11:03 - Rabu, 24 Januari 2018
Kamis, 20 Agustus 2015 | 08:19

Berhala dalam Baliho

adipatiAlkisah, Cak Manab, beberapa teman dan saya sedang mengadakan audiensi dengan Bapak Adipati agar suatu kali bisa sharing lebih jauh, diskusi ini-itu serta bekerjasama begini-begitu dengan beliau.

Bertepatan masih ada sisa-sisa moment Idul Fitri, jadi para penjaga “keselamatan” Bapak di pos depan pintu masuk rumah dinas bersikap begitu ramah. Lebih ramah dari hari-hari biasa. Bapak-bapak itu memang selalu bersikap lebih ramah meski maksud kedatangan kami sama dengan tamu lain : Sama-sama minta “sesuatu“ kepada Bapak. Bedanya mungkin, kami ”profesional dan elit”. Jadi dalam dunia “peminta-minta” pun juga ada semacam strata. Memohon dengan proposal hasilnya lebih besar daripada memohon tanpa proposal. Itulah kenapa juga, seorang maling ayam bisa dibakar massa ketika tertangkap, dan seorang super star koruptor malah hendak dianugerahi gelar pahlawan setelah wafat.

Kami bangga karena bisa jlag-jlug masuk ke rumah dinas Bapak Adipati. Kami yang anak petani, makelar multidimensi, pengangguran, guru madrasah, play boy kampus dan penjual pulsa keliling bisa duduk sedekat ini dengan orang nomor satu di kota kami. Bayangkan, tidak main-main bukan?. Hanya saja kesalahannya, kami tidak membawa kamera. Andai kedatangan kami di rumah dinas Bapak ini diabadikan dalam foto lalu digantung di ruang tamu rumah masing-masing, orang akan terkagum-kagum melihatnya. Jadi panjang lebar cerita yang bisa kami deskripsikan kepada orang- orang. Bapak dan Emak pun akan bangga anaknya bisa foto bersama Bapak Adipati. Dengan dirangkul akrab pula. Seorang Adipati kan suka jual mahal ketika sudah terpilih?. Tak seperti ketika hendak mencalonkan diri, seorang tukang becak bermandi peluh pun akan beliau rangkul.

Kami duduk begitu dekat dengan Bapak. Karena saking dekatnya, kami sampai bisa melihat bulu-bulu halus di lengan Bapak. Melihat detail brengos, gigi serta tahi lalat beliau (alangkah tak beradabnya lalat yang berani memberaki seorang Adipati). Ini tho, orang sakti yang katanya bisa “merubah” nasib ratusan, bahkan ribuan orang se –kota itu?. Ini tho orang yang tanda tangannya “bisa” mengubah nasib seseorang secara drastis itu?. Kalau beliau bersin, semua orang akan rebutan memberi saputangan. Kalau beliau turun dari podium, orang akan rebutan menyalaminya. Berbasa-basi dengan senyum dibuat-buat, biar beliau kesengsem, biar diangap loyal dan dianggap puas dengan segenap kebijakan beliau. Biar lekas naik pangkat serta tidak dimutasi meski pulang kantor seenak perut sendiri, biar menang dalam lelang tender proyek, biar mendapat syafaat birokrasi dll.

Setelah ngomong-ngomong sama Bapak, duduk sebegitu dekat –hingga cipratan ludah beliau sampai di wajah kami— ternyata Bapak hanya manusia biasa seperti kita. Ya, benar!. Ternyata, dagingnya ya seperti daging kita juga. Kumis, gigi, kuku bahkan tahi lalatnya, sama. Di alam nyata, bapak Adipati tak segagah fotonya di baliho. Lalu kalau Bapak hanya manusia biasa, ngapain ya orang-orang berebut perhatian dan menganggap beliau semacam dewa?. Kalau suatu pagi Bapak tiba-tiba dikaruniai Tuhan penyakit stroke lalu jabatan diserahkan kepada PLT, apa orang akan tetap bersikap seperti itu sama beliau?.Tetap sopan, penuh ta’dlim dan andhap asor kepada beliaunya?. Kami sendiri, berahlak sebegitu karimah dan ta’dlim sama Bapak bukan dalam rangka lillahi ta’ala.Tapi lisuksesil proposal, lil kepentingan, li suksesil lobi serta segenap rumus simbiosis mutualisma, agar kami bisa saling bertukar kemudahan-kemudahan dengan Panjenenganipun. Jika beliau meng-ACC proposal, menyertakan kami dalam kenduri proyek, mengajak kami “berdiskusi” dan “loyal”, kami takkan demo!. Jangankan demo, kongkalikong dengan wartawan bodrek pun tak akan.

Tapi kalau dipikir-pikir, diam-diam Bapak memang punya kharisma. Buktinya, ketika ngobrol dengan beliau kami tak bisa sembarangan ngomong seperti ketika nggedabrus di warung kopi depan kampus. Tidak ada kata-kata sinis dan kasar. Tidak ada kritik dan saran atau sekedar pesan-kesan. Dan kami selalu setuju dengan segenap konsep-konsep Bapak. Di depan megaphone, di tengah jalan, apalagi di depan kamera media kami bisa bicara ngawur dan sensasional. Di depan megaphone, jangankan camat, presiden pun berani kami hujat.Tapi di hadapan Bapak, kok bisa begini ya jadinya?. Kami kok bisa jadi pendiam dan penurut begini, kami tiba-tiba selalu sepandangan dengan Bapak. Semuanya terkendali!. Beringas kami, minggat entah kemana. Kami kembali pada karakter sebenarnya: penjilat !. Kami juga pernah ketemu dengan seorang raja dari keraton Yogyakarta, pernah foto bersama Wakil Gubernur. Hawanya ya begini. Bisa membuat kami merasa kerdil dan ingin “menyembah”.

Masih tersimpan jelas peristiwa dramatis kedatangan Sang Raja dan Wakil Gubernur. Masih jelas kami rekam detik-detik kedatangan Bapak Wakil Gubernur yang begitu spektakuler. Begitu beliau memasuki forum, segenap orang serentak berdiri. Pasang muka manis-manis, sok akrab meski hanya kenal melalui foto di kalender atau banner menjelang pemilu. Dan terus terang, seorang teman yang kala itu sempat diajak ngobrol oleh Pak Wagub merasa bangga seumur hidup. Semua orang jadi tiba-tiba lupa kalau Pak Wagub pernah membohongi kami saat Pilkada. Seakan kesalahan Bapak menggelembungkan perolehan suara di sebuah dapil di wilayah utara propinsi kami telah dimaafkan semua orang. Berhala datang, semua tersujud-tersujud “menyembah” Sang Berhala dengan kepentingan masing-masing.

Marilah kita baca kembali dua kalimat syahadat untuk meregristrasi iman. Sebab ahir-ahir ini banyak sekali berhala yang tanpa terasa kita ”sembah”. Penulis : Abdur Rozaq

Filed in

Mobil Model Kodok Tanpa Mesin Dilaunching di Bangil

5 Perwira Polres Pasuruan Dapat Posisi Jabatan Baru