12:53 - Kamis, 19 Juli 2018
Rabu, 13 Desember 2017 | 10:37

Imunisasi dan Stigma Menakutkan Masyarakat

Pasuruan (wartabromo.com) – Dinas Kesehatan Kota Pasuruan telah galakkan imunisasi menangkal berbagai penyakit, terutama difteri. Imunisasi atau pemberian vaksinasi tersebut diberikan kepada balita, hingga anak-anak berusia 7-9 tahun di Kota Pasuruan.

Mirisnya, tidak semua masyarakat menanggapi positif, khususnya masyarakat di daerah pesisir utara Kota Pasuruan. Mereka menilai, imunisasi belum termasuk kebutuhan kesehatan.

Selain itu, kesadaran masyarakat mengenai pentingnya anti bodi (kekebalan) tubuh dalam menangkal berbagai jenis penyakit, juga masih perlu diadakan sosialisasi.

Dianggapnya, imunisasi memiliki efek yang bisa menyebabkan anak sakit panas. Nah, stigma dan pemikiran semacam itu, kemudian banyak masyarakat awam, enggan melakukan imunisasi bagi anak-anaknya.

Padahal, jika seorang anak mendapatkan satu imunisasi, anti bodi di dalam tubuh mengalami kenaikan hingga 90%. Dibanding yang tidak mendapatkan imunisasi, kekebalan anak diketahui sekitar 30%.

Kepala Bidang Surveilans dan Imunisasi, Hari Kuntjoro mengatakan, masyarakat awam terutama di daerah pesisir Kota Pasuruan memiliki kesadaran kesehatan minim. Sumber Daya Manusia (SDM) dinilai masih kaku terhadap perkembangan zaman.

Diperkirakan, kehidupan masyarakat pesisir yang lebih banyak menghabiskan waktu di laut, mencari dan menjual ikan ke pasar, menjadi sebagian penyebab munculnya stigma menakutkan tentang imunisasi. Akibatnya, kesehatan anak-anak mereka pun sedikit terabaikan.

Menyinggung kewaspadaan difteri, Hari mengungkapkan, masyarakat juga ada yang memiliki penilaian lain mengenai imunisasi dan vaksinasi difteri. Ada yang menganggap jenis vaksin yang diberikan haram selain juga menganggap belum memiliki fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Namun, yang menjadi persoalan selanjutnya, terdapat sikap dari sebagian masyarakat yang terlalu pasrah akan takdir.

Ditambahkan oleh Hari, vaksin di Indonesia diproduksi oleh Farmasi terkemuka di Indonesia, diekspor ke 126 negara, termasuk negara islam seperti Arab Saudi, dan telah diakui Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Lalu kenapa masih dibilang haram?,” ungkap Hari penuh tanya.

Ia berharap seluruh lapisan masyarakat memiliki kesadaran yang cukup mengenai pentingnya imunisasi. Karena cara ini ditegaskan membuat tubuh seorang anak menjadi lebih kebal terhadap penyakit ataupun virus kedepannya.

“Kalau hanya pasrah sama takdir, lalu untuk apa sekolah kedokteran didirikan selama ini”, tandas Hari. (ama/ono)

Waspada Difteri, IDAI Sebar Himbauan

Probolinggo KLB Difteri