Mudik, Ari-ari dan Tumpah Darah

0
49

Semakin mepet lebaran, warung Cak Manap makin sepi pelanggan karena banyak warga yang mudik. Tidak seperti Firman Murtadlo, lapak potong rambutnya malah mbludag didatangi pelanggan. Biasa, jelang lebaran semua orang memang akan berhias. Baik yang ikut puasa atau tidak, semua akan membeli baju baru, muncukur rambut bahkan brengos. Lebaran memang istimewa, orang yang tak pernah sholat maupun yang rajin, saat lebaran akan melaksanakan sholat –sunnah—Idul Fitri.

Semua pada mudik sehingga selepas tarawih warung Cak Manap sepi. Tinggal Ustadz Karimun yang belum mudik karena masih sibuk mengkondisikan distribusi zakat fitrah. Setelah para takmir dan remaja masjid dikonsolidasikan serta siap ditinggal sang komandan, barulah Ustadz Karimun mudik ke Jombang.

“Kenapa harus mudik sih, ustadz?” kata Cak Manap saat keduanya ngobrol di warung.

“Tahun lalu saya tidak mudik, cak. Kangen kakak serta adik-adik saya di Jombang. Lagi pula saya ingin nyekar ke makam orang tua.”

“Apa imam, khotib dan panitia sholat Id sudah dibentuk?” tanya Cak Manap khawatir

“Sudah, kemarin malam rapat pembentukan.”

“Apa sudah sesuai keahliannya, ustadz? Saya kurang mantebkalau imam sholatnya nggak pernah nyantri. Jangan-jangan yang jadi imam tidak pernah ngaji meski sudah berderet gelarnya, baca fatihah kurang fasih karena belajar dari tulisan latin.”

“Insya Allah sudah tepat yang kami pilih sebagai imam.”

“Lagian, kenapa sih pakai mudik segala, ustadz?. Rasanya kurang lengkap kalau lebaran tidak ada sampeyan. Kami ini sudah tidak punya siapa-siapa untuk dituakan. Untuk disowani. Bagaimana kalau nanti lebaran kisruh?”

“Ah, sampeyan memang tidak pernah tahu rasanya hidup di perantauan. Sampeyan asli penduduk pribumi sih, jadi tidak tahu bagaimana rindunya pada kampung halaman kalau lebaran begini.”

“Saya juga merasa aneh, orang sampai rela antri tiket, terlantar di pelabuhan, terminal, stasiun bahkan bandara. Melawati jalur mudik yang mematikan, diperas calo, digendam, dicopet, dibegal, diperlakukan tidak simpati petugas dan puluhan kendala lain demi lebaran di kampung halaman. Apa tidak sama lebaran di tempat sendiri? Soal halal bihalal kan bisa lewat telepon dan alat komunikasi lain?”

“Hmm, sampeyan ini kok ketularan anak muda sekarang?. Silaturrahmi langsung itu ya beda tho dengan hanya kirim SMS, cak.”

“Lha nanti, di kampung halaman, saat bertamu pun akan sibuk dengan ponsel masing-masing. Duduk bersama di ruang tamu tapi alam pikiran akan terbang entah kemana dengan anderoitmasing-masing. Kan sama saja bohong, gus?”

“Ya juga sih. Makanya mudik perlu kita telaah ulang pengertiannya. Mudik itu kan asal kata dari meng-udik. Meng-udik-an, men-deso-kan diri atau kembali kepada tumpah darah kita. Orang jauh-jauh mudik kadang salah niat, bukan dalam rangka mendekatkan diri dan jiwa pada kampung halaman, ikatan famili apalagi kearifan lokan dimana ari-ari kita dikubur, namun tak lebih hanya pelarian kejenuhan selama setahun dengan kita isi pamer ini itu kepada para tetangga di kampung.”

“Nah, kalau begitu kan lebih baik tidak usah mudik? Kita lebih banyak dosa kepada tetangga kanan-kiri daripada sanak famili yang setahun sekali ketemu itu, kan?”

“Tapi saya sudah noto niat lho, cak. Saya mudik dengan niat membumikan jiwa-raga terhadap tanah leluhur yang telah menyusui saya. Saya niat mudik dalam rangka mengikis kacang lupa kulit saya terhadap leluhur dan tumpah darah. Meng-udik, menegaskan kembali akar budaya saya, bahwa saya tidak ujug-ujugmenjadi Karimun yang sekarang. Saya akan nyekar ke makam orang tua, buyut, paman, guru ngaji, dukun beranak serta tukang sunat saya. Saya akan berterima kasih terhadap air, tanah, udara serta kearifan yang pernah saya cecap semasa kecil dan remaja. Dan yang paling penting, Karimun akan berusaha memegang kejernihan budi yang pernah ditanam oleh tanah, orang tua serta guru-guru saya di kampung halaman.”

“Jadi, mudik adalah sebuah ritual kalau begitu, gus?”

“Betul. Tapi tidak semua orang sudah berpikir begitu.”

Penulis: Abdur Rozaq