Suasana Belajar di SMPN 2 Kota Pasuruan Sepekan ini Terganggu Teriakan Histeris Siswa

0
4

Pasuruan (wartabromo.com) – Proses belajar mengajar di SMP Negeri 2 Kota Pasuruan dalam sepekan ini terganggu. Pasalnya, siswa-siswi tiba-tiba histeris disebut seperti kesurupan.

Dari sejumlah informasi menyebutkan, peristiwa ini terjadi setidaknya pada hari Senin, Kamis dan memuncak dialami oleh puluhan siswa, pada Jumat kemarin. Diketahui, pada Jumat pagi itu, pihak sekolah sengaja menggelar istighosah dan doa bersama, mengajak hampir seluruh siswa.

Salah satu kerabat siswa sekaligus alumni sekolah ini, Hari Widiyanto menjelaskan, puluhan siswa tiba-tiba berteriak histeris di tengah kegiatan doa.

“Kasihan ya, hampir bersamaan menjerit kemarin. Ada kalau duapuluhan siswa,” terang Hari, Sabtu (16/12/2017).

Bersama sejumlah rekannya dan guru, Hari mengatakan mencoba menenangkan mereka. Digambarkan, selain teriakan puluhan siswa juga menutup telinga, seakan enggan mendengarkan istighosah dan doa yang dipanjatkan saat itu.

“Mereka meminta kami berhenti berdoa, sambil menutup telinga, terus berteriak kepada kami,” imbuhnya.

Tidak berapa lama, puluhan siswa mulai sadar, hingga kemudian suasana sekolah, kembali normal. Nampaknya,, proses belajar mengajar pada Jumat kemarin sepenuhnya dihentikan, tidak seperti pada peristiwa hari lain yang masih terus berlanjut, meski terganggu dengan jeritan histeris

Dituturkan, keberadaannya pada kegiatan doa bersama di sekolah ini, sebenarnya tanpa sengaja. Sebelumnya ia mendapatkan cerita dari sejumlah siswa, yang menyebutkan pada Senin dan Rabu kemarin setidaknya lima sampai tujuh siswa berturut-turut menjerit histeris.

“Kebetulan pada Kamis itu saya datang ke guru saya, sebagai salah satu alumni yang prihatin. Saat itu kok bersamaan, ada siswa teriak-teriak. Terus kemudian saya tahu, pihak sekolah berencana pada Jumat menggelar istighosah,” kata Hari.

Terdapat kabar, hati ini pihak sekolah menyarankan kepada seluruh siswa untuk tidak hadir ke sekolah. Pengambilan laporan nilai siswa, dikatakan cukup dilakukan oleh orangtua/wali murid. (ono/ono)