Saat Buku Budaya dan Pariwisata Kota Pasuruan “Hilang” di Perpustakaan

1365
Seorang bocah melihat koleksi foto-foto di salah satu ruangan Perpustakaan umum Sekargadung, Sabtu (22/9/2018). Foto: Putri
Sebagai sarana penggalian informasi, perpustakaan umum di Kota Pasuruan, sepertinya harus mendapat perhatian. Pemerintah sebagai penyedia akses untuk ketersediaan informasi, sepatutnya segera mencari jalan (formula), agar fasilitas dan ragam koleksi buku lebih disempurnakan sehingga kian mendorong budaya membaca warganya.

Laporan : Ardiana Putri

MENCOBA mengukur tingkat literasi di Kota Pasuruan, ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Perpustakaan, sebagai obyek penting untuk mengetahuinya, justru menunjukkan hal mengejutkan. Bisa dibilang fasilitas, sarana prasana perpustakaan Kota Pasuruan kurang mendukung, bahkan tidak nyaman.

“Mengunjungi perpustakaan Kota Pasuruan di jalan Pahlawan samping Taman Kota Pasuruan, sebenarnya membuat saya malas. Tapi bagaimana lagi, saya harus melakukannya untuk penyelesaian proposal tesis saya,”

Begitu curahan hati Rizki Amalia Putri, mahasiswa Pascasarjana Jurusan Seni Budaya Universitas Negeri Surabaya.

Sabtu, 22 September 2018 pukul 10.15 WIB, Rizki memasuki bangunan sederhana bercat cokelat itu. Tampak sepi pengunjung, hanya ada dua petugas perpustakaan dan satu pengunjung yang tengah membaca sebuah buku koleksi perpus.

Setelah mengisi buku pengunjung, Rizki langsung menanyakan letak keberadaan buku yang ia cari. “Buku tentang pariwisata dan kebudayaan Kota Pasuruan di sebelah mana, Bu?” tanya Rizki pada petugas perpustakaan.

Lalu ia bergegas menuju rak yang telah ditunjukkan. Setelah memilah satu demi satu, buku-buku di rak koleksi sejarah, Rizki tak menemukan buku yang ia cari. Sedikit kecewa, katanya.

“Tidak ada ruang atau tempat khusus membaca, WiFi juga tidak tersedia,” keluhnya.

Seorang pengunjung Perpustakaan umum Sekargadung, melihat sebuah buku yang akan dibacanya. Sabtu (22/9/2018). Foto: Putri.

Buku-buku sudah tampak lusuh dan tak sesuai tempatnya. Tampak kursi-kursi yang tak tertata rapi. Begitu perempuan berhijab ini menggambarkan suasana perpustakaan Kota Pasuruan.

Atas saran dari petugas, Rizki pergi ke perpustakaan Sekargadung.
Perpustakaan yang berlokasi di Taman Sekargadung itu ternyata juga milik Pemkot Pasuruan. Diresmikan 7 Februari 2018. “Saya takjub,” kata Rizki setelah berkeliling di perpus Sekargadung. Fasilitasnya cukup lengkap. Musala yang besar dan konstruksi bangunan yang unik, membuat Rizki betah berlama-lama di sana.

Sama seperti dirinya, mungkin banyak pula warga Kota Pasuruan yang belum mengetahui jika pemkot sudah memiliki perpus baru. Lokasinya pun strategis, dekat beberapa sekolah dan kampus. Tapi keberadaannya tak terlihat dari jalan raya sehingga terkesan menyempil.

Sama seperti Rizki, Siti Nurjanah, mahasiswa IKIP Pasuruan yang sedang mencari buku, juga mengaku cukup puas dengan pelayanan di perpus Sekargadung. Ini juga pertama kalinya ia ke sana.

“Dilihat dari data statistik, pengunjung per bulan semakin meningkat. Minat baca di sini semakin tinggi,” terang Taufiqus Sholeh, petugas perpustakaan Sekargadung sambil menunjukkan data pengunjung.

Sayangnya, Rizki lagi-lagi tak menemukan buku yang ia cari di antara 5.500 koleksi buku yang ada di sana.
Sholeh mengatakan, bahwa bisa jadi buku yang Rizki cari tidak dipajang di rak koleksi, tapi diarsipkan. “Mungkin bisa kembali besok mbak, ketemu pustakawannya langsung,” ujar Sholeh.

Rizki merasa kian kecewa untuk kesekian kalinya. Ternyata ia tak dapat meminjam buku hanya karena ia berdomisili di Kabupaten Pasuruan. “Saya hanya boleh membaca di sana,” keluhnya dengan nada kecewa.

Harapan pun ditimpakan, agar koleksi buku seperti yang coba dicari mahasiswa Pascasarjana itu tersedia.

Jadi, bagaimana bisa mengukur tingkat literasi, atau lebih sederhananya, mengetahui sampai sejauh mana minat baca warga Kota Pasuruan, sementara sejumlah fasilitas untuk kenyamanan sekaligus koleksi buku perpus masih kurang. (*)