Kelirumologi Pasuruan Maslahat

0
161

pasuruan maslahatPasuruan (wartabromo) – Sejak mula ingin menulis, saya menelepon Gus Taufik. “Gus, apa bisa jelaskan apa makna maslahat ?”. Bukan tanpa sebab, saya menelepon untuk konfirmasi. Sepatah kata bahasa arab itu disisipkan beliau dalam visi misi Bupati Irsyad Yusuf, dulu menjelang Pilkada 2013. Maka, saya tak boleh bertanya pada kamus. Tetapi harus tanya langsung, alasan kata itu dijadikan kata sakti. Takdir Sang Maha Kuasa kemudian berpihak pada kemenangan pasangan nomer 4,  Gus Irsyad dan Mas Gagah melenggang menang jadi pemimpin Kabupaten Pasuruan. Maka sebiji kata maslahat itu layak ditanya ulang.

Harapan dapat jawaban manis seketika buyar. Dari seberang sana, di ujung telepon, Gus Taufik menjawab sekenanya. “Kata maslahat itu terinspirasi dari nama tetanggaku yang bernama Maslahah. Dia seorang penjual kue weci dan tempe menjes”. Sejurus saya menolak jawaban itu. “Lho, jawabannya kok gitu Gus ?”. Tapi sekretaris NU ini menggebu menjawab serba yakin. “Lho iya, Yuk Maslahah itu berjualan gorengan di dekat pondok. Dengan upaya itu dia dapat menghidupi keluarga serta menyekolahkan anak-anaknya”. Sambil menyudahi teleponnya, Gus Taufik mengatakan nanti lain waktu kita diskusi lagi katanya.

Agak aneh memang. Saya serius bertanya pada si pencetus kata Maslahat  mewujud konsep cita-cita Bupati Pasuruan sebelum menjabat. Dapatnya jawaban yang aneh. Apakah kiranya, kini dia tak lagi peduli, kata itu sudah menyebar jadi slogan langganan pejabat, pada setiap perhelatan kedinasan di Kabupaten Pasuruan. Agaknya kini segala hal terasa kurang adhol tanpa menyertakan simbol maslahat dalam setiap kegiatan.

Mulanya sederhana. Usai Bupati dilantik, RPJMD dirumuskan. Tim Ahli dari akademis bersama Bappeda mengawinkan pola pembangunan dengan visi misi Kepala Daerah terpilih yang sudah disuarakan lewat janji kampanye. Jadilah kemudian setangkai cita-cita elegan : Menuju Kabupaten Pasuruan Yang Sejahtera Dan Maslahat. Uniknya, sebagai slogan baru merk Pak Bupati, seketika ditiru dalam banyak ucapan oleh sekian banyak pegawai. Para Kepala Dinas merasa lengkap sebagai manajer SKPD jika selalu menyebut maslahat dalam setiap laporan pidatonya. Bahkan tak jarang para pejabat berpuisi dan kidungan menyitir kata maslahat sebagai kata unggulan di depan Bupati.

Tak cukup di situ, setiap semboyan yang muncul di spanduk dan poster, nyaris tak lupa mengikutkan maslahat dalam rombongan kalimatnya. Tak urung maslahat beredar di mana-mana. Pertanian yang maslahat. Tenaga kerja yang maslahat. Pendidikan yang maslahat. Koperasi dan UKM yang maslahat. Kesehatan yang maslahat. Perijinan yang maslahat. Kesatuan Bangsa yang Maslahat, bahkan hingga Satpol PP yang maslahat pula. Maslahat kayak kata Syariah, menjadi ungkapan untuk memperjelas nilai-nilai agama dalam satu lembaga atau kegiatan. Bank Syariah. Pengadaian Syariah. Laundry, bahkan jika perlu perceraian Syariah diramaikan pula.

Jika mengintip secara harfiah, pemaknaan maslahat sebagai upaya yang berfaedah dan membawa nilai kebaikan. Meski pun saya merasakan getaran ogah, pegawai agak malas menggunakan semboyan ini. Karena dirasa terlau berbau santri, namun terpaksa digunakan karena perintah Bupati. Hingga kemudian, muncullah akronim Maslahat (Maju, Aman, Sehat Lahir-batin, Adil dan Bermartabat). Pokoknya segera saja kemudian maslahat jadi merk baru gerakan setor muka kinerja pejabat pada Bupati secara tersirat menjadi pemilik sah merk ini.

bupati pasuruan irsyad

Hanya saja niscaya, cita-cita akan maslahat itu sudah terpenuhi, atau hanya muncul sebagai kata pelengkap penderita. Jika merujuk pada maklumat awal alangkah hebatnya. Maslahat menandai harapan tata kelola pemerintahan profesional, transprasan dan responsif. Maslahat mendorong SDM cerdas dan berdaya saing. Maslahat mengisyaratkan peningkatan kualitas pendidikan formal dan pondok pesantren. Maslahat mengajukan mimpi layanan kesehatan bermutu dan murah. Maslahat menegaskan sejahtera ekonomi rakyat. Hingga akhirnya maslahat menjamin rasa aman kehidupan sosial. Karena kunci maslahat sudah membuka pintu perubahan. Segala gaya lama yang monoton dihapuskan. Berubah semangat baru penuh gempita meraih hal baru pula.

Filosofi Yuk Maslahah penjual gorengan ibarat benar. Ia berdedikasi menolong keuangan keluarga keluarga sebagai bagian dari kinerja ekonomi. Ia membanting tulang demi sekolah anak-anaknya, adalah wujud tanggung jawab pendidikan terhadap generasi muda. Agaknya, maslahat perlu ditinjau ulang agar mencapai tujuannya. Memasuki tahun ke-2 pemerintahannya Bupati Pasuruan harus tegas mengevaluasi kinerja setiap SKPD. Setahun waktu lebih telah berlalu, adakah kiranya kata maslahat yang sudah tersebar itu berujung pada harapan maslahat sesungguhnya. Ataukah hanya merk di luar kemasan. Isinya tak berkualitas setara judulnya. Karena kata maslahat berbalik kata dengan mudharat. Artinya, kemunduran dan tidak membawa faedah kebaikan. Kalo ternyata kejadian terjadi sebaliknya, sebaiknya direview ulang.

Maslahat itu pesan rakyat. Seperti halnya Pak Jokowi bermimpi Indonesia Hebat. Harus ada tolok ukurnya. BBM naik berarti tidak hebat. Harga bakan pokok tak terkendali berarti tidak hebat. Anggaran pendidikan kacau, berarti belum hebat. Maka kata maslahat juga bernasib sama. Harusnya bukan sekedar tersembul dalam spanduk dan sambutan. Tapi bukti banyak rakyat bicara bahwa ia merasakan sentuhan kemaslahatan itu. Bahwa memang benar maslahat itu mulai membumi di Kabupaten Pasuruan, setidaknya perlu dibuktikan lewat program Desa Maslahat, yang kini entah sampai di mana. Untuk kemudian maslahat harusnya meranah ke hal apa saja yang terus beranjak jadi manfaat bagi masyarakat. Bukan hanya lewat kata tipuan belaka. Bukan hanya sekedar judul-judulan saja. Karena  terhadap ‘Gerakan Setor Muka’ macam begini Pak Bupati tak mudah percaya. | Akhmad Bayhaqih Kadmi