Mengenal Rumah Adat Podokoyo

0
264
Kepala Desa Podokoyo, Edi Priyanto saat menjelaskan ruang-ruang di rumah tersebut.
Potensi alam dan pesona budayanya begitu memikat siapapun yang datang ke sana. Kerukunan umat beragama di desa ini juga sangat kuat.

Laporan : Ardiana Putri 

SEBUAH rumah kayu bercat biru berarsitektur khas Jawa Pegunungan tampak berdiri kokoh sejak puluhan tahun lalu. Oleh penduduk setempat, rumah ini dianggap sebagai rumah adat Desa Podokoyo.

Bangunan kayu sederhana dengan langit-langit tinggi, tak ada teras di bagian depan, pintu dan jendela besar, serta ruang dalam yang luas dan saling terhubung. Di desain khusus untuk masyarakat dataran tinggi agar terhindar dari dingginnya cuaca pegunungan.

Kepala Desa Podokoyo, Edi Priyanto, menjelaskan tiap-tiap bagian ruangan. Bagian depan dengan 3 jendela berukuran satu setengah meter di sisi kiri dan kanan, memisahkan pintu utama. Pintu dan jendela kayu itu menutup seluruh bagian depan rumah. Menurut Edi, struktur bangunan yang demikian itu, fungsinya untuk menghangatkan.

Pintu masuk rumah adat Podokoyo.

Kepala desa yang akrab disapa Edi inipun mengajak untuk memasuki area ruang tamu. Meja di ruangan untuk menyambut tamu tersebut, terbuat dari marmer dengan ukiran cantik. Lebih ke dalam lagi, memasuki ruang keluarga.

“Di ruang tengah atau ruang keluarga, selalu ada amben (bangku untuk bersantai, red), karena kalau bersantai di bawah terlalu dingin, jadi harus memakai amben,” terang Edi sumringah.

Lantas ia melanjutkan hingga ruang belakang, menuju dapur yang sekaligus menjadi ruang makan. Di sana selalu disediakan sebuah wadah mirip cawan yang terbuat dari tanah. Cawan itu berisi bara api atau yang biasa mereka sebut, Gegeni.

“Ketika seluruh keluarga makan bersama, gegeni atau perapian inilah yang menghalau kami dari hawa dingin yang menusuk tulang,” pungkasnya.

Ia kemudian menjelaskan, Desa Podokoyo, Kecamatan Tosari merupakan sebuah desa yang terletak paling ujung selatan di Kabupaten Pasuruan. Potensi alam dan pesona budayanya begitu memikat siapapun yang datang ke sana. Kerukunan umat beragama di desa ini juga sangat kuat.

Mayoritas penduduk merupakan umat Hindu, 15 persen merupakan umat Islam, sedangkan 5 persen merupakan pemeluk Kristen. Namun kerukunan umat beragama sangatlah kental karena mereka dipersatukan oleh adat istiadat dan tradisi yang tetap dipegang teguh hingga kini. (*)