Petani Kopi Gandeng Komunitas Fotografi

0
233
Salah satu burung yang berhasil diabadikan oleh komunitas fotografi yang digandeng petani kopi di lereng Pegunungaan Argopuro.

Probolinggo (wartabromo.com) – Maraknya perburuan burung liar membuat resah petani kopi di lereng Pegunungan Argopuro. Petani pun menggandeng komunitas fotografi untuk literasi pelestarian keberagaman satwa liar di areal kebun kopi Dusun Pesapen Desa Watu Panjang, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.

Kelompok Tani (Poktan) Rejeki 17, binaan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya menggandeng komunitas 5:am_Photography (fotografer satwa liar Probolinggo), dalam upaya pelestarian keberagaman satwa liar. Salah satu bentuknya adalah dengan memasang papan larangan melakukan aktifitas perburuan di kawasan kebun kopi organik milik poktan itu.

Komunitas fotografi yang digandeng petani kopi di lereng Pegunungaan Argopuro saat mengabadikan gambar satwa di sekitar kebun kopi.

Kemudian ada sosialisasi mengenai manfaat keanekaragaman hayati. Serta identifikasi satwa burung yang menjadi predator alami bagi hama di areal kebun kopi organik yang tercatat seluas 37,2 hektar itu. Melalui pengamatan lebih intens, bisa mendapatkan data yang lebih detail dan valid.

Birdwatching kali ini adalah langkah awal untuk kemudian sebisa mungkin didukung oleh Perdes yang mengacu kepada konservasi satwa liar di dusun ini. Harapannya adalah untuk mengembalikan keberagaman hidupan liar, agar normalisasi rantai makanan tetap terjaga,” ujar Joko Prasetio, anggota 5:am_Photography, Kamis (16/8/2018).

Menurutnya dalam sebuah ekosistem alam yang sehat, sangat erat kaitannya dengan keberagaman berbagai jenis hidupan liar di dalamnya. Ketika ekosistem ini terusik, maka satwa didalamnya akan meninggalkannya. Dengan begitu proses rantai makanan didalamnya pun akan terganggu, bahkan putus atau rusak.

“Jika burung sebagai predator alami tidak betah disini, maka pertumbuhan serangga hama pada tanaman kopi akan menjadi tidak terkendali,” jelas Cowie, sapaan akrabnya.

Berdasarkan literatur, dengan ketinggian 1.200 mdpl, seharusnya beragam satwa liar, sebangsa burung, mudah ditemui. Namun, nyatanya beberapa jenis burung merbah atau cucak-cucakan, dan jenis zoothera atau punglor, jarang ditemui. Hanya burung yang kurang diminati penghobi saja yang masih sering terlihat. Diantaranya adalah Kaladi ulam (pelatuk), Cipoh kacat (sirpu), Kutilang, Anis sisik (punglor sisik), Wiwik uncuing, Gemak loreng, dan sepah kecil.

“Seharusnya akan banyak kita jumpai disini selain burung kutilang. Selain itu, burung yang sangat umum di habitat perkebunan adalah jenis prenjak juga sudah sulit kita temukan. Sepinya penampakan aktifitas burung di areal perkebunan kopi merupakan indikator awal bahwa ekosistem didalamnya tidak sehat,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Watu Panjang, Kus Junaidi, mengatakan kerjasama itu menurutnya mutlak dilakukan semata-mata untuk memperoleh kualitas kopi arabika organik yang telah dikembangkan sejak tahun 2016 lalu.

“Kami berharap melalui sinergi ini kami mampu mengupayakan pelestarian satwa liar di sekitar perkebunan kopi organik kami. Khususnya pada jenis burung yang menjadi musuh alami pada hama kopi,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Kecamatan Krucil Sutrisno. Ia menuturkan pihaknya akan mensuport giat konservasi ini, karena nantinya warga masyarakat lah yang akan langsung merasakan sisi positifnya.

“Komoditas kopi Arabika organik ini tidak hanya menjadi harapan warga Desa Watu Panjang saja, tetapi juga harapan Pemerintah Kabupaten Probolinggo untuk mendongkrak perekonomian warga masyarakatnya,” kata pria berkumis tebal ini. (cho/saw)