12:00 - Rabu, 18 Juli 2018
Kamis, 25 Desember 2014 | 13:31

Pasuruan Bukan Second City

Pelabuhan BangilPasuruan (wartabromo) – Didasarkan atas berbagai sumber baik prasasti, babad karya sastra maupun berita cina,Tim peninjauan hari jadi Kabupaten Pasuruan tahun 2006 telah menyakini bahwa pada masa pemerintahan Kerajaan Kalingga (674/675 M ) telah terdapat struktur pemerintahan yang kuat yang merupakan bukti awal adanya pemerintah di Pasuruan. Kata Pulokerto dan rujukan adanya nama Kraton menjadi bukti sejarah tentang keberadaannya di wilayah itu.

Mpuh Sindok yang memindahkan ibukota Pemerintahannya serta munculnya nama Pawitra sebagai cikal bakal dinasti Icana adalah fakta betapa dasar pemerintahan telah terbentuk sampai pada tingkat desa dengan adanya bukti prasasti yang masih terlihat hingga kini.

Dinasti Icana merupakan bagian dari kerajaan besar dengan struktur yang diadopsi dari penguasa sebelumnya karena memiliki struktur yang hampir sama tetapi kemudian dilengkapi oleh Mpuh Sindok dan struktur tingkat perdikan yang dipercayakan kepada pejabat dengan gelar Wahuta yang bekerjanya dibawa kepemimpinan Rakryan.

Pada masa itu, Mpuh sindok telah melakukan aturan agraria dengan menetapkan peraturan mulai pembebasan pajak. Pelimpahan tugas dan pengaturan yang menujukkan struktur pemerintah telah berjalan dan mulai menyentuh sampai tingkat desa.

“Semua kemudian belajar dari Pasuruan (Kerajaan kalingga dan Medang) baik Pemerintahan maupun Islam yang sudah datang ke wilayah ini pada abad ke-7,” ujar Nugraha Hadi Kusuma, Tim Peninjauan Kembali Hari Jadi Kabupaten Pasuruan pada Titik Temu.

Menurutnya, jika dilihat dari sejarahnya, Pasuruan bukanlah second city (Kota kedua) yang hanya dilintasi oleh orang untuk menuju wilayah lainnya. Pasuruan adalah sebuah Kota Kuno yang telah memiliki peradapan terdepan dibandingkan wilayah lainnya. Masyarakat Pasuruan telah mempunyai ketrampilan dalam hal membaca dan menulis, hal itu ditunjukkan dengan banyaknya petilasan kuno yang ditemukan di sekitar wilayah Pasuruan.

“Pasuruan ini banyak sekali petilasan, makam kuno baik di Arjuno dan penanggungan. Itu bukti sejarah,” lanjutnya.

Selama melakukan penelitian dan kajian, Nugraha melihat sikap dendam Penjajah Belanda menjadi penyebab utama hilangnya banyak situs dan sejarah yang pernah terukir di wilayah Kabupaten Pasuruan. Kebanyakan sejarah Indonesia justru copy paste dan bersumber dari orang-orang asing baik Belanda dan Cina sementara islam kerapkali dihilangkan dari catatan mereka.

“Banyak catatan yang sengaja dihilangkan. Orang Belanda itu dendam karena mengalami kerugian yang sangat besar dalam perang melawan Untung Surapati. Kerugiannya setara dengan Perang di Aceh,” katanya.

Wilayah – wilayah di Pasuruan yang kaya akan situs budaya dan peninggalan kuno itu pun diubah menjadi lahan-lahan perkebunan tebu oleh Pemerintah Hindia Belanda melalui sistem kebijakan tanam paksa guna menyelamatkan keuangannya. Karisidenan Pasuruan bahkan pernah menjadi produsen gula terbesar di Jawa Timur.

“Tugas kita semua untuk meluruskan sejarah besar Pasuruan,” tegasnya.

Nama Pasuruan sebagai nama tempat hunian masyarakat dikenal untuk pertama kali dalam kitab Nagara Kertagama karangan Mpuh Prapanca.

Tahun I daton nire pasuruhan manimpan anidul ri kapananan, anulya atut damargga madulur tikan ratha daton rin andoh wawan, muah I keduplukh lawan I hambal antya nikan pradecenitun

(Sungguh setelah sampai di Pasuruan, ia membelok ke arah selatan Kapananan, kemudian mengikuti jalan utama. Semua kereta bersama-sama memasuki Andoh Wawang dan Hambal, semua desa (yang dikunjungi) selalu diperhatikan.

Sayang, kebencian orang Belanda terhadap sejarah Pasuruan ditampakkan dengan mengejek dialek dan ejaan tulisannya sehingga kemudian diganti menjadi Passourrouang, Pasoeroeang atau Pasoeroean. Kata ini ditulis dalam sebuah buku T.J. Bezemer yaitu Beknopte Encyclopedie Van Nedelansch-Indie 1921.

“Orang belanda memang ingin menghilangkan sejarah kebesaran Pasuruan,” kata Nugraha.

Dalam bahasa sanksekerta Pa – suruh – an artinya tempat tumbuh tanaman suruh atau kumpulan daun suruh. Suruh (bahasa Jawa baru) atau sirih (bahasa Indonesia) bahasa Jawa kunonya sereh .

Selain disebut dalam Kitab Negarakertagama, nama Pasuruhan juga disebut dalam Babad Tanah Jawi dan Babad Giyanti namun dalam kitab Kakawin Sorandaka menyebut nama Sora yang daerahnya disebut dengan Pasoraan dengan batasan daerah bernama Japan dan memiliki Syah Bandar yang bernama Banger (dalam catatan Tiongkok disebut Bang-il).

Pada dasa warsa pertama abad ke-16 yang menjadi raja di Gamda adalah Menak Supetak. Ia adalah putra Gusti Patih Kraton Besar. Konon dialah yang disebut sebagai pendiri ibukota Pasuruan atau Kotanegara Pasuruan yang kala itu masih dikuasai oleh Narendra Agung atau Gusti Patih. (yog/yog)

 

Satpol PP Kabupaten Pasuruan Keluhkan Kekurangan Personil

Ungkap Kasus Agustina, Panwaslu Kabupaten Pasuruan Terbaik Se-Jatim