Becik Ketitik, Olo Tibomu

0
61

Dari perempatan sana, derung knalpotnya sudah terdengar. Karena selain brong, juga dibleyer-bleyer persis gergaji mesin. Hanya sekitar seratus meter melaju, setidaknya membuat tiga orang misuh-misuh. Cak Bakri misuh karena hampir celaka kena pepet. Wak Takrip misuh karena ia memotong jalan seenaknya. Mas Bambang, misuh karena kaget dibleyer. Mas Bambang mungkin dianggap kurang menepi ketika naik motor, maka diberi peringatan dengan dua kali bleyeran.

Di jembatan dekat warung Cak Manap, pemuda bertindik dan berambut semiran itu tak bisa mengendalikan laju jaran Jepangnya karena terlalu kencang. Bruakk!!! Byur!!! Ia jungkir walik ke sungai, lalu motornya menimpa tubuhnya. Aneh! Orang-orang diam tak bergeming. Arif khusyuk main sekak. Cak Tofa sibuk ngucut remi. Cak Doper menikmati rokoknya seperti pecandu.

Metingkrang di atas amben persis di atas pemuda itu main lumpur. Semua pelanggan warung anteng seperti habis kena serangan fajar saat pilkades. Apalagi Cak Manap, tetap sibuk ngaduk wedang kopi. Padahal pemuda itu gulung kuming hanya satu setengah meter di bawah mereka.

images (49)-650x400

 

Dangdut koplo tetap mengalun dari speaker active warung Cak Manap, sementara pemuda itu mulai gleceran getih dan klepek-klepek di antara popok bayi yang memenuhi sungai. Lagu dangdut koplo “Kapokmu Kapan” mengalun berdentum-dentum seperti nggak duwe duso.

Ustadz Karimun hendak bangkit untuk menolong, Firman Murtado menarik tangannya. Baru kemudian Wak Takrip pelan-pelan mendekat ke bibir sungai. Melongok santai seraya berkata…

“Ati-ati tibo, le.”

Arif tergelitik dengan Wak Takrip. Ia mendekat juga ke bibir sungai. Ia bawa kopinya. Menyulut rokok, lalu kebal-kebul seraya asyik melihat pemuda itu berjuang menaikkan motornya. Seorang diri! Agak lama Wak Takrip dan Arif duduk di bibir sungai menyaksikan pemuda itu membilas luka-luka hampir di sekujur tubuhnya, mencari-cari sandal serta berjuang keras menaikkan motornya dari dalam sungai. Sementara lagu Kapokmu Kapan makin menggelegar, Firman Murtado yang menaikkan volume speaker active warung.

Aneh, semua orang yang lewat tak ada waktu untuk gotong royong mengangkat motor protolan itu dari dalam sungai. Para perempuan pun, tetap petan-petan di teras rumah Cak Manap.

Ustadz Karimun kembali mau bangkit untuk menolong, pura-pura di-duduhi gegeman sama Firman Murtado.

“Ayo ditolong, kok diam semua sih?” katanya.

“Becik ketitik, olo tibomu, ustadz.” Jawab Firman Murtado.

“Kepalanya berdarah, mas. Bisa pingsan nanti.”

“Belum, kok. Nanti saja kalau sudah pingsan.”

“Wah, ndak bender ini.” Kata Ustadz Karimun seraya mulai menaikkan sarungnya, hendak bertindak.

“Ustadz, airnya kotor lho, meski lebih dari dua qullah tapi sudah berubah begitu. Banyak sampah lagi. Najis itu.” Ustadz Karimun sedikit ragu, eman sarungnya. Sementara pemuda itu terus berjuang keras menaikkan motor protolannya seperti peserta Ninja Tsasuke, game Jepang yang ekstrim itu.

“Biar jadi pelajaran, ustadz. Biar kita sadar kalau banyaknya korban kecelakaan lalu lintas itu bukan hanya salah pemerintah membiarkan jalan berlubang. Ya orang-orang seperti dia yang menjelek-jelekkan pemerintah. Pemerintah sudah kerja keras memasang banner peringatan jalan berlubang, ngebruk jalan berlubang dengan sirtu, menilang pengendara yang tak punya SIM, mengobrak balapan liar, mencetak banner larangan pakai knalpot brong. Banyaknya kecelakaan lalu lintas, ya orang-orang seperti itu salah satu penyebabnya. Mengendara suka ngebut, pakai knalpot brong, tak pakai lampu motor, tak pakai spion atau lampu sign. Sudah ngebut, zig-zag lagi. Nanti kalau nabrak orang akan lari. Dijotosi lapor polisi. Dibengok njotos. Balapan di gang, dilarang mau ngeroyok.”

“Tadi di perempatan sana, Wak Takrip dipepet sampai mau jatuh. Anak ini tiap hari lewat sini, kok. Kenapa semua orang diam, karena hampir semuanya pernah hampir celaka dibuatnya. Bukannya tidak berani menegur. Nanti kalau menegur bisa jotosan. Kalau di kalah teman-temannya akan datang bawa bondet atau minimal celurit. Dia itu pembalap memang, makanya setiap ruas jalan dianggapnya sirkuit.”

“Mana HP sampeyan? Tak pinjam sebentar.” Kata Ustadz Karimun.

“Buat apa, nggak ada pulsanya, ustadz.”

“Tak shooting.”

Beberapa hari kemudian adegan gulung kuming itu jadi viral. Diam-diam Arif mem-bluetooth “film dokumenter” karya Ustadz Karimun itu lalu mengunggahnya ke dunia maya.

Penulis : Abdur Rozaq/wartabromo