Lima Paket Layanan Pro Nelayan

0
268

Probolinggo (wartabromo.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo menyiapkan sejumlah program untuk mensejahterakan nelayan. Setidaknya ada 5 paket layanan pro nelayan yang akan digulirkan nanti. Program ini melanjutkan keberhasilan program pada periode pertama kepemimpinan P Tantriana Sari dan HA Timbul Prihanjoko (HATI) sebagai Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo.

Kelima kebijakan strategis untuk meningkatkan usaha perikanan dan ekonomi pesisir itu, melalui Dinas Perikanan (Diskan). Pertama Program NALIRA ( Nelayan Kecil Sejahtera ). Kegiatan program ini antara lain pelayanan jemput bola pengurusan surat nelayan di titik kumpul nelayan, asuransi jiwa bagi 10.000 nelayan kecil, pengadaan Fish appartment ( pengadaan rumah-rumah ikan ), dan pemberian paket bantuan alat tangkap ramah lingkungan bagi nelayan kecil.

Tahun ini, untuk menjaga ekosistem laut yang rusak, Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Provinsi Jawa Timur menenggelamkan 6 (enam) paket atau 1.260 modul rumah ikan (fish apartement) di perairan pantai utara Kabupaten Probolinggo.

“Setidaknya nantinya bisa menjadi daerah penangkapan (fishing ground) para nelayan. Diharapkan terjadi peningkatan sumber daya ikan dan terjadi peningkatan hasil tangkapan nelayan. Selain itu, ikan yang didapat tergolong ikan ekonomis penting,” terang Kepala Diskan Dedy Isfandi.

Program kedua adalah A3I (Ada Air Ada Ikan). Yaitu suatu program pengembangan budidaya ikan dengan memanfaatkan semua sumberdaya air daratan. Kegiatannya berupa bantuan, pembinaan teknis dan peningkatan usaha pembenih ikan bagi pembudidaya. Kemudian ada penebaran benih ikan di perairan umum, penguatan kapasitas balai benih ikan, dan gerakan usaha pakan mandiri bagi pembudidaya ikan.

Program ketiga adalah Gempari (Gerakan Meningkatkan Usaha Pengolah dan Pemasar Ikan). Bentuk kegiatannya berupa paket bantuan sarana pengolahan dan pemasaran ikan, pembinaan teknis bagi pengolah dan pemasar ikan. Serta memasyarakatkan penjualan berbasis online bagi pengolah dan pemasar ikan.

Salah satu contoh program ini, adalah bisa mengefisienkan dan membuat usaha budidaya lele berkembang pesat. Program Gempari telah menurunkan biaya produksi secara drastis. Dengan pakan konsentrat pabrikan, maka modal yang dibutuhkan Rp 11 ribu per kilogram sementara harga jual Rp12 ribu per kilogram.

“Dengan Gempari, kami latih pembudidaya untuk membuat pakan sendiri. Sehingga biaya produksi turun menjadi Rp 6 ribu per kilogram dengan begitu keuntungan meningkat. Pendapatan yang meningkat maka kedepannya usaha terus bergeliat menjadi kekuatan ekonomi baru,” ujarnya.

Sementara program yang keempat menurut Dedy adalah Garam Kristal (Program Peningkatan Usaha Garam Rakyat). Bentuknya berupa pengadaan rumah garam prisma, pengadaan gudang penyimpanan garam rakyat, dan paket bantuan sarpras garam rakyat. Program ini merupakan kelanjutan dari Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar). Dimana Pugar dimulai sejak 2012 dengan sentra percontohan pada kelompok petani garam Sido Agung di Desa Kebon Agung, Kota Kraksaan.

“Kini setelah penggunaan rumah kaca prisma, petambak garam tetap berproduksi meski berlangsung selama musim hujan. Tak hanya itu, kualitasnya juga bagus dan membuat harga garam lebih tinggi,” kata pria kelahiran Jakarta ini.

Yang terakhir adalah program Kaya Bahari (Kampung Nelayan Menunjang Wisata Bahari). Dedy mengatakan implementasi program itu berupa paket perahu nelayan multi fungsi, paket bantuan peralatan pengolah ikan bagi wanita nelayan, dan pembinaan teknis olahan ikan.

Salah satu contoh adalah usaha ikan asap di dusun Parsean Desa Tamansari, Kecamatan Dringu. “Kami latih mereka untuk mengolah ikan asap. Supaya ada nilai tambah dari sumber daya alam yang sudah ada,” tandasnya. (saw/**)