07:23 - Senin, 20 November 2017
Minggu, 9 Juli 2017 | 18:01

Tragedi Usum Buwuh

Bulan Syawal, mendadak berseliweran undangan buwuhan. Baik berupa undangan kertas, kertas dibarengi rokok atau mie instant atau sekaligus undangan kertas dan undangan tonjokan. Satu keluarga biasa mendapat undangan buwuhan mulai suami, istri sekalian anak.

Maka, bertambah satu lagi penyebab kekacauan ekonomi yang mendera masyarakat di kampung Cak Manap. Setiap hari, benar-benar setiap hari, Cak Manap tutup warung karena harus buwuh bersama sang istri.

Sebagai seorang tokoh masyarakat, Gus Hafidz hampir tiap saat OTW bersama istri dalam rangka buwuh.

Jika dino becik seperti Jum’at Pon atau Minggu Kliwon, Gus Hafidz bisa buwuh di belasan tempat. Puluhan ribu rupiah setiap terop dan akan berlangsung insya Allah hingga ahir bulan Syawal, sedikit sepi pada bulan Selo dan kembali ramai pada bulan Besar.

Setiap orang semakin kelimpungan mencari dana buat buwuh. Gelang-kalung sudah menginap di pegadaian. BPKB siap-siap disekolahkan. Dan di daerah tertentu yang sekali buwuh bisa jutaan rupiah amplopannya, orang bisa gelap mata dan menimbulkan tragedi sosial seperti meningkatnya angka kejahatan.

PicsArt_07-09-05.43.00

Buwuh bukan hanya soal nyauri umpangan, namun sudah menjadi semacam pamer keguyuban, loyalitas kepada handai taulan dan kenalan. Bahkan, entah di mana, seorang undangan yang tak menghadiri undangan buwuh padahal sudah pernah menerima buwuhan, akan diumumkan melalui sound system hajatan dan penanggung jawab akan datang dengan lagak serta gaya meniru debt collector profesional.

Firman Murtado, sebagai bagian dari masyarakat yang juga terikat oleh nilai-nilai keguyuban sosial, seperti mau pecah kepalanya.

Ajian Rai Gedek tak mungkin ia gunakan ketika yang punya hajat adalah saudara dekat, konco plek atau seseorang yang selama ini rajin memberinya utangan.

Namun, apakah lagi yang bisa ia ihtiarkan? Lapak cukur rambutnya kian sepi karena saingan—para followers, pengekor, penganut aliran latahisme—makin banyak yang mengikuti jejaknya membuka lapak cukur rambut.

Gelang-kalung istrinya, barangkali bisa ia gadaikan? Tidak, Firman Murtado adalah manusia paling tawakkal, tak pernah sempat memikirkan bagaimana ia menimbun harta yang bisa ia gunakan ketika keadaan benar-benar kepepet.

Satu-satunya usaha yang bisa ia lakukan demi mencari uang untuk mendatangi undangan buwuhan adalah, semakin rajin dan semakin menghayati akting melas untuk mencari utangan.

“Kalau boleh usul, para dukun dan tukang suwuk punya sedikit rasa iba kepada masyarakat. Kalau orang mau punya hajat tanya dino becik kepada mereka, jangan semuanya disarankan melangsungkan hajatan pada hari Jumat Pon atau Minggu Kliwon. Kalau bisa, jangan semuanya di bulan Syawal sehingga bikin kepala mau pecah begini,” Rutuk Firman Murtado di warung Cak Manap.

“Benar, cak. Kalau bareng begini, bisa habis gelang, pitik, mentok sak babon-babone. Setiap hari road show dari terop ke terop. Nasi di rumah tak pernah habis karena setiap saat makan rawon di terop-terop,” Sergah Cak Manap.

“Mau bagaimana lagi, wong buwuh sudah kita anggap utang. Andai orang buwuh tidak kita catat berapa isi amplopnya, tidak kita anggap sebagai umpangan, jadinya takkan seperti ini,” Timpal Gus Hafidz.

“Harusnya, buwuh hanyalah sedekah, bukan hutang. Jadi kalau kepepet ndak bisa datang, sanksinya hanya sanksi sosial, bukan sanksi syariat. Kalau sanksi sosial kan, kita bisa nyauri kalau sudah ada rejeki jembar?,”

“Dan, kepada para tukang suwuk dan orang pinter, dengan segala hormat, saya ingin memohon agar jangan bareng-bareng kalau menentukan dino becik untuk melangsungkan hajatan. Semua hari itu baik. Semua bulan baik. Sesekali sarankan orang mengadakan hajatan pada bulan Ramadhan atau bulan Suro, biar buwuhan tidak bareng-bareng seperti ini,” Timpal Ustadz Karimun.

_______
Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo)

 

 

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Lebaran Buyar, Koleng Datang

Tabur Bunga Jeglongan Sewu