” elak Firman Murtado.

“Sampeyan ini bagaimana, sih? Seperti ndak pernah sekolah saja. Wong sekarang saja mata air sudah menyusut kok masih yakin takkan asat. Lihat gunung-gunung di atas sana, sudah gundul, gersang, kerontang dan mati seakan lusa Dajjal sudah turun. Bekas hutan di atas sana sudah tidak bisa ditumbuhi apapun bahkan ilalang. Hutan berubah seperti latar yang tertutup paving atau plesteran. Air hujan langsung byor ke bawah, membikin banjir, membahayakan penduduk, merusak sawah, menghanyutkan ular-ular raksasa, membuat sungai dangkal, merusak jalan raya, tambak bahkan merendam pasar, pemukiman dan sekolah berhari-hari,” kilah Ustadz Nur Buwat.

“Jadi, bukan proyek itu yang sampeyan tangisi?” tanya Firman Murtado.

“Bukan. Kami tak berani menggugat sang Adipati, karena beliau adalah sabda langit. Yang kami tangisi adalah bagaimana jika Umbulan ini benar-benar asat karena seperti yang sampeyan lihat, di atas sana pepohonan ditebangi, gunung digali, akar-akar dicerabut, humus dibakar, satwa dipanggang, bahkan doa-doa dibungkam. Bagaimana jika Umbulan mati raga, membunuh dirinya sendiri seperti Syeh Siti Jenar?”

Firman Murtado tergagap oleh bunyi alarm yang berteriak dari HP di bawah bantalnya. Ia cekekalan terbangun. Ia lihat jam di HP nya pukul tiga dini hari, saat sukma memasuki kebenaran penyaksiannya, mimpi memasuki etape bunga tidur adalah ilham dari Lauhul Mahfudz. “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun,” bisik Firman Murtado kepada kelam.

Penulis: Abdur Rozaq (Warta Bromo)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Tabur Bunga Jeglongan Sewu

Gerakan Dilarang Sambat