Terkait Umbulan, Gus Irsyad Ajak Awasi Lingkungan Daerah Resapan Air

0
2

Pasuruan (wartabromo.com) – Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf, mengajak seluruh komponen masyarakat untuk melakukan pengawasan terhadap terjaganya daerah resapan air, bilamana saluran SPAM (sistem penyediaan air minum) Umbulan telah dioperasikan oleh pihak pengelola dan dimanfaatkan warga lainnya.

“Nah, untuk catchment area (daerah tangkapan/resapan air), Ayo kita awasi sama-sama,” ujar Irsyad, di kantornya usai apel pagi, Senin (25/7/2017).

Gus Irsyad, panggilan akrabnya menegaskan, bahwa pengawasan tersebut ditujukan terutama kepada pihak swasta (pelaksana proyek), yang telah mengikat janji untuk melakukan reklamasi agar lingkungan atau ekologi tetap terjaga.

Ia menyadari jika pemanfaatan air yang bakal diambil nanti mengandung konsekuensi terhadap keberadaan lingkungan.

“Kalau misalkan reklamasi dan perbaikan lingkungan tidak dilakukan, ayo bareng-bareng demo ke Jakarta,” tegas Gus Irsyad.

Ajakan tersebut dimaknai sebagai bagian sikap pemerintah daerah, menjawab kegelisahan sebagian warga Pasuruan yang mengemuka atas dimulainya pelaksanaan mega proyek Umbulan.

Pasalnya beredar kabar, jika pemanfaatan Umbulan disebut-sebut akan menguras debit air hingga tidak tercukupinya kebutuhan air bersih warga sekitar.

Bahkan beberapa akademisi yang tergabung dalam CK-Net (lembaga peneliti air, Unmer Malang) bersama Balai Besar Berantas wilayah Gembong-Pekalen sempat meneliti pada periode Desember 2015 sampai dengan medio Maret 2016, menyimpulkan telah terjadi penurunan debit mata air.

Dalam rilis hasil penelitian tersebut, dinyatakan jika debit mata air Umbulan pada setiap detiknya berkisar pada 3200 liter sampai 3500 liter, mengalami penurunan cukup signifikan jika dibandingkan masa puluhan tahun silam yang mencapai 6000 liter/detik.

Secara umum, terjadinya penurunan debit lebih diakibatkan adanya perubahan fungsi catchment area dari lahan berupa hutan ke lahan pertanian maupun pemukiman, serta semakin meluasnya lahan kritis di daerah hulu mulai dari Umbulan sampai wilayah lereng Gunung Bromo.

Persoalan tersebut belum lagi ditambah adanya kemungkinan pengambilan air tanah secara berlebihan untuk keperluan irigasi dan industri di hilir mata air serta aktivitas illegal drilling yang kian meningkat.

Hanya saja, sepertinya tinjauan volume debit air tersebut sedikit berbeda dengan yang diutarakan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) yang sempat menyebut di hadapan sejumlah awak media, usai peresmian proyek Umbulan pada 20 Juli 2017 lalu, bahwa sumber Umbulan memiliki debit 5000 liter/detik. Selanjutnya dari jumlah tersebut sebanyak 4000 liter/detik di manfaatkan untuk lima Kabupaten Kota di Jawa Timur.

Menegaskan ujaran JK, dari sejumlah keterangan yang dihimpun, sumber mata air umbulan masih memiliki debit yang diperkirakan sekitar 5.000 liter/detik.

Potensi air umbulan tersebut secara efektif saat ini hanya dimanfaatkan sebesar 583 liter per detik, terbagi 283 liter/detik untuk Kota Pasuruan dan Kota Surabaya; irigasi 175 liter/detik; pembenihan ikan 105 liter/detik; dan untuk air bersih warga desa Umbulan sebanyak 20 liter/detik.

Sementara sisa debit air sebesar 4.417 liter/detik diketahui terbuang secara cuma-cuma ke laut, diantaranya melalui sungai Rejoso. (ono/ono)