Penumpang Kapal Gili Ketapang Terlempar ke Laut

0
398

Probolinggo (wartabromo.com) – Tingginya gelombang air laut di perairan utara Probolinggo memakan korban. Seorang penumpang kapal terlempar ke laut dari kapal penyeberangan Pulau Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Senin (22/1/2018).

Sejak beberapa hari terakhir, cuaca buruk melanda perairan utara Probolinggo. Meski begitu, banyak kapal penumpang untuk penyeberangan ke Gili Ketapang, tetap beraktivitas seperti biasanya. Tinggi gelombang mencapai dua meter lebih, tak menyurutkan warga untuk nekad menggunakan jasa pelayaran.

Kenekadan itu, nyaris membawa korban jiwa. Pasalnya, salah satu penumpang kapal penyeberangan bernama Sugiman (63), warga Kampung Dok, Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, tercebur ke laut. Saat itu, pria paruh baya itu, duduk dipinggir dek ketika kapal yang ditumpangi dihantam ombak tinggi.

Alhasil, tubuhnya bablas ke masuk ke dalam laut. Beruntung kru kapal dengan sigap segera menolong korban. Sehingga tak sampai tenggelam dan menelan korban jiwa. “Betul, tadi ada penumpang kapal yang terlempar dari kapal saat dihantam ombak,” kata Kasatpolair Polres Probolinggo, AKP. Slamet Prayitno.

Dengam kejadian itu dan kondisi cuaca buruk kali ini, membuat Satpolair Polres Probolinggo dan Otoritas Syahbandar Pelabuhan Tanjung Tembaga langsung mengeluarkan larangan berlayar sementara, bagi perahu nelayan dan kapal penumpang. Larangan akan berakhir jika cuaca sudah normal berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

”Meski petugas gabungan dari otoritas pelabuhan selalu memberikan imbauan tak melaut saat terjadi gelombang tinggi, namun sebagian nelayan dan kapal penumpang masih saja ada yang nekad melakukan aktivitas. Mereka nekad dengan alasan sudah terbiasa,” ungkap mantan Kasatpolair Polres Pasuruan ini.

Kenekadan pemilik kapal dan penumpang ini, diamini oleh Aliman, salah satu warga Pulau Gili Ketapang. Mereka terpaksa kembali ke pulau, meski resiko kapal terbalik dan tenggelam selalu mengancam. “ Meski ombak besar saya tetap pulang ke Pulau Gili. Karena rumah saya memang di pulau itu, jadi sudah biasa,” kata Aliman. (fng/saw)