Kiamat Lokal

0
54
kiamat-lokalIsu akan terjadinya kiamat pada tanggal 28 September tahun ini, tak membuat Cak Manap risau sedikit pun. Sebab Cak Manap telah lebih dulu meratapinya sejak beberapa tahun lalu. Apalagi setelah terompet tahun baru 2015 ditiup oleh para penertawa zaman, Cak Manap makin gemetar. Kenapa tahun 2015 begitu ditangisi Cak Manap?, karena sejak saat itulah kiamat lokal mulai berlangsung.Perdagangan bebas semakin dekat untuk segera diberlakukan, maka jumlah pelaku bunuh diri “akan” meningkat tajam di negara-negara “dunia ketiga”, termasuk Indonesia.

Pedagang sayur akan bersaing langsung dengan hyper market, super market dan mini market. Orang dari sebuah kecamatan di California bisa buka warung kopi di kampung kita dengan konsep dan sistem pelayanan yang bisa bikin Pak Modin pun kerasan di sana. Lowongan pekerjaan diisi komputer, guru digantikan oleh program digital presentator, mencetak onde-onde, membungkus kerupuk, memanggang sate, mencuci piring, menyiangi rumput hingga menjajakan dawet, bisa dilakukan oleh mahluk-mahluk ghaib semacam: komputer dan kerabat dekatnya.

Mental kerja serta pola pikir kita yang sejak berbad-abad sudah dibonsai, dikebiri, dikerdilkan oleh bermacam bentuk penjajahan, tentu saja takkan kikis oleh badai peradaban bernama modernisasi dan globalisasi ini. Karena, merubah watak itu sangat sulit, kalau tak boleh dikatakan tidak mungkin. Sedangkan, di lain sisi kita sudah terlanjur mabuk oleh angan-angan selangit yang lebih dulu dikirim oleh kaum dajjal layaknya santet. Kita sukses menjadi tukang konsumsi yang gragas, pembeli tren serta pengkoleksi mimpi!.

Selain menyukai mie instant kita juga doyan hidup enak secara instan. Belajar dan bekerja keras haram, tapi bergaya hidup sesuai tren, wajib. Membayangkan itu, Cak Manap khawatir salah satu keponakannya akan menjual harga diri kepada para pedofilia demi bisa membeli HP tipe terbaru. Lihatlah, bukankah sudah tak tabu anak-anak tetangga rela menjual kehormatan terahir demi tercapainya keinginan untuk menjadi trend setter?!.

Cak Manap tak mengatakan bangsa ini bodoh. Tapi yang ia tahu, bangsa kita kurang kreatif. Selalu terlambat mengkaji, mengantisipasi apalagi bertindak. Baru kreatif  ketika kepepet. Cerdas setelah terdesak dan baru bertindak tepat menjelang syakarotul maut. Dan budaya terlambat memehami keadaan tersebut sudah terdesain rapi mulai dari piramida terbawah dunia berpikir kita. Kita memang sengaja menikmati kebodohan tersebut secara ikhlas. Lillahi Ta’ala !.

Ada banyak pihak yang tak mau bangsa kita jadi lebih cerdas. Proyekisasi serta provitisasi dunia pendidikan, kongkalikong kesejahteraan praktisinya, plin-planisitas sistem dan kurikulum hingga “khitan massal” alokasi dana di bidang itu adalah salah satu bentuknya. Jika di Inggris pada abad 18 telah direalisasikan program pendidikan gratis, di Indonesia, hingga H-3 kiamat pun insya Allah mimpi indah itu takkan jadi kenyataan. Memang telah digagas program-program pencerdasan bangsa, alokasi dana lumayan besar di dunia pendidikan, mimpi semu bernama sertifikasi guru dan dosen, namun bukan bangsa Indonesia namanya jika tidak bisa mencari celah untuk dapat mengklepto dan ngutil dari hal yang semestinya dihidupi. Proyek –proyek pemajuan dunia pendidikan masih sebatas formalitas demi mendapat kesempatan untuk mengkhitan anggaran. Diklat-diklat, seminar, sarasehan, work shop, pelatihan-pelatihan, bintek-bintek tak lebih hanyalah metode cerdas agar para kepala dinas anu punya bahan untuk menyusun LPJ.

Dan seandainya “iktikad baik” presiden, kementerian persekolahan, kepala dinas terkait, kepala sekolah, guru serta dosen untuk  memajukan pendidikan di negeri kita ini serius pun, rupanya kita belum siap untuk mendukungnya. Menjadi cerdas dan maju itu memang kadang kurang menyenangkan.

Kesialan bangsa ini juga bukan sepenuhnya karena ulah kita. Ada banyak Dajjal yang ngotot untuk bikin kita terus melarat. Dajjal lokal dan Dajjal global. Mereka program kelestarian sejarah kemiskinan kita. Mereka setting skenario kemiskinan serta kemelaratan itu sehalus mungkin. Bahkan tak jarang niat busuk tersebut mereka bungkus dengan “tindakan mulia”, namun pada hakikatnya terselip mata kail di balik umpan lezat. Mereka kucurkan bergagai bentuk dana hibah untuk dunia pendidikan –formal maupun pesantren— agar kelak bisa mendikte gerak langkah “sang anak asuh”. Sialnya lagi, masih banyak yang tega menjual diri demi sebuah kepentingan sesaat dan segelintir orang. Hanya demi bisa menjadi presiden bahkan sekedar mendapat proyek, orang sudah rela menjadi germo Paman Sam, Sang Samurai, Sang aborigin atau blonde.

Kita negara muslim terbesar, kekayaan alam “melimpah”, hobi berlama-lama di warung kopi dan pengahayal. Maka libido kaum imperialis takkan pernah padam untuk terus memperkosa kita. Hanya metode, corak serta dimensinya yang selalu mereka modifikasi. Allah berjanji bahwa ada dua kaum yang takkan rela jika kita tidak mati murtad. Tak rela jika tidak mengikuti rombangan mereka menuju kerugian di ahirat.

Sejarah kelam negeri ini memang tak pernah lepas dari segenap macam penjajahan. Tiga setengah abad kita dijajah secara verbal oleh bangsa-bangsa psikopat. Tiga puluh dua tahun kita dijajah oleh diktator bumi putera. Lalu reformasi bergulir dan penjajahan dalam bentuk yang lebih kompleks dan menyakitkan menyandera kita : Penjajahan ideologi, budaya, jati diri , spiritualitas, ekonomi serta pola pikir.

Dan selanjutnya, ketika –kelak— sistem perdagangan bebas benar-benar diberlakukan, Cak Manap tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpa bangsa Indonesia Raya ini. Ribuan perusahaan lokal bangkrut, jutaan buruh di–PHK. Persaingan mencari rejeki akan terjadi secara langsung antara kita dengan bangsa-bangsa jenius, kaya dan tidak manusiawi. Arus informasi tak dapat disaring dan ditakar. Percampuran budaya akan mencuci otak  atas kesadaran terhadap jati diri.

Kriminalitas semakin sitematis dan terorganisir. Persebaran penyakit endemik makin merajalela. Maka, masalah-masalah sosial yang belum bisa teratasi selama ini : narkoba, human trafficking, prostitusi, terorisme, kemiskinan, pengangguran, pornografi, serta AIDS,  bisa semakin menjadi-jadi kengeriannya. Dan tak bisa dihindari lagi, penyakit psikologis akan mewabah. Jika sudah demikian, maka perut bumi (kematian) akan lebih baik daripada punggung bumi ( hidup ) Naudzu Billah!. | Penulis : Abdur Rozaq